
Hari sudah menjelang sore dan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah setelah merasa lelah. Namun, di perjalanan menuju pulang, mereka berpapasan dengan Bu Sum, yang baru saja kembali dari warung.
Wanita kurus itu berjalan sambil memalingkan wajahnya seolah olah ia tidak melihat ada orang yang dia benci dari dulu tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Meskipun begitu, Norin masih saja menyapanya.
"Bu Sum abis dari mana?" tanya Norin pada wanita yang tengah berjalan sambil memalingkan wajahnya ke samping kiri.
Bu Sum tidak menjawab pertanyaan Norin seolah olah ia tidak mendengar.
" buat apa kamu menyapa orang jelek dan sombong seperti dia? udah jelek sombong miskin lagi," ucap Shin tiba tiba dengan suara keras. Ia kesal pada wanita itu, dari kejauhan pun sudah nampak betapa sombong dan angkuhnya wanita itu.
Norin mencubit lengan Shin, ia merasa tidak enak jika di dengar oleh wanita itu. Namun percuma saja, Bu Sum sudah mendengar ucapan pedas Shin, ia melirik tajam dengan ekor matanya lalu berkacak pinggang.
"apa anda bilang hah? ngatain saya miskin, apa anda tidak tau keluarga si perawan tua ini dulu hidupnya jauh lebih miskin dari saya?" Bu Sum menghardik Shin dengan mata melotot seperti hendak keluar semua.
"cih, apa hubungannya membahas masa lalu keluarga kekasih saya? meskipun mereka miskin setidaknya mereka masih punya hati yang bersih tidak seperti anda sudah miskin sombong lagi." ejek Shin.
Bu Sum semakin marah, mukanya merah dan dadanya naik turun.
Sebelum Bu Sum berbicara lagi Norin segera menarik paksa tangan Shin, menjauhkan ia dari wanita yang tengah marah itu.
"jangan membuat masalah di kampung ini, kalau tuan mau bikin masalah kayak tadi lagi, lebih baik tuan pulang saja sekarang." Norin tidak suka pada sikap Shin yang kurang sopan pada orang yang lebih tua.
"im sorry, tadi saya hanya emosi saja. ya sudah yuk kita pulang." Shin menggandeng tangannya dan ia membiarkan saja tangan itu ditautkan dengan tangannya.
Sampai tiba di rumah mereka di sambut oleh dua anak kecil yang telah menunggu mereka dari tadi di teras rumah.
"Tante Norin sama om dari mana sih dari tadi kita nungguin lho!" ucap Naya dengan wajah di tekuk.
"iyaa, Tante dari mana sih kita udah lama lho dari tadi di sini nungguin Tante !" Hasbi menyahuti.
"duuhh maaf ya, Tante kan ngga tau kalau ada kalian di sini, Tante sama om mau masuk dulu ya mau mandi, kalian main aja dulu disini jangan jauh jauh okey?"
"okey Tante!"
Kemudian Norin dan Shin masuk ke dalam rumah dan mendapati ibu serta kakaknya tengah ngobrol di ruang tamu.
"kamu bawa bos mu kemana aja Rin, lama amat?" tanya sang ibu.
"abis jalan jalan sekitaran sini aja Bu!"
Diva memperhatikan pria tinggi tegap yang berdiri di samping adiknya, Norin. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat pria tampan sempurna seperti dirinya Shin. Bu Aminah sudah menceritakan siapa itu Shin? jujur ia merasa iri pada adiknya Norin bisa dekat dengan seorang pria asing yang tampan serta seorang bos besar.
"Oia kak diva udah dari tadi disini nya?" tanya Norin pada wanita yang tengah memandangi Shin dengan kagum.
"oh, ya lumayan sekitar dari dua jam yang lalu."
"oh, Oia tuan Shin, ini kakak pertama saya, mamanya dua anak kecil tadi." Norin memperkenalkan Shin pada diva.
"hai, selamat sore !" ucap Shin sambil membungkuk kan sedikit tubuhnya.
"se..selamat sore tuan shin." jawab diva dengan gugup.
"tuan, sebaiknya tuan istirahat saja di kamar atau mau saya buatkan kopi?"
"kamu mau kemana ?"
"saya mau masak untuk makan malam nanti."
"apa sebaiknya kamu ngga usah masak, malam ini kita makan di luar saja bagaimana?"
