Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Sikap dingin norin


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Shin, Norin serta keluarga harus meninggalkan rumah Abah serta pondok pesantren untuk kembali pulang ke kampung halaman Norin karena Bu Aminah ingin mengadakan syukuran juga di rumahnya. Norin memeluk umi Husna dengan erat lalu menyalami Abah dengan tak'jim. Begitu pula dengan Shin, ia menyalami Abah dengan dengan tak'jim


"Saya titip Inay ya nak Shin, tolong jangan pernah sakiti hati serta fisiknya."


"Pasti, saya tidak akan pernah menyakitinya Abah."


Abah tersenyum."saya percaya sama nak Shin."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang jadwal keretanya satu jam lagi," ucap Rizal.


Kemudian semua memasuki mobil. Rizal duduk di jok paling depan, Syifa serta Bu Aminah di jok paling belakang sementara Shin dan Norin duduk di jok tengah. Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat dimana Shin menimba ilmu agama selama dua bulan ini. Dan tempat dimana Shin bertemu dengan Norin lalu menikah. Sebuah tempat yang tidak akan pernah Shin lupakan sepanjang hidupnya. Tiba di stasiun, mereka turun dari mobil lalu memasuki area stasiun. Karena tiket sudah di pesan oleh Rizal sebelumnya jadi mereka tinggal menunggu pemberangkatan saja. Shin melirik pada istrinya yang sedang asik mengobrol dengan Syifa. Sepanjang jalan hingga stasiun sang istri mendiaminya. Rizal yang melihat sang kakak ipar yang di diami oleh sang kakak merasa kasian juga.


"Sabar ya kak, Rizal yakin tidak akan lama."


Shin tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, kereta yang mereka tunggu datang juga. Norin berdiri dan hendak menggeret kopernya namun kopernya terlebih dahulu di pegang oleh Shin.


"Biar saya saja yang membawanya."


Norin tidak bicara sepatah kata pun, Ia ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Shin yang membawa dua koper besar. Shin duduk di samping Norin, ia melirik ke arah istrinya yang sedang menatap ke arah jendela kaca di sampingnya. Dengan memberanikan diri Shin memegang punggung tangan istrinya yang tertumpu di pahanya. Norin tersentak lalu segera menarik tangannya dari genggaman Shin.


"Ma...maaf!"


Norin tidak menghiraukan permohonan maaf dari sang suami, ia tetap acuh tidak mempedulikannya. Shin merasa tidak enak hati telah berbuat lancang pada istrinya meskipun sebenarnya tidak ada yang salah karena Norin sudah menjadi pasangan halalnya. Kereta mulai melaju meninggalkan stasiun. Sepanjang jalan Shin dan Norin terdiam dan tidak ada obrolan sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka hingga Norin tertidur dan menyenderkan kepalanya di jendela. Shin memberanikan diri mengangkat kepala Norin lalu di rebahkan di bahunya.


Setelah memakan waktu delapan jam akhirnya kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun paling akhir. Sebuah pengumuman pemberitahuan bahwa kereta sudah tiba di tujuan akhir pun terdengar. Norin tersentak kaget terlebih ia tertidur di bahu sang suami. Norin segera meluruskan duduknya.


"Ma....maaf saya tidak sengaja."


Shin tersenyum tipis." it's okey."


Mereka bergegas keluar dari kereta.


"Dengan apa kita akan melanjutkan perjalan lagi ? tanya Shin.


"Dengan angkutan umum kak,"jawab Rizal.


"Apa di sini tidak ada orang yang menyewakan mobilnya untuk mengantar kita hingga sampai rumah?"

__ADS_1


"Ada kak, tapi sewanya mahal."


"Kayak kamu ngga tau aja siapa kakak ipar mu Zal." Syifa menimpali.


Rizal menggaruk tengkuknya sembari nyengir.


"Ya sudah kamu cari sewa mobil saja Zal, kau cari mobil yang berukuran cukup besar agar istriku ini tidak merasa kesusahan untuk bergerak."


"ehem...ehem..!"


Sementara Norin hanya menundukkan wajahnya.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar." Rizal bergegas mencari sewa mobil.


"Bagaimana kalau kita mencari restouran dulu sebab Norin belum makan apa pun di kereta."


"Tidak, saya tidak lapar."


"Kamu serius nak tidak lapar?"


"iya Bu, saya tidak lapar."


Shin hanya tersenyum tipis."ya sudah kalau tidak mau."


Mereka bergegas menghampiri mobil yang sudah menunggu bersiap mengantar mereka hingga sampai rumah. Di perjalan menuju kampung halaman Norin masih saja diam membisu hingga mereka tiba tepat di depan rumah Bu Aminah. Tak sedikit tetangga kampung menyambut kehadiran mereka namun Norin hanya tersenyum lalu bergegas memasuki rumahnya. Tubuh yang terasa letih membuat Norin tidak ikut bercengkrama dengan para tetangga. Shin menyusul Norin masuk ke dalam rumah.


