
"Mashaa Allah, Kak Safira cantik banget. Sifa jamin deh Mas Ali pasti langsung luluh hatinya ketika melihat Kak Safira." Sifa tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuat Safira merona malu sekaligus semakin gugup.
Jujur, ini seperti dia dan Ali pertama kali menikah. Agak canggung namun rasanya manis.
"Kakak juga berharap.. seperti itu." Bisik Safira malu.
Tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba Rumaisha terbangun dari tidurnya.
"Biarkan kami yang mengurus anak-anak. Kamu pergilah temui Ali agar permasalahan kalian bisa segera diselesaikan malam ini." Kata Bunda seraya mendorong Safira keluar dari kamar.
"Tapi..Bunda.." Safira masih belum siap.
Dia ingin berhenti tapi Bunda dan Sifa malah bekerja sama mendorongnya keluar. Ketika Sifa membuka pintu mereka melihat sudah ada Ayah berdiri sambil menggendong Ai yang sudah terlelap. Kemunculan Ayah tiba-tiba membuat mereka segera menutup mulut kompak.
__ADS_1
"Kamar Ai ada di samping perpustakaan." Kata Bunda mengingatkan suaminya.
Mungkin saja Ayah lupa dimana letak tempat tidur Ai mengingat dia jarang naik ke lantai dua.
"Ayah ingin berbicara dengan Safira." Katanya secara tidak langsung menjawab kebingungan Bunda.
Safira tertegun, dia tersenyum tipis dengan postur tubuh yang canggung. Kedua mata dan puncak hidungnya masih merah meskipun sudah diberikan riasan wajah.
"Nak, kemari lah." Kata Ayah sembari mengulurkan tangannya kepada Safira.
"Ayah sudah mendengar semuanya dari Ai dan Sifa." Kata Ayah memulai pembicaraan.
Suaranya masih sama, tidak pernah berubah sejak Safira bertemu pertama kali dengannya satu tahun yang lalu. Seolah-olah kesabaran Ayah terbentang luas dan tidak pernah ada habisnya.
__ADS_1
"Ini semua salah Safira, Ayah. Safira mudah berpikiran buruk dan terganggu." Safira mengakui dengan jujur.
Bila saja dia tidak memulai keributan maka semua orang di rumah ini tidak akan sampai ikut campur membantunya menyelesaikan masalah.
"Di dalam rumah tangga kesalahpahaman, rasa cemburu, sakit hati, kemarahan, dan segala macam emosi lainnya pasti akan terjadi. Ini bisa kita artikan bahwa semua permasalahan yang berkaitan dengan emosi tadi wajar saja terjadi. Itu bukanlah hal yang mengejutkan karena yang terpenting adalah respon kita terhadap semua masalah-masalah itu. Respon apapun yang akan kita berikan maka itu akan menjadi timbal balik hubungan kalian ke depannya. Jadi, bijaklah mengambil langkah ketika menghadapi suatu masalah." Ujar Ayah tidak menyalahkan atau membenarkan Safira.
Ayah mengatakan ini agar Safira mengerti bahwa setiap permasalahan yang terjadi di dalam rumah adalah hal yang wajar dan membutuhkan kebijakan ketika menyelesaikannya. Dengan begini di masa depan nanti daripada bertengkar seperti tadi Safira dan Ali akan merundingkan jalan keluar masalah tersebut.
Bila ada kesalahpahaman maka langkah penyelesaiannya adalah menguraikan kesalahpahaman tersebut untuk menemukan titik kebenarannya.
"Safira mengerti, Ayah." Gumam Safira malu.
Ayah kemudian berkata,"Jadikan ini sebagai pelajaran untuk rumah tangga kalian ke depannya. Bila ada masalah baiknya dibicarakan bersama-sama agar tidak berat sebelah dan merasa dirugikan karena rumah tangga bukan soal ego tapi rumah tangga adalah soal 'kenyamanan'. Bila kalian satu sama lain nyaman maka anak-anak kalian juga akan mendapatkan sisi positifnya. Mereka akan merasa hangat karena lingkungan hangat yang kalian berdua ciptakan."
__ADS_1
Safira tersenyum malu, tangan kanannya yang bebas meremat kain gamisnya karena sekali lagi teringat akan kebodohannya. Dia bodoh dan dia mengakui itu. Karena kebodohannya dia membuat bidadari di surga menghujaninya dengan kata-kata ancaman, bahkan setiap langkah yang dia ambil dilaknat dengan keras oleh Allah SWT.
"Insha Allah, Ayah. Kejadian malam ini akan menjadi pelajaran yang sangat penting untuk Safira." Safira mengingat hal ini dengan serius di dalam hatinya.