Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Hukuman berlebihan


__ADS_3

Dosa itu akan terus di lakukan jika masih saja terbelenggu di lingkaran hidup pria yang tidak mau mengikatnya dengan ikatan tali pernikahan. Entah sampai kapan harus hidup dibawah bayang bayang neraka. Pernah ia berfikir untuk berhenti bekerja dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan pria yang selalu berlaku sesuka hatinya. Namun, lagi lagi bayangan adik serta ibunya melintas di fikirannya.


"bertahan Rin, bertahan setidaknya hingga adikmu lulus nanti, setelah adikmu lulus kamu tinggalkan saja pria ini jika dia masih saja tidak memiliki keinginan untuk menikahi mu. satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah mencintainya berlebihan karena hal itu akan mempersulit mu untuk terlepas darinya." Norin bermonolog.


"kamu tau, kamu terlihat imut jika memasang bibir seperti itu, aku jadi ingin mengecupnya kembali." Shin menggoda kekasihnya yang terdiam sambil menekuk kan wajahnya.


Kemudian Norin menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jujur saja, ucapan itu bukan lah sebuah kalimat yang dapat membuat hatinya berbunga bunga justru sebaliknya ia kesal sekali. Norin melirik malas pada pria itu lalu beranjak pergi. Namun, Shin mencekal lengannya lalu dengan paksa menciumnya kembali. Mulanya Norin diam saja membiarkan pria itu melakukan aksinya. Setelah cukup lama Shin bermain main dengan bibirnya sekarang giliran Norin yang berganti memainkan bibir pria itu, tanpa belas kasihan Norin menggigit bibir yang tengah rakus me lu mat bibirnya itu.


Shin terhentak, mata sipitnya membulat merasakan sakit di area bibir bawahnya. Lalu, ia segera melepaskan pagutan nya.


"f u c k i n s h i t, apa yang kamu lakukan pada bibirku?" ucap Shin kesal sambil meringis dan memegang bibir bawahnya.


Norin tersenyum sinis."hanya memberi sedikit pelajaran agar bibir tuan itu memiliki sikap sopan pada saya."


Norin hendak beranjak pergi. Namun, lagi lagi Shin mencekal nya dan memaksa menggendongnya ala koala.


"Apa yang tuan lakukan turunkan saya!" Norin panik ia berontak. Namun, karena bagi Shin tubuhnya kecil jadi sangat sulit melepas diri dari gendongan pria bertubuh besar itu.


"bruuggh" Norin di lempar ke atas ranjang. Lalu, Shin tersenyum menyeringai menatap pada wanita yang tengah terlentang di atas kasur.


"kamu harus bertanggung jawab karena sudah berani mencelakai bibirku," ucap Shin sambil melepas baju serta celana pendeknya dan hanya menanggalkan bo xe r saja.


Norin tersentak melihat Shin melepaskan pakaiannya dengan wajah memerah karena marah. Shin mulai menaiki ranjangnya mendekati wanita yang tengah ketakutan. Norin memundurkan perlahan tubuhnya hingga mentok ke belakang.


"tolong jangan sentuh saya tuan, jangan lakukan itu pada saya," ucap Norin memelas.


Shin tidak mempedulikannya. Ia menarik kaki Norin dengan paksa hingga turun ke bawah. kemudian Shin mengukungnya lalu mengikat kedua tangannya di atas kepala menggunakan kaos yang ia lepas dari tubuhnya sehingga membuat wanita itu kesulitan untuk memberontak.

__ADS_1


"apa yang mau tuan lakukan? tolong jangan seperti ini!" ucap Norin dengan wajah panik.


"ini hukuman untukmu karena sudah berani menyakiti saya,"jawab pria itu sambil tersenyum menyeringai.


Tanpa bicara lagi, Shin mendaratkan bibirnya di bibir mungil yang selalu membuatnya ketagihan itu. me lu mat nya dengan rakus dan tiada ampun. tangan nya me re mas dua gundukan yang masih terbungkus rapi di dalam sana. Tidak ada yang bisa Norin lakukan selain pasrah atas apa yang pria itu lakukan di atasnya.


Shin mulai membuka kancing baju Norin satu persatu dengan bibir yang masih bertautan. Shin me re mas kembali dua gundukan yang masih terbungkus oleh b r a berwarna marun. kemudian tangannya masuk ke sela sela punggung melepaskan kaitan b r a milik wanita itu. Setelah itu, ia menarik b r a tersebut hingga terlepas dan nampak lah dua gunung kembar yang berukuran cukup besar terpampang nyata di hadapannya.