Shin meletak kan dua koper di pojokan lalu melihat istrinya sedang rebahan di ranjang kecil miliknya.


"Apa kamu lelah? mau aku pijit?"


"Tidak terima kasih."


Shin tersenyum tipis lalu beranjak dari kamar menuju dapur. Ia berinisiatif untuk memasak air panas untuk Norin mandi. Setelah mendidih ia menuangkan air panas itu ke dalam bak besar lalu mencampurnya dengan air dingin.Tinggal di pondok membuat Shin cekatan mengerjakan segala sesuatunya mulai dari hal kecil hingga hal besar. Shin kembali memasuki kamar Norin.


"Saya sudah menyediakan air hangat untuk kamu mandi, sebentar lagi mau magrib mandilah pasti tubuhnya terasa lengket mumpung airnya masih hangat."


"Terima kasih." Norin bangkit dari ranjangnya, tidak mungkin ia menolak atas apa yang sudah di kerjakan oleh suaminya dengan susah payah. Ia berjalan melewati suaminya yang berdiri mematung di ambang pintu. Shin menggeser tubuhnya memberi jalan pada sang istri untuk melintas. Seulas senyum tersungging di bibir Shin melihat punggung sang istri yang sedang berjalan ke arah kamar mandi.


Menjelang magrib, Rizal menggelar tikar lalu memasang beberapa sajadah di atasnya karena Maghrib ini mereka akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

__ADS_1


"Silahkan kak Shin yang menjadi imamnya," titah Rizal. Shin tertegun mendengar perintah dari Rizal.


"Ka...kamu saja zal, saya belum terlalu fasih."


"Nak Shin, kami percaya nak Shin pasti bisa menjadi imam sholat untuk kami."


"Ba..baik Bu, dengan ragu Shin mengikuti keinginan keluarga barunya untuk menjadi imam sholat.


Shin memejamkan matanya lalu membaca bismillah dalam hati. Setelah itu, ia mulai melaksanakan sholat berjamaah hingga selesai. Bu Aminah terisak menangis di tengah doanya. Syifa dan Norin melihat ke arah sang ibu yang sedang terisak. Syifa memegang tangan sang ibu lalu menggenggamnya.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Syifa lalu mengusap air matanya.


"Ibu bahagia Syifa ibu terharu. Akhirnya Adikmu mendapatkan jodohnya di usianya yang ke tiga puluh tahun dengan sosok pria yang baik, bertanggung jawab dan juga Sholeh. Sesuai dengan apa yang selalu ibu pinta kan pada Allah."


Syifa memeluk sang ibu sementara Norin menengadahkan wajahnya ke atas agar cairan bening yang sudah menumpuk di kedua matanya tidak tumpah.


Pukul sembilan malam, setelah mereka selesai melaksanakan sholat isya serta makan malam, Norin beranjak dari hadapan keluarganya untuk memasuki kamarnya. Rasa kantuk sudah menyergap di kedua matanya.


"Rin, apa tidak sebaiknya kamu tidur di kamar tamu saja yang yang lebih luas Rin."


Norin tersenyum tipis."Tidak apa apa Bu, lagi pula Norin kangen sama kamar Norin."


"Tapi Rin....?"


Norin beranjak pergi sebelum sang ibu meneruskan ucapannya. Bu Aminah khawatir sekali dimana nanti sang menantu akan tidur sementara ranjang tidur Norin sangat kecil dan hanya memuat untuk satu orang saja.


"Tidak apa apa Bu, kalau begitu saya mau masuk ke kamar dulu," ijin Shin.


"I..iya nak Shin, silahkan."


Shin memasuki kamar Norin lalu ekor matanya melihat pada sang istri yang sudah memejamkan matanya.


"Kamu tidur di kamar tamu saja di sini tidak muat," ucap Norin tiba tiba namun matanya masih terpejam.


Shin tersenyum."Tidak, saya mau tidur di sini saja. Bukan kah pasangan yang sudah menikah itu tidak boleh pisah kamar?"


"Terserah." Norin menarik selimutnya hingga batas lehernya.


Ekor mata Shin melirik pada sebuah karpet di pojokan kamar lalu Shin menggelar karpet itu di bawah ranjang. Norin memberikan satu bantalnya pada Shin.

__ADS_1


Shin tersenyum."terima kasih." lalu merebahkan tubuhnya di karpet tersebut.


Maaf ya kakak, author tidak mampu update lebih dari satu bab sebab dalam tiga hari ini author dalam keadaan tidak sehat.🙏


__ADS_2