Norin terdiam.
__ADS_1
"iya tuan Shin, kita mau makan di restouran. kali kali di traktir sama calon kakak ipar." Rizal menyahuti sembari kedua tangannya menggandeng dua bocah.
"asik, makan di restouran....." teriak Hasbi.
"hore...Naya juga mau ikut makan di restouran."
Norin mengerutkan dahinya, ia merasa tidak enak pada bos nya atas tingkah keluarganya yang terkesan kampungan.
"kalian pede sekali, siapa yang mau traktir kalian makan di restouran?" ucap Norin dengan wajah di tekuk.
Shin melirik pada wanita yang tengah cemberut lalu tersenyum tipis.
"tidak usah menghiraukan kata kata Tante kalian, saya serius akan traktir kalian makan di restouran yang paling bagus di daerah ini. kalian bisa makan sepuasnya nanti."
"horee....!" teriak dua bocah itu dengan girang.
Kemudian Shin masuk ke dalam kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. jalan jalan di kampung dengan jalanan batu kerikil, tanah merah dan naik turun merupakan pengalaman baru baginya.
"yaudah kalian semua sekarang mandi dulu bentar lagi magrib lho!" ucap Bu Aminah pada kedua cucunya.
"tapi kami ngga bawa baju ganti nek!"
"yaudah kalau gitu kalian mandi di rumah aja, nanti abis magrib kita kesini lagi." usul diva.
Kedua anak itu mengangguk. kemudian mereka pulang setelah berpamitan dengan Bu Aminah.
Dua buah tangan melingkar di pinggang wanita cantik yang sedang membuat kopi. Norin tau tangan itu milik siapa? dan ia membiarkannya saja.
"lagi buat kopi."
"untuk siapa ?" tanya Shin penasaran padahal ia sendiri tidak memesannya.
Shin melepaskan pelukannya, langsung mengambil cangkir yang berisi kopi hitam.
"lho tuan, mau di bawa ke mana?"
"kopi ini untuk saya, untuk apa kamu buatkan kopi untuknya ? kamu bukan pembantunya."
"tapi tuan, itu .....!"
"sudah, jangan membantah. saya tidak suka dan jangan lagi lagi tanganmu itu membuatkan kopi untuknya,"ucapnya tegas lalu berjalan dan meletakan kopi tersebut di atas meja.
"wanginya harum sekali." gumam Shin pelan.
Shin mengendus aromanya lalu menyeruput kopi itu dengan pelan.
Byuuurrr..
kopi hitam yang ia seruput itu di semburkan nya kembali.
Ha ha ha ha....
Norin tertawa kencang, menertawakan tingkah bos nya yang ia anggap lucu. Sementara di balik meja makan, Shin menatapnya dengan tatapan tajam.
"kenapa kamu menertawakan saya? apa kamu sengaja membuatkan kopi hitam ini untuk mengerjai saya?" Shin kesal pada Norin.
Norin menghentikan tawanya setelah bos nya itu marah padanya.
" lho kok tuan nuduh saya seperti itu? tadi kan saya sudah bilang kalau kopi itu untuk sopir bukan untuk tuan, terus kenapa tuan nyalahin saya?"
Shin kesal dengan ocehan Norin, lalu ia bangkit dan berjalan mendekati Norin yang masih berdiri. Norin tau apa yang akan bos nya lakukan padanya ketika tengah marah.
__ADS_1
Norin segera menghindar dari Shin, namun tangannya terlanjur di cekal dan di tarik oleh pria yang tengah marah itu. Dalam dekapan Shin, Norin tidak berontak ia takut pria itu semakin marah dan menciumnya dengan kasar.
Shin mendaratkan bibir tipisnya pada bibir wanita yang sedang ia peluk dalam diam. Me lu mat nya perlahan dan lembut namun lama lama menuntut. Norin menurut saja, ia tidak mau bibirnya di gigit kembali oleh Shin maka ia pun membuka sedikit kedua bibirnya seolah olah memberi celah pada pria itu untuk menelusuri rongga mulutnya. lagi dan lagi Norin seperti terhipnotis oleh mata sipit dan bibir tipis milik pria itu. Ia tidak berontak melainkan merespon ciuman itu. Lidahnya saling berbelit, mengecap dan bertukar saliva. Dua duanya terhanyut oleh perasaannya masing masing dan Norin sendiri melupakan yang namanya dosa. Mereka melepaskan pagutan nya setelah merasa kehabisan nafas. Shin menangkup wajah Norin lalu menatap dalam sorot mata bulat itu.
