Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 1.1)


__ADS_3

...لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ...


...Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,...


...(QS. At-Tin 95: Ayat 4)...


...🍁🍁🍁...


"Ai?" Suara lembut wanita cantik itu menarik perhatiannya dari cermin.


Dia awalnya terkejut karena tertangkap tidak siap. Tapi itu tidak lama karena beberapa detik kemudian sebuah senyuman hangat terbentuk di wajahnya.


"Selamat pagi, Bunda." Dia berbalik, memeluk Bunda hangat sebelum mereka duduk di atas ranjangnya.


Bunda, wanita cantik di depan ini bukanlah Ibu kandungnya akan tetapi kasih sayang yang dia berikan kepada Ai tidak berbeda dengan anak-anak kandungnya.


"Pagi, sayang. Bagaimana persiapan Ai hari ini? Gugup atau masih ragu masuk ke dalam pondok pesantren?" Dia bertanya seperti ini karena sejak kecil mental ku sudah bermasalah.


Benar, mungkin itu masih terjadi sampai sekarang. Ai masih belum bisa seberani Bunda melihat dunia, terutama mendapatkan banyak teman. Dia tahu bagaimana dan seperti apa dirinya sendiri lebih dari siapapun.


Dia adalah Aishi Humaira, salah satu manusia yang terlahir hermaprodhit di dunia ini.


Pada usia 7 tahun 10 tahun yang lalu dia telah berhasil melakukan operasi pengangkatan alat kelamin laki-laki. Untuk itu dia adalah seorang perempuan yang tidak sempurna. Tahun-tahun dia lewati tapi tubuhnya tidak mengalami perkembangan seperti wanita pada umumnya.


Dia tidak punya..yah, dia tidak punya buah dada dan tubuhnya pun tidak seindah wanita umumnya.


Dengan kata lain ada yang berubah namun sebenarnya tidak ada yang berubah dari dirinya. Meskipun dia bisa menstruasi tapi jadwalnya tidak beraturan dan terkesan lambat?

__ADS_1


Mungkin 2 bulan sekali adalah yang paling normal untuknya tapi tidak untuk wanita yang lain. Bunda dan Ayah menjadi khawatir karena tubuhnya tidak mengalami perubahan atau peningkatan yang diharapkan.


Mereka lalu membawa Ai ke rumah sakit beberapa kali untuk konsultasi. Dokter bilang ini adalah hal yang wajar terjadi mengingat Ai spesial bukan normal. Ini adalah jalan yang Allah takdirkan sehingga mereka para medis tidak bisa melakukan apa-apa.


Takdir, Ai sudah lama tidak mempermasalahkannya. Dia sudah menyerahkan semuanya kepada Allah sekalipun pasti ada hari dimana hatinya cemburu melihat wanita-wanita sempurna di sekelilingnya.


"Alhamdulillah tidak, Bunda. Ai memang gugup tapi itu karena Ai tidak sabar untuk masuk ke sana." Katanya mengakui.


Keempat adik-adiknya sudah tinggal di pondok pesantren sejak 2 tahun yang lalu. Hanya dia seorang yang datang terlambat, dia masuk ke pondok pesantren setelah berusia 17 tahun dan tinggal di pondok yang berbeda dengan keempat adik-adiknya.


"Syukurlah jika kamu tidak takut, Nak." Bunda lalu meraih tangan Ai.


Dia menggenggamnya dengan ekspresi enggan di wajahnya.


"Sejujurnya Bunda berat melepas kamu, Nak. Bunda tidak ingin berpisah darimu tapi kita harus melakukan ini demi kebaikan kamu sendiri di masa depan. Apa Ai tidak marah dengan keputusan Ayah dan Bunda ini?"


Ai tahu betapa lembut hati Bunda dan dia tidak meragukannya.


Dia pergi memang untuk menuntut ilmu sekaligus mencoba menyibukkan diri untuk melupakan 'dia' yang sudah 12 tahun menghilang.


Bunda tersenyum tipis, dia mengusap kepala Ai sebelum membawanya ke dalam pelukan.


Kamu harus kuat, Nak. Yakinlah Allah akan selalu di sisi kamu. Kita tidak tahu mungkin datangnya hari ini adalah salah satu skenario Allah untuk hidup kamu. Mungkin datangnya hari ini adalah langkah pertama Allah menuntun kamu ke jalan yang penuh bahagia. Seperti aku sebelum menikah dengan Mas Ali, jalan itu penuh kerikil dan menyakitkan. Namun diujung nya ada lembah manis yang sudah menunggu ketekunan hati kami. Nak, jadilah kuat dan jangan menyerah. Batin Bunda tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.


...🍁🍁🍁...


Siang harinya menjelang keberangkatan menuju pondok pesantren Ai masih suka berdiri di depan cermin kamarnya. Dia memperhatikan bentuk tubuhnya yang tertutupi dengan baik oleh kain gamis dan jilbab panjang yang selalu menemani hari-harinya.

__ADS_1


Sekilas, orang tidak akan menyadari betapa kurus tubuh Ai tanpa ada lekukan tubuh di bagian dada. Tapi jika dari dekat maka orang akan langsung menyadarinya.


Inilah yang dia takuti nanti jika tinggal di pondok pesantren. Di pondok dia akan satu kamar dengan 20 lebih santri, pasti cepat atau lambat mereka akan menyadari ada sesuatu yang aneh dari Ai. Dan dia tidak tahu apakah mereka akan menerima kelebihan ini atau justru mengucilkannya sama seperti beberapa anak di sekolahnya dulu.


"Hah.." Dia menghela nafas panjang.


Wajahnya kemudian berpaling menatap sebuah bingkai foto mini di atas meja. Itu adalah foto Ai dan 'dia' 12 tahun yang lalu. Saat itu Ai masih belum menggunakan jilbab sehingga orang-orang tidak bisa membedakan apakah dia perempuan atau laki-laki karena rambutnya yang pendek. Bahkan Ai juga ragu jika 'dia' dulu mengetahui jenis kelaminnya atau mungkin 'dia' menganggap Ai sama seperti anak laki-laki karena bentuk tubuh dan rambut pendeknya yang lebih cocok seperti anak laki-laki.


Entahlah, Ai tidak bisa menebak jawabannya. Atau mungkin lebih tepatnya dia tahu jawabannya hanya saja menolak untuk mempercayainya.


Karena Ai sejujurnya diam-diam jatuh cinta kepada 'dia' entah sejak kapan itu terjadi. Ai jatuh cinta kepada anak laki-laki pertama yang mau berteman dengannya dan Ai jatuh cinta kepada anak laki-laki yang pernah berjanji untuk menemani atau mengunjunginya dulu. Namun, sudah 12 tahun berlalu tapi dia tidak pernah datang kembali. Seolah-olah mereka tidak pernah saling mengenal atau seolah-olah janji itu tidak pernah dibuat.


Ironisnya, sampai dengan hari ini Ai masih menunggu 'dia' datang mencarinya. Dia masih berharap jika cinta pertamanya kembali kepadanya. Dia berharap untuk sesuatu yang tidak pasti, bukankah itu menyiksa?


"Sudah 12 tahun berlalu tapi harapan ku masih belum hilang untukmu. Hah.." Dia sekali lagi menghela nafas panjang.


"Katakan, sampai kapan aku harus menunggu kedatangan mu?" Bisiknya tidak berdaya sambil menatap fotonya dengan 'dia'.


Lelah menatap, dia lalu memasukkan foto kecil itu ke dalam tas pakaiannya. Kenangan ini, Ai tidak mau melepaskannya karena dia masih..


Mengharapkan 'dia' menepati janjinya.


Bersambung..


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dari tengah malam saya benar-benar kepikiran dengan cerita lanjutan Ai dan Vano karena banyak yang minta. Untuk itu saya pikir tidak ada salahnya menulis cerita mereka di sini hehehe...Insha Allah, satu bulan cerita mereka harusnya rampung.


Hem.. kayaknya saya masih belum bisa istirahat hehe..tapi sebenarnya gak masalah juga buat saya, toh ini adalah tanggung jawab saya.

__ADS_1


Kemudian cerita Kayana saya akan undur lagi selama 1 bulan agar penulisan Ai dan Vano bisa mulus tanpa hambatan.


Lanjut?


__ADS_2