Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Ke rumah Susi


__ADS_3

Norin dan Bu Aminah menatap kepergian mobil Rio dari halaman rumahnya.


" yuk Bu, kita masuk," ucap Norin pada ibunya setelah mobil Rio sudah tidak tampak lagi di hadapan mereka.


Bu Aminah mengikuti Norin dari belakang masuk ke dalam rumahnya.


"Rin !" panggil sang ibu.


Norin menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap ibunya.


"kenapa Bu ?"


"andaikan pak Rio suka sama kamu apa kamu mau sama pak Rio Rin?"


Norin tersenyum tipis."kok ibu punya pikiran seperti itu?"


"ya ibu ngerasa kalau pak Rio sering memperhatikan kamu Rin !"


"Bu, pak Rio memperhatikan Norin karena dia punya mata Bu. lagi pula dia kesini cuma mau bersilaturahmi aja Bu, kan ibu salah satu tenaga pendidik di sekolah dimana dia tugas Bu!"


"andai saja....,"


"ngga biasanya ibu berandai andai !" Norin memotong ucapan ibunya. Lalu, ia berjalan ke arah meja dimana ia meletakan air minumnya.


"ya ngga apa apa kan ibu berkhayal dulu punya mantu seperti beliau. Siapa tau khayalan ibu jadi kenyataan."


"kenapa harus pak Rio Bu?"


"karena pak Rio itu selain berakhlak baik, dia juga rajin ibadah Rin. Ibu pengen banget punya sosok mantu seperti beliau. kelak kalau kamu punya calon suami, lihat dulu agamanya harus seiman dengan kamu Rin, ketaatannya serta akhlaknya seperti apa?"


Seketika Norin menyemburkan minumannya lalu terbatuk.


"kamu ini seperti anak kecil aja minumnya Rin," ucap Bu Aminah.


"maaf Bu, ngga sengaja," jawab Norin lalu tersenyum lebar.


"yaudah, ibu mau masuk kamar dulu."


Norin mengangguk kecil.


"seiman, taat beribadah, berakhlak baik? kriteria ibu tidak ada pada diri pria pemaksa itu. Duh, kenapa aku jadi mikirin dia lagi sih !" Norin bermonolog sembari memijit keningnya.


Sementara di tempat lain tepatnya di sebuah rumah megah. Seorang pria tanpa bergairah tengah meneguk segelas wine di atas balkon kamarnya sembari menatap hampa pada kelap kelip kota kecil yang jauh di sana.


"sedang apa kau di sana? apa kau tau aku sangat merindukanmu? cepat lah kembali aku mohon." Shin bergumam.


Shin meneguk wine itu hingga tandas. Ternyata minuman itu tidak mampu melupakan wajah wanita bermata bulat barang sejenak pun. Lalu, ia melempar gelas kosong di tangannya itu ke sembarang arah.


" Noriiiiiiiiiinnnnnn," pekik Shin menggema di udara.


Norin terperanjat lalu membuka matanya. Tampak keringat membasahi sekujur tubuhnya. Ia bermimpi buruk, pria pemaksa itu bunuh diri.

__ADS_1


" astaghfirullah hal adzim, aku ketiduran belum sholat isya, pantas aja tidurnya ngga nyenyak," gumam Norin. Kemudian ia menyeret kedua kakinya pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah melaksanakan sholat isya, Norin kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Namun, ia sulit memejamkan matanya kembali.


" kenapa aku jadi mikirin dia? sampe kebawa mimpi buruk. udah lah Norin, jangan mikirin pria itu lagi, jangan berharap padanya karena dia cuma pria yang mau menjalin hubungan tanpa komitmen dan tidak akan menikahi mu. Lagi pula benar kata ibu, mencari pendamping hidup itu yang seiman dan berakhlak agar bisa membimbing mu kelak. Sementara Shin ?" Norin mengusap wajahnya, ia delima dengan perasaannya sendiri.