Shin melepaskan pagutan nya setelah merasa kehabisan nafas. Bukannya berhenti ia malah melanjutkan lagi aksinya. Kali ini bibirnya ia darat kan pada leher jenjang wanita yang sedang ia kungkung. menyapu, mengecup hingga memberi kissmark di leher jenjang itu. wanita itu menggelenjang, merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara de sa han. pria itu tau bahwa wanitanya sedang menahan rasa nikmat yang ia berikan, Shin pun tersenyum. Kemudian, setelah area leher sudah habis tersapu bersih, ia mengalihkan sapuannya ke area dimana gunung kembar itu tengah berdiri menantang. melihat pucuk gunung yang terlihat ranum dan berwarna merah muda yang sepertinya sama sekali belum pernah tersentuh oleh pendaki lainnya, membuat hasrat pria itu semakin bergejolak. Shin pun ingin menggapai pucuk itu. Ia mendaratkan bibirnya di atas pucuk tersebut, me lu mat nya serta me ng hi sap nya dengan lembut.


"ah.....emp...." de sa han itu keluar juga dari mulut wanita yang tengah ia beri ke nik ma tan saat ini. Ia pun tersenyum dan semakin bergairah untuk terus melakukannya.


Pria itu semakin semangat saja menyentuh gunung itu, me ng hi sap dan me lu mat nya tiada henti hingga ia merasa di bawah perutnya semakin keras dan berdenyut nyeri. Shin pun segera melepas kan gunung kembar itu dan beranjak pergi ke kamar mandi.


Norin menatap nanar pada punggung pria yang tengah berjalan ke kamar mandi. Rasa benci dan kesal karena pria itu sudah berani memperlakukan dirinya sejauh ini serta rasa kecewa karena pria itu menggantung hasratnya begitu saja. Norin menangis, menangisi nasib hidupnya yang harus terbelenggu cinta seorang pria yang hanya menjadikannya sebagai pelampiasan nafsunya semata dan terus menerus membuat kubangan dosa.


"apa.....apa aku sudah berlaku berlebihan pada wanitaku? bagai mana jika dia tidak terima atas perlakuanku dan marah padaku? kenapa kau tidak bisa menahan hasrat mu Shin?" Shin membasuh mukanya. setelah itu, ia buru buru keluar kamar mandi.


Shin kembali dimana wanitanya masih tidur terlentang dengan dua tangannya masih terikat di atas kepala. Terlihat tanda merah hampir memenuhi area leher dan gunung kembar akibat dari ulahnya. Shin mendekati wanita itu lalu menutupi tubuhnya yang terbuka dengan selimut.


Shin menatap pada mata bulat yang telah penuh dengan air mata dengan rasa bersalah dan menyesal telah melakukan wanitanya seperti seorang pe la cur. Wanita itu membuang muka ke arah samping, ia tidak mau melihat wajah pria yang nyaris saja membuat masa depannya hancur.


Shin melepaskan tangan yang terikat sambil pandangannya tak lepas dari mata bulat yang terus menerus mengeluarkan air mata. kemudian Shin mengecupi mata yang berair itu terus menerus seolah olah memintanya untuk berhenti keluar. Setelah itu, Shin memeluk tubuh itu dengan erat, pelukan sayang yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata kata bagi pria tersebut.


"im so sorry, aku menyesal, im promise i will never do it anymore......aku janji....aku janji padamu!"


Shin melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah sembab itu dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"I love you.....really love you." kecupan hangat di kening pun tercetak di sana.


"mandi lah, aku akan antar kan kamu ke sahabatmu itu, bukan kah tadi kamu mau menemuinya di tepi danau itu?"


Kejadian tadi membuatnya melupakan sahabatnya itu. Namun, Shin telah mengingatkannya dan Norin merasa semangat kembali. Ia bergegas ke kamar mandi tanpa berbicara sepatah katapun pada pria tersebut. Shin menatap punggung itu dengan penuh penyesalan.


Shin dan Norin menuruni anak tangga beriringan. Baru saja mendaratkan kaki mereka di lantai dasar, mereka langsung di sambut oleh seorang pria bermata sipit dengan kedua tangannya dilipatkan di atas dadanya.


"mau pergi kemana kalian?" tanya youn dengan ekspresi datar.


Shin menatap malas pada pria tersebut karena pria itu selalu mengganggunya.


"bukan urusanmu, lagi pula mau apa kau tanya tanya?"


"ck, sombong sekali mentang mentang sudah punya kekasih!"


Shin mencebik kan bibirnya."ayok sayang kita pergi saja."Shin menuntun Norin meninggalkan pria yang masih menatapnya heran.


"dasar pria aneh, tidak pernah jatuh cinta....sekalinya jatuh cinta seperti terkena lem...nempel terus...ha ha ha !" teriak Youn mengejek sahabatnya itu.


Shin berbalik lalu mencopot sandalnya dan melempar sandal itu ke arah pria yang sedang menertawakannya.


"duugh!" sandal itu mendarat tepat di kepala Youn membuat pria tersebut memekik kesakitan.


"tidak sopan sekali kau Hoon!" protesnya sambil memegang kepalanya yang terkena timpukan sandal.


"sekali lagi kau mengejekku satu sandal lagi akan mendarat di mulut bau mu itu."

__ADS_1


Norin tertawa, melihat dua pria dewasa yang berkelakuan seperti bocah.


__ADS_2