Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 8.6)


__ADS_3

"Ayo kita masuk." Ajak ku kepada mereka berdua.


"Jika kamu tidak baik-baik saja aku akan memberitahu mereka. Ini lebih baik daripada terjadi apa-apa nanti di dalam." Mega menarik lenganku pergi tapi segera ku tahan.


"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak apa-apa. Aku baik-baik saja jadi kamu tidak perlu khawatir." Kataku berusaha tampak normal.


Aku bisa merasakan Mega di sampingku menghela nafas panjang. Dia kemudian mengalah dan membawaku masuk ke dalam masjid. Di dalam kami perlu menggunakan anak tangga agar bisa sampai di lantai dua.


Aku punya kekhawatiran tersendiri ketika naik tangga nanti. Aku takut jika kakiku kembali lemas dan berakhir jatuh. Aku takut, sungguh-


"Melangkah lah dengan hati-hati dan perhatikan kain gamis kalian."


Ini adalah suara Ustad Vano.


Dia?


Dia ada dibelakang kami?


Ah, dia pasti ingin mengawasi kerja kami di atas nanti. Ai, ayolah! Aku harus tetap menjaga pikiranku dan hatiku!


"Terimakasih, Ustad." Mega dan Asri berterimakasih dengan nada enggan?


Yah, apa yang mereka rasakan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang aku rasakan.


Author POV

__ADS_1


Mega dan Asri dengan langkah hati-hati mengapit Ai ketika menaiki tangga. Mereka berdua melihat jika wajah Ai sangat pucat dan bahkan tadi dia juga sempat jatuh di bawah. Melihat kejadian tadi mereka semakin yakin jika Ai sedang tidak baik-baik saja.


Tapi untungnya, meskipun Mega jengkel tapi kali ini dia agak bersyukur dengan keberadaan Ustad Vano dan Ustad Azam di belakang mereka. Dari suara langkah yang mengikuti Mega menebak jika yang ikut pasti lebih dari 4 orang.


Yah, ini tidak apa-apa karena setidaknya jika terjadi sesuatu kepada Ai ada banyak orang yang akan membantu mereka membawa Ai pergi.


Setelah sampai di lantai dua mereka bertiga dengan sadar diri mengambil alat sapu di dalam gudang kecil yang berisi peralatan alat kebersihan. Bahkan ada banyak sekali botol pewangi halal dari bunga mawar yang tersusun rapi di dalam lemari dan belum pernah dipakai.


"Aku akan menyapu di bagian depan. Asri, Ai kalian akan menyapu-Ai? Apa yang terjadi?" Mega berbicara santai sambil menunjuk area depan, lalu dia menoleh ke belakang untuk bertanya kepada kedua temannya ingin menyapu area mana.


Akan tetapi kata-katanya segera terpotong ketika melihat Ai kini sudah membungkuk sambil memegang perutnya. Wajahnya sudah pucat pasi dan bahkan dia juga mulai menangis tanpa suara.


"Aku tidak.. apa-apa.." Ai berusaha berdiri lurus kembali tapi perutnya seolah ditusuk oleh sebuah benda tajam. Itu amat sangat menyakitkan rasanya.


Ai tidak tahan, bahkan tubuhnya pun mulai kehilangan kendali. Mungkin ini sudah batasnya.


"Ai..Ai.. bangunlah!" Teriakan panik Mega menarik perhatian semua orang.


Mereka melihat Ai kini sudah terjatuh di lantai dengan wajahnya yang sudah pucat pasi dan basah karena air mata.


Melihat ini sontak saja Ustad Vano berlari cepat mendatangi mereka, entah disadari atau tidak wajahnya kini tampak khawatir jauh dari kesannya yang dingin.


"Apa yang terjadi, kenapa dia tiba-tiba pingsan?" Tanya Ustad Vano agak marah.


Dia membawa Ai ke dalam pelukan dan langsung mengangkat Ai seperti gaya pengantin. Langkahnya yang cepat dan terburu-buru agak sulit dikejar oleh Asri dan Mega.

__ADS_1


"Kami tidak tahu Ustad..Ai tiba-tiba saja memegang perutnya dan pingsan." Lapor Mega panik.


Dia menyesal, sangat menyesal. Seharusnya dia melarang Ai tadi ikut bersamanya.


Ustad Vano tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tampak acuh tak acuh dilihat oleh banyak pasang mata karena pikiran dan fokusnya saat ini adalah membawa Ai segera menuju pos kesehatan.


"Ustad Vano, tunggu. Tolong berikan dia kepada kami-" Belum sempat Tiara menyelesaikan kata-katanya Ustad Vano lebih dulu memotongnya dengan dingin.


"Kalian tidak akan sanggup membawa Ai turun ke lantai satu, ini lantai dua ingat!" Ucap Ustad Vano dingin dan tidak sabaran.


Dia langsung pergi setelah mengatakan itu diikuti oleh santri-santri yang lain.


Tiara yang sangat malu tidak berani mengikuti Ustad Vano karena jujur ini pertama kalinya dia melihat Ustad Vano kehabisan sabar dan marah. Dia sungguh tidak punya wajah lagi bertemu dengan Ustad Vano nanti. Padahal maksud hatinya baik. Dia ingin melepaskan Ustad Vano dari rumor-rumor yang tidak-tidak tapi malah dibalas dingin oleh Ustad Vano.


"Apa ku bilang, setiap kali ada dia pasti akan ada drama yang ditampilkan. Aku tidak heran sih melihatnya seperti itu karena dari awal melihatnya aku sudah tahu dia akan mencari masalah dengan Ustad Vano. Cek..cek.. orang kota memang sulit berubah." Kata Frida bias.


Dia sudah tidak menyukai Ai. Apalagi setelah melihat kejadian ini dia semakin tidak menyukainya.


"Bahkan bertahun-tahun tinggal di pondok pesantren nyatanya tidak mampu membersihkan hati seseorang dari noda kotor. Apakah aku benar Kak Frida?" Suara dingin Mega menarik perhatian Tiara dan Frida.


Bersambung..


Ketika banyak author pindah ke lapak si kuning (Nove*Me) untuk mencari kesejahteraan, saya pun tergoda.


Hah, mungkin ini adalah karya terakhir saya di lapak ini mengingat kami sungguh sangat dirugikan sebagai penulis.

__ADS_1


Semuanya terima ๐Ÿ


Oh ya, kalau mau jangan lupa mampir ya ke lapak saya di sana dengan nama akun yang sama seperti di sini๐Ÿ


__ADS_2