
Rasanya begitu gugup. Untuk yang kesekian kalinya Mega diam-diam menatap ke arah pintu masuk dengan perasaan harap-harap cemas campur aduk. Dia ingin sang suami segera datang tapi pada saat yang bersamaan dia tidak ingin suaminya segera datang.
Intinya, saat ini perasaannya sangat campur aduk. Kaki dan tangannya terasa lebih dingin, ia gugup dan jantungnya berdetak kencang sejak awal masuk ke dalam kamar ini-- ah, mungkin ini untuk yang kesekian kali jantungnya terus berdegup kencang hari ini.
Cklack
Ia sangat terkejut. Sontak saja ia menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah cantiknya yang merona merah nan terang.
"Assalamualaikum, wahai istriku?" Suara berat nan serak Ustad Azam membuat tubuh Mega seolah tersengat aliran listrik, terasa geli juga candu.
"Waalaikumussalam, Mas-mas." Dengan canggung Mega bangun dari duduknya.
Berjalan ringan mendekati sang suami yang kini sedang berdiri lurus menunggunya datang. Wajah tampannya yang mempesona membentuk sebuah senyuman manis, membuat hati Mega meleleh dan lemas di waktu yang bersamaan.
Dengan langkah ringan, perlahan Mega mendekati sang suami yang kini telah merentangkan tangannya ingin dipeluk. Malu, Mega sangat malu rasanya dan semakin dilanda panik hingga ia tidak sengaja menginjak gaun pengantinnya sendiri dan,
Brak
Ia jatuh berlutut tepat di depan sang suami.
Membeku, kedua tangan terentang Ustad Azam membeku di udara ketika melihat sang pujaan hati kini sedang duduk berlutut di depannya.
Sontak saja suasana manis nan romantis itu segera berubah menjadi suasana canggung yang sangat memalukan.
Di dalam hatinya Mega berteriak, bagaimana bisa ia begitu ceroboh di malam pertamanya dengan Ustad Azam?
Jatuh - dihadapan - orang - yang- ia - cintai?
Yang, benar saja, ah!
__ADS_1
"Istriku, apa kamu tidak apa-apa?" Setelah tersadar dari kebekuan nya, Ustad Azam buru-buru menghampiri istrinya yang masih belum bergerak sama sekali.
Mega memiliki harapan ingin memutar waktu kembali.
"Aku...aku tidak apa-apa, Mas." Jawab Mega dengan kedua pipi yang semakin merah.
Oh ayolah, kali ini dia memerah bukan karena malu akan suasana manis-manis diantara mereka berdua tapi lebih tepatnya dia malu karena telah melakukan perbuatan yang sangat memalukan!
"Benarkah?" Ustad Azam tidak mempercayainya.
Dia mengulurkan tangannya ingin melihat lutut istrinya tapi sang istri tidak mengizinkannya sambil bersikeras bahwa ia baik-baik saja.
"Aku sungguh tidak apa-apa, Mas." Tolak Mega keras kepala.
Padahal kedua lututnya terasa sakit dan ia yakin di sana pasti sudah ada memar!
Ahh... lagi-lagi dia merutuki dirinya sendiri yang bertindak sangat ceroboh!
"Sungguh, Mas- astagfirullah!" Tanpa mengatakan apapun Ustad Azam langsung mengangkat Mega dan membawanya ke atas ranjang pengantin mereka.
Membaringkannya dengan hati-hati di atas kasur yang telah dipenuhi oleh berbagai macam warna kelopak bunga mawar yang memiliki cita rasa romantis.
"Lutut mu pasti terluka." Kata Ustad Azam khawatir.
Dia lalu mengulurkan tangannya ingin menyingkap kain dari gaun pengantin Mega yang menutupi bagian bawah. Tapi tindakannya ini tiba-tiba membeku ketika menyadari bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh!
Lagi-lagi mereka berdua menjadi canggung.
"Kita...sudah menikah dan kita sekarang telah sah menjadi suami-istri, jadi...tidak masalah bukan aku melihat aurat mu?"
__ADS_1
Mereka sudah resmi menjadi sepasang suami-istri dan seharusnya tidak ada yang salah dari sikap Ustad Azam. Dia khawatir dan ingin memastikan apakah istrinya terluka atau tidak.
Mega menundukkan kepalanya malu, kedua tangannya yang memiliki ukiran indah dari hena saling meremat kuat sebagai pelampiasan rasa gugup.
"Tentu saja, Mas. Seperti yang Mas Azam bilang sendiri bila kita sudah menjadi suami-istri, kita...kita sudah halal untuk satu sama lain jadi..aku tidak keberatan Mas Azam melihat aurat ku." Bisik Mega dengan volume suara yang semakin kecil namun masih bisa didengar oleh Ustad Azam.
Istrinya benar-benar menggemaskan, Ustad Azam tidak tahan dibuatnya. Ia ingin menyentuh pipi istrinya, ingin mencubitnya karena gemas. Namun, dia tidak bisa melakukannya sekarang karena istrinya sedang terluka.
"Kalau begitu...aku akan melihatnya." Izin Ustad Azam dengan kedua telinga yang terasa panas dan mulai memerah terang.
"Em." Mega menjawab malu.
Perlahan Ustad Azam menaikkan kain gaun pengantin istrinya sampai ke atas lutut. Di dalam Mega masih menggunakan kaus kaki panjang sepaha berwarna coklat kulit sehingga saat berjalan atau tersingkap angin, auratnya tidak akan terlihat. Di dalam hati Ustad Azam bersyukur melihat betapa istrinya sangat menjaga auratnya dengan baik.
"Aku... kaus ini, aku akan menurunkannya." Izin Ustad Azam lagi yang lagi-lagi hanya dibalas jawaban singkat malu-malu dari Mega.
Gugup, kedua tangan Ustad Azam bergetar ringan ketika menyentuh kaus sepaha itu. Menariknya dengan hati-hati ke bawah hingga menampilkan kulit putih nan mulus yang telah dirawat dengan hati-hati oleh Mega.
Meskipun belum bisa menyentuhnya, Ustad Azam tahu jika kulit itu pasti terasa begitu lembut dan lentur, apalagi wanginya...Hem, ini adalah wangi bunga yang tidak diketahui namanya. Namun, yang pasti Ustad Azam yakin jika istrinya memiliki wangi sebuah bunga.
"Ini merah," Bisik Ustad Azam terkejut ketika melihat memar merah tipis di atas kedua lutut istrinya.
Dengan kalut, ia menyentuh memar merah itu. Rasanya begitu tidak rela melihat tubuh istrinya memiliki memar ini. Selain menodai kulit lembut istrinya, memar ini juga pasti terasa cukup sakit untuk istrinya.
"Apa ini sakit?" Tanya Ustad Azam sembari membawa pandangannya menatap sang istri yang kini sepenuhnya merona terang.
Mega tersipu-sipu karena kulitnya di sentuh oleh sang suami. Bukan rasa sakit yang ia rasakan melainkan sensasi aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dia hanya merasa sangat nyaman dengan perlakukan lembut suaminya.
__ADS_1
"Ini...tidak sakit, Mas." Akui Mega jujur.
Dia sungguh merasa baik-baik saja dan malahan rasanya cukup nyaman ketika memar itu disentuh oleh suaminya.