"l love you, i love you so much ever and forever..!" Shin mengecup kening wanita itu dengan lembut dan lama. Norin memejamkan matanya, ia terhanyut atas perlakuan manis pria itu.
"cepatlah berganti pakaian serta dandan yang cantik, kita akan pergi dinner bersama keluarga mu malam ini." ucap Shin pada wanita yang tengah menunduk malu.
Norin mengangguk, kemudian beranjak pergi meninggalkan Shin di dapur.
Shin menatap punggung wanita yang sedang berjalan meninggalkannya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Shin merasa bahagia, untuk pertama kalinya ia merasakan sebuah ciuman yang terasa indah baginya, karena di lakukan oleh dua orang yang sama sama menginginkan bukan sebuah paksaan.
"dia tidak menolak ciumanku justru sebaliknya. Apa dia sudah mulai jatuh cinta padaku?" Shin bermonolog.
Norin bersiap siap untuk membenahi dirinya. Ia memakai dress panjang warna mustard yang memiliki ikatan pita di pinggangnya dan memakai jilbab yang senada. Norin juga memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan lipstik warna peach.
"aku udah cantik belum ya?" Norin membolak balikan tubuhnya di kaca kecil, ia ingin tau penampilannya sudah sempurna apa belum? setelah merasa cukup, Norin keluar dari kamarnya dengan menggunakan high heel lima senti.
Norin berjalan anggun ke luar rumahnya. menemui seluruh keluarganya yang sudah menunggunya di teras termasuk Shin.
Semua mata memperhatikan wanita cantik nan anggun yang tengah berdiri di ambang pintu termasuk Shin.
"mashaallah anak ibu cantik bener malam ini!" Bu Aminah memuji Norin.
"iya Tante cantiiikk banget. Naya kalau sudah besar pengen cantik kayak Tante Norin, terus punya pacar kayak om itu." celoteh Naya sambil menunjuk ke arah Shin.
"emangnya kamu tau pacar itu apa?" tanya Hasbi.
"Tau dong kak, kan om Rizal udah kasih tau Naya tadi."
Seketika semua orang menatap ke arah Rizal.
"lho kok bawa bawa om Rizal nay, wah Naya fitnah om nih!" Rizal membela diri memang pada kenyataannya Rizal tidak pernah mengajari hal yang aneh aneh pada Naya.
Sementara diva hanya mencebik kan bibirnya, ia tidak suka Bu Aminah dan anaknya memuji adiknya. Meskipun ia mengakui, adiknya itu memiliki wajah yang sangat cantik dan tubuh yang proposional jika di bandingkan dengan dua kakaknya yang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengannya.
"udah udah ngga enak sama tuan Shin, kelamaan nungguin kita," ucap Bu Aminah.
"apa kita berangkat sekarang tuan ?"tanya Bu Aminah pada pria yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya.
"jika kalian semua sudah siap, kita berangkat saja sekarang."
Kemudian mereka jalan beriringan menghampiri mobil milik Shin. Rizal duduk di jok samping sopir menggendong Hasbi. Bu Aminah serta diva di jok belakang sambil memangku Naya. Sementara Shin dan Norin duduk di jok tengah karena hanya ada dua jok di situ.
Sang sopir mulai melajukan mobilnya meninggalkan kampung tapos menuju sebuah restouran.
"apa ada restouran bagus yang mau kamu rekomendasikan sayang?" tanya Shin pelan namun masih terdengar oleh orang orang yang ada di mobil. Norin merasa tidak enak mendengarnya.
"saya tidak tau dimana restouran yang bagus di daerah ini tuan. saya serahkan sama tuan saja."
Shin tersenyum."apalagi saya sama sekali tidak tau daerah ini."
"saya tau tempat yang bagus tuan, tempat yang romantis untuk pasangan yang sedang jatuh cinta seperti kalian." Rizal menyahuti.
duukk...
Sebuah bantal kecil mendarat di kepalanya. Norin kesal pada adiknya yang terus saja meledek dan membuat ia malu pada Shin serta ibunya.
Ha ha ha....
Rizal tertawa puas, sudah membuat kakaknya merajuk.
__ADS_1