
Melihat ini tangannya spontan terangkat ingin menghapus air mata Annisa, namun malang dia hanya bisa mengangkatnya setengah karena tangannya sangat lemas.
"Annisa," Panggilnya lembut.
Annisa segera meraih tangan Umi. Dia membawa tangan Umi untuk menyentuh wajah basahnya.
"Iya, Umi?"
"10 tahun yang lalu hatiku begitu keras untukmu. Aku memaksamu menikah dengan laki-laki yang tidak kamu inginkan dan aku juga meragukan kesucian mu. Nak, tiada hari yang paling menyakitkan selain kejadian 11 tahun lalu. Karena hari itu adalah hari dimana Umi menyadari bahwa Umi salah dan Umi bukanlah Ibu yang baik untukmu. Umi menyakitimu, mengabaikan mu, dan tanpa sadar mendorongmu pergi. Padahal itu adalah salahku. Jika aku adil untuk kalian semua maka Saqila tidak akan berbuat jahat dan kamu juga tidak akan menjadi korbannya. Karena kesalahanku hubungan kalian bertiga menjadi renggang, karena kesalahanku kalian semua saling menyakiti dan menyalahkan. Ya Allah.. ampunilah dosa-dosaku. Jika saja aku adil, jika saja aku tidak keras kepala maka semua kesalahan di tahun-tahun itu tidak akan pernah terjadi."
"Umi, cukup.." Bisik Annisa tidak kuat.
"Nak, apa kamu mau memaafkan ku? Apa kamu mau memaafkan semua kesalahan-kesalahan ku yang telah melukai hatimu?" Tanyanya dengan suara yang lebih lemah lagi dari sebelumnya.
Sambil terisak, Annisa berulangkali menganggukkan kepalanya. Mencium tangan Umi berkali-kali sebelum mengatakan,"Aku memaafkan, Umi. Semua kesalahan di masa lalu, aku sudah memaafkan Umi. Tolong maafkan Annisa juga karena pernah melukai hati Umi. Annisa minta maaf, Umi."
Umi tersenyum lembut. Ibu jarinya dengan susah payah bergerak menghapus air mata yang mengalir di wajah Annisa.
"Terimakasih, Nak. Terimakasih karena sudah mau memaafkan ku." Bisiknya lega.
Setelah itu dia lalu beralih menatap putri terakhirnya, Safira. Wajah cantiknya yang seperti lukisan kini sudah memerah sambil menatapnya. Tidak hanya wajahnya saja yang memerah, tapi kedua matanya pun sama. Sepertinya, Safira ingin menangis tapi untuk beberapa alasan dia berusaha menahannya.
__ADS_1
"Umi," Safira merendahkan tubuhnya duduk di atas rumput mengikuti jejak Saqila. Tangannya yang sedari tadi terus menggenggam tangan Umi membawa tangan Umi menyentuh wajahnya.
Safira menunduk, mencium punggung tangan dan telapak tangan Umi berkali-kali sebelum membawanya menyentuh pipi kanannya.
"Semua kesalahan di masa lalu, aku sudah memaafkannya. Aku tahu Umi sama sekali tidak pernah berniat jahat kepadaku ataupun kepada kami melainkan itu adalah kasih sayang Umi kepadaku ataupun kepada kami. Aku tahu jika Umi tidak ingin melihatku terus sendiri karena itulah Umi tidak punya cara selain meminta Pak Dimas untuk menikahiku. Aku tahu itu karena Umi ingin aku hidup bahagia seperti kedua saudara ku. Umi, kesalahan di masa aku sudah lama memaafkannya dan aku juga tidak pernah memperhitungkannya di dalam hatiku karena aku tahu Umi ingin yang terbaik untukku. Tidak Umi, jangan meminta maaf kepadaku karena orang yang pantas meminta maaf adalah aku. Safira telah melakukan banyak kesalahan kepada Umi, Safira punya banyak kesalahan yang tidak terhitung jumlahnya jadi Safira mohon tolong maafkan Safira.. tolong maafkan semua kesalahan Safira, Umi. Aku sudah melakukan banyak kesalahan kepada Umi, entah itu disengaja atau tidak, entah itu sadar atau tidak, Umi tolong.. maafkan anakmu ini." Pinta Safira berusaha menguatkan dirinya agar tidak menangis.
Dia bahkan mengigit bibirnya kuat agar matanya jangan sampai menjatuhkan air mata walaupun itu akan sia-sia karena pada akhirnya air mata itu tetap lolos dari sarangnya.
Satu bulir,
Dua bulir,
Umi sejenak terpana, lalu beberapa detik kemudian dia menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk menggerakkan jari jemarinya mengusap air mata di pipi Safira.
"Aku memaafkan mu, Nak. Semoga Allah ridho kepadamu sama seperti aku ridho kepadamu, Nak." Katanya kian lemah saja.
Safira tidak langsung menjadi lega setelah mendengarnya. Dia seolah merasakan sebuah firasat tidak biasa sama seperti yang dia rasakan ketika Abi pergi meninggalkan dunia ini. Untuk itu dia jatuh bersujud ke tanah, mencium kedua kaki Umi lama sebelum bangun dan memeluk Uminya kuat.
Tindakan ini juga diikuti oleh Saqila dan Annisa. Mereka bergegas mencium kedua kaki Umi sebelum berkumpul memeluk tubuh Umi yang mulai terasa tidak hangat lagi.
"Jangan menangis putri-putriku.. tolong jangan menangis, Nak." Bisik Umi semakin membuat mereka bertiga terisak menahan sesak dan sakit.
__ADS_1
"Anak-anakku, Umi akan segera pulang menemui Abi dan bertemu dengan Allah. Umi harap Allah meridhoi kepulangan Umi..Umi harap Allah mau memaafkan Umi..Umi harap.." Nafasnya mulai terputus-putus.
Mereka bertiga kian menangis. Kedua tangan mereka memeluk erat tubuh kurus Umi yang mulai menjadi dingin, tanpa suhu hangat biasanya.
"Umi, Allah ridho kepadamu. Allah sungguh ridho kepadamu. Dia dan penghuni langit pasti kini sedang menunggu kepulangan mu..Umi hiks.." Saqila berusaha menenangkan Uminya.
Mengusap wajah pucat Umi dengan tangan kanannya yang kini sedang bergetar hebat menahan rasa takut yang pernah dia rasakan ketika melihat tubuh dingin Abi.
Dalam kesakitan nya Umi mencoba tersenyum seraya berkata,"Anak-anak ku semoga Allah ridho kepada kalian sama seperti aku meridhoi kalian.. semoga Allah mengumpulkan kita di surga-Nya kelak.. semoga kita dikumpulkan kembali dibarisan umat nabi Muhammad.."
Mereka bertiga tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasa sakit akan perpisahan kembali membanjiri hati mereka untuk yang kedua kalinya. Mereka sungguh tidak sanggup melihat wanita hebat yang telah membesarkan mereka dengan sepenuh hati kini sedang berhadapan dengan Malaikat Maut.
Mereka tidak kuat melihat wanita hebat ini diterpa rasa sakit dari maut tapi di sisi lain mereka ingin menemaninya melewati rasa sakit ini.
"Asyhadu..an..laa ilaaha illallaahu," Lemah, bahkan sangat lemah dan penuh perjuangan kalimat suci ini keluar dari bibir pucat Umi yang mulai membiru.
"Wa asyhaduanna..muhammadar rasuulul..lah".
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Setelah itu tidak bersuara lagi. Tidak hanya itu saja, namun Umi sudah kehilangan detak jantungnya dan semua tubuhnya benar-benar terasa dingin.
__ADS_1