
Suara aliran sungai yang tenang dan bergerak ringan menyambut kedatangan mereka bertiga. Di pinggir sungai ada banyak sekali batu-batu yang muncul entah dari. Batu-batu itu digunakan oleh para santri perempuan untuk tempat mencuci pakaian. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sungai ini karena airnya mengalir langsung dari bukit di ujung sana. Rasanya dingin dan segar, warnanya juga tidak keruh dan berbau. Sejujurnya tempat ini sangat indah.
"Kapan-kapan kita pergi mencuci pakaian di sini, yah?" Ai mendudukkan dirinya di atas batu, menurunkan kedua kakinya yang sudah tidak menggunakan kaus kaki untuk menyentuh air.
"Hem, mashaa Allah.. airnya sangat dingin." Sentuhan dingin segera menyentuh telapak kaki Ai, menyebarkan perasaan nyaman yang menyegarkan.
"Jangan hanya mencuci baju aja, Ai. Tapi sekali-kali kita bisa mandi di sini." Asri ikut duduk di samping Ai, melepaskan kedua kaos kakinya sebelum menyentuh aliran air.
Mega sontak mencubit pipi Asri. Gemas juga mendengar ide-ide sahabatnya ini yang sensasional.
"Mau mandi? Mandi aja asal jangan ajak-ajak kami. Kamu tahu sendiri kan jika kita tidak boleh mandi di sini? Ini adalah tempat umum tahu, gak." Ucap Mega jengah.
Asri langsung menyelamatkan pipinya, ada sensasi panas di bagian yang Mega cubit tadi.
Mega sama sekali tidak menahan diri ketika mencubitnya.
"Benar, Asri. Untuk mandi di sini aku tidak berani karena pondok pesantren sudah sangat melarang. Bila dilanggar, takutnya kita akan dihukum seperti Sari." Ai juga tidak setuju dengan ide Asri kali ini.
Ini adalah tempat umum, tempat bebas yang bisa diakses oleh santri wanita dan santri laki-laki. Karena itulah pihak pondok melarang siapapun untuk mandi, kecuali larangan ini mereka bisa mencuci di sini.
Selain itu, Ai.. berbeda. Dia tidak berani mandi bersama dengan orang lain karena perbedaannya ini. Ia takut orang-orang akan menyadari bila tubuhnya terlalu kurus. Yah... bukankah akan aneh jika dada wanita terlalu datar? Tidak, ini tidak hanya terlalu datar tapi sangat datar.
__ADS_1
Ai malu.
"Hei, astagfirullah...aku hanya bercanda saja. Meskipun aku nekat tapi aku tidak mungkin seberani itu mengajak kalian mandi di sini." Asri rupanya hanya bercanda.
Dia sama seperti yang lain, meskipun menyukai air di sungai ini tapi tidak berani sampai mandi di sini. Karena yah, tempat ini umum dan siapapun bisa lewat apalagi santri laki-laki.
"Eh, itu..." Ai menunjuk seseorang.
Asri dan Mega kompak mengikuti arah tangan Ai menunjuk. Di sana, di sawah yang sedang dikelilingi banyak orang berdiri Kevin bersama santri laki-laki yang lain. Kevin selaku ketua petugas kedisiplinan tampaknya sedang mengkordinir para santri laki-laki yang sedang memetik kangkung di sawah.
"Kak Kevin!" Mega dan Ai langsung bersemangat.
"Apa ku bilang, pasti kalian berdua akan bertemu lagi!" Ujar Mega bangga.
Ai buru-buru bangun dari duduknya. Memakai kaos kaki yang sempat dilepas dengan cepat dan terampil. Dia sudah tidak sabar melihat Asri memberikan suratnya kepada Kevin.
"Dia..ada di sini." Gugup yang sempat menghilang kini kembali datang merayapi tubuhnya.
Dia mulai dilema, apakah harus menyerahkan surat ini atau tidak kepada Kevin.
"Apa kamu takut?" Tanya Mega iseng.
__ADS_1
Asri pikir Mega sedang mengejeknya. Jadi dia segera bangun dari duduknya, mengikuti jejak Ai memasang kaos kaki sebelum berdiri dengan berani di depan Mega.
"Aku takut? Hei, aku tidak mungkin membuat surat bila aku tidak bisa melakukannya!" Hanya Allah yang tahu betapa takutnya dia saat ini.
"Maka dari itu buktikan!" Mega sangat bersemangat.
"Ayo!" Asri memimpin langkah ke depan.
Mereka berjalan menapaki tanah sawah yang agak lembab dan berlumpur karena embun pagi. Asri melangkah ringan, berpura-pura agar tidak terjatuh padahal faktanya dia sedang memperlambat langkahnya karena sangat gugup.
Meskipun gugup, ada rasa manis dan harapan yang terus meluap-luap di dalam hatinya. Asri berharap Kevin akan segera membalas suratnya bila berkenan namun jika tidak, dia berharap dengan surat itu Kevin tahu bila dia memendam perasaan yang sangat dalam untuknya.
Berharap, untuk pertama kalinya dalam hidup ini dia mengharapkan sebuah balasan dari rasa yang sama.
"Jalan lebih cepat, Asri!" Pinta Mega sudah tidak sabar.
Asri memegang erat surat yang ia sembunyikan dari balik jilbab panjangnya. Dia menggenggamnya erat seolah ini adalah kesempatan terakhir dalam hidupnya.
"Hei, apa tidak apa-apa aku mengikuti jejak Khadijah RA?" Katanya dengan senyuman lebar di wajah merahnya.
Ai balas tersenyum,"Tidak apa-apa. Itu adalah pilihan mu dan kami tidak bisa ikut campur."
__ADS_1
Mega juga tidak mempermasalahkannya,"Benar, Asri. Kamu adalah kamu dan kamu berhak mengatur hidupmu sendiri. Namun ingatlah, kami akan selalu ada bersamamu jadi bila kamu tidak sanggup melangkah lagi maka jangan ragu untuk menoleh ke belakang karena ada kami yang akan selalu menyediakan pelukan terhangat kepadamu."