Samar samar telinganya mendengar ketukan dan panggilan ibunya di luar pintu. Norin mengejapkan matanya yang terasa lengket sekali, karena semalam ia baru bisa memejamkan matanya sekitar jam tiga dini hari dan pada akhirnya Norin melewati ibadah subuh nya.


Kemudian Norin bangkit dari ranjangnya dan berjalan sempoyongan ke arah pintu kamar.


"anak gadis ibu kok bangunnya siang bener sih, apa semalam kamu abis begadang Rin?" tanya sang ibu yang sudah rapi dengan seragam guru.


"maaf Bu!" ucap Norin dengan kesadaran yang masih tujuh puluh persen.


Bu Aminah menghembuskan nafasnya dengan berat. Awalnya ia mau meminta anak gadisnya itu untuk mengantarnya ke sekolah. tetapi, karena anaknya itu terlihat masih mengantuk ia urungkan saja.


"ibu mau berangkat ngajar, ibu udah masakin makanan buat kamu sarapan di meja."


"makasih Bu."


"ya udah ibu berangkat dulu ya!"


Norin yang tengah menyenderkan kepalanya di tiang pintu itu mengangguk kecil.


Tak lama setelah kepergian ibunya, terdengar bunyi keroncongan sebagai tanda bahwa perutnya minta di isi oleh makanan. Norin mengurungkan niatnya untuk kembali tidur setelah ibunya pergi. Kemudian Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum makan karena Norin tidak biasa makan sebelum mandi.


Setelah selesai mandi dan berpakaian rumahan, Norin segera menghampiri meja makan yang sudah tersaji sepiring nasi goreng sayuran plus telor ceplok. Lagi lagi Norin teringat pada pria bermata sipit itu. Nasi goreng sayuran adalah salah satu makanan kesukaan Shin juga. Nasi goreng sayur itu pula yang pertama kalinya ia makan hasil olahan Norin.


Sudah empat hari Norin berada di kampungnya. Biasanya hari Senin merupakan hari yang sangat sibuk bagi Norin, sibuk dengan seabrek pekerjaan di pabrik. Tapi kali ini, ia berleha leha di rumah menjadi seorang pengangguran.


"pekerjaan rumah semuanya udah di beresin sama ibu, dan sekarang aku ngga punya kegiatan. Apa aku main ke rumah si Susi aja kali ya, udah lama ngga ketemu dia," Norin bergumam.


Setelah itu, Norin siap siap hendak mengunjungi rumah teman bermain sekaligus teman SMP nya itu dengan berjalan kaki. Rumah Susi terbilang sedikit jauh jika berjalan kaki. namun, ia masih tinggal di kampung yang sama dengan rumah orang tua Norin.


Norin berjalan setapak demi setapak, menyusuri jalanan kampung yang penuh dengan kerikil kecil, melewati satu rumah ke rumah yang lain. Tak sedikit pasang mata yang memperhatikan gadis cantik nan anggun itu tengah berjalan kaki entah mau kemana.


Dari kejauhan, Norin melihat sebuah warung yang cukup besar. Ia ingin mampir ke warung itu terlebih dahulu untuk membeli makanan atau cemilan sebagai buah tangan untuk anak anaknya Susi nanti.


Norin menghampiri warung tersebut dan nampak beberapa orang yang tengah belanja memperhatikan kedatangannya. Setelah tiba di warung itu, Norin menyunggingkan senyum tipis dan menyapa pada orang orang yang tengah menatapnya tanpa kedip.


" assalamualaikum, pak, Bu !"


" wa'alaikum salam," ucap mereka berbarengan sembari matanya tak lepas dari pandangan ke arah Norin.


" si Eneng ini siapa ya? apa penduduk baru kampung ini? tanya seorang wanita paruh baya.


Norin tersenyum pada wanita itu.


"saya Norin Bu, anaknya Bu Aminah," jawab Norin.


"Norin anaknya Bu guru Aminah yang tinggal di kota itu? oala pangling saya neng, soalnya tambah cantik aja," celoteh wanita itu.

__ADS_1


"ohh, Norin adiknya Sifa yang sepantaran sama si Susi itu ya? udah nikah belum neng dan udah punya anak berapa sekarang?" tanya seorang wanita lainnya.


Norin tersenyum tipis mendengar pertanyaan wanita itu.


"alhamdulilah belum Bu!"


"maksudnya belum punya anak gitu neng?"


"belum nikah Bu!"


"apa? seriusan neng? bukannya neng norin ini seumuran sama si Susi ya? kok belum nikah! Susi aja udah punya anak dua lho."


"rata rata gadis yang kerja di kota itu lupa sama nikah Bu, walau pun mereka belum nikah tapi biasanya kawin mah udah bu," wanita lain menimpali lalu tertawa lebar membuat ibu ibu lainnya ikut tertawa.


Norin diam saja mendengar tawaan mereka.


"aduh, masih pagi udah ngerumpi Bu ibu. minggir dulu Bu, Bu ibu kan udah selesai belanjanya, sekarang giliran si Eneng, Eneng mau beli apa ? tanya pemilik warung itu.


" lah kok ngusir Bu Irma!"


"bukan ngusir Bu, si Eneng ini juga mau belanja tolong kasih jalan."


"oh ya Bu, saya mau beli susu kaleng Lima, biskuit yang itu lima bungkus, biskuit yang di sana lima dan satu pack Snack itu Bu!" Norin menunjuk satu plastik Snack masih tersegel yang teronggok di bawah.


"banyak amat beli makanannya neng, buat apa ?"


"untuk anak anaknya Susi Bu, saya mau main ke rumahnya."


"oh gitu ya, kasian tau neng hidup si Susi dan anak anaknya," ucap ibu pemilik warung sambil tangannya sibuk mengambil pesanan Norin.


"kasian kenapa Bu ? tanya Norin penasaran.


"ya kasian aja neng hidupnya kayak yang kekurangan. suaminya aja jarang pulang neng, maklum kerjaannya kenek truk. terus utangnya aja udah numpuk di sini neng, hampir tiap hari ngutang. tapi ibu nya si Susi itu orangnya tanggah dan kalau ngomong besar terus."


" oh, gitu ya Bu. yaudah Bu tolong totalin semuanya berapa ?" Norin menyudahi cerita pemilik warung itu, ia tidak mau ikut ikutan mengghibahi orang.


" totalnya dua ratus sepuluh ribu neng."


kemudian norin mengeluarkan uang dengan jumlah tersebut lalu beranjak pergi dari warung itu setelah pamit pada orang orang yang ada di sana.


Norin melanjutkan lagi jalannya menyusuri jalanan tanah merah dan jika hujan sudah pasti lengket ke alas kaki tapi beruntunnya hari ini cuacanya terang tanpa hujan jadi aman untuk di lewati.


Dan akhirnya tiba lah Norin di sebuah rumah kecil yang berdinding setengah bata, setengah anyaman bambu. Banyak rumput liar yang tumbuh di halaman rumah itu seperti rumah yang tidak pernah di rawat.


Norin berdiri di depan pintu yang sudah nampak keropos seperti di makan rayap. Namun, sebelum ia mengetuk pintu terdengar suara komprengan seperti suara wajan yang di lempar. Lalu terdengar pula suara orang yang tengah berdebat serta seorang anak kecil yang menangis di dalam rumah kecil itu.


" apa Susi lagi berantem sama suaminya?" Norin bermonolog.


Kemudian Norin mengurungkan niatnya. Ia tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Namun, sebelum ia berbalik badan pintu itu terbuka dengan paksa dan nampak lah pria tinggi kurus dengan rambut acak acakan berdiri di ambang pintu menatap nya tanpa kedip dan mulut menganga.


"en eneng mau cari siapa ya ?" tanya pria itu dengan gugup sembari matanya tak lepas dari pandangan sosok wanita cantik nan anggun tengah berdiri mematung di luar pintu.

__ADS_1


__ADS_2