
Norin tengah sibuk membantu ibunya memasak di dapur. Memasak bersama merupakan Sebuah kegiatan yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan semenjak Norin bekerja di kota. Dulu saat remaja, Norin sering sekali membantu kegiatan ibunya di dapur. Dan dari ke tiga anak gadisnya, Norin lah yang paling sering membantunya di dapur. Selain itu Norin juga sering memasak sendiri membuatkan makanan untuk ibu dan saudara saudaranya.
"apa Rizal beneran ngga jadi pulang Bu?" tanya Norin di sela sela memasaknya.
"engga, dia bilang weekend ini ada kegiatan di kampus. Mungkin pulangnya Minggu depan Rin!"
"padahal aku udah kangen banget sama si bungsu."
Ibu Aminah hanya tersenyum mendengar ucapan puteri nya.
"ibu belum sholat ashar Rin, apa ibu tinggal kamu masak sendiri?"
"iya Bu, aku masak sendiri aja."
Norin sibuk memasak sendiri. Ia mau masak capcay sayur, beef triyaki dan omelet sayur daging sebagai menu untuk makan malamnya nanti. Ketika Norin tengah membuat omelet, tiba tiba ia teringat pada sosok penyuka omelet tersebut. Sosok yang sering memeluk dan menyentuh bibirnya dengan paksa.
"kenapa aku masih memikirkan pria pemaksa itu? kenapa aku merasa merindukannya? ngga Rin, ngga. kamu jangan memiliki perasaan lebih pada pria itu," lirihnya tanpa sadar.
"siapa sosok pria yang sedang kamu fikirin Rin? apa ibu boleh tau?" tanya sang ibu yang tiba tiba ada di belakangnya dan mendengarkan lirihannya.
Norin terperangah kaget, kemudian ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"apa anak ibu yang cantik ini sedang jatuh cinta?" ucap sang ibu yang masih berdiri di belakangnya.
Norin membalikkan tubuhnya."kok ibu belum pergi sholat?"
"untung ada yang ketinggalan jadi ibu bisa tau suara hati anak ibu yang paling cantik ini. Ngga apa apa kalau ngga mau cerita ke ibu, ibu yakin suatu saat nanti kamu pasti cerita. yaudah kamu lanjutin lagi masaknya ya."
Kemudian Bu Aminah pergi meninggalkan anaknya yang tengah diam mematung.
" aduh ini mulut kenapa harus bersuara?" Norin bermonolog sembari memegang bibirnya.
Setelah itu Norin melanjutkan lagi masaknya tanpa mau memikirkan apa pun.
makanan sudah tersaji cantik di meja makan. Lalu, Norin bergegas untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
Suara salam dari arah luar terdengar oleh kedua telinga ibu aminah, kemudian ia bangkit dari sajadahnya, membuka mukena serta melipat sajadahnya lalu beranjak keluar menghampiri sumber suara itu.
"assalamualaikum bu!" sapa sosok di hadapannya.
"wa'alaikum salam, lho pak Rio, tumben sore hari ke rumah saya?"
Pria itu memegang tengkuknya, sebenarnya ia juga merasa malu bertamu sore hari tapi rasa rindu yang membuncah di hatinya telah menggerakkan kakinya membawanya ke rumah ini.
"maaf ya Bu, apa saya boleh bertamu sore gini ?" ucap pria tinggi itu sembari tersenyum.
Bu Aminah tersenyum."boleh lah pak, siapa yang mau larang. mari masuk pak!"
"terima kasih Bu!" Kemudian Rio memasuki rumah sederhana Bu Aminah dan duduk di sofa ruang tamu setelah Bu Aminah mempersilahkan dirinya untuk duduk.
"pak Rio mau bertemu dengan saya atau mau bertemu dengan.......,"
__ADS_1
Rio ber dehem ia merasa panas dingin untuk bilang jujur bahwa ia ingin bertemu dengan Puteri nya. Bu Aminah yang mengerti dengan tingkah pemuda tampan di hadapannya itu menyungging kan senyum.
"Norin nya masih mandi pak, biar saya temani pak Rio ngobrol dulu sebelum Norin kemari."
Rio mengangguk, untuk mengatakan "iya" saja rasanya lidahnya sulit di gerakkan karena saking gugupnya.
"ibu....ibu...," Norin memanggil ibunya tapi tidak ada sahutan.
" ibu kemana ya?" gumam Norin.
Norin mencari ibunya. Lalu, ia masuk ke ruang tamu ternyata ibunya tengah duduk di sofa ruang tamu itu.
"Norin manggilin ibu kok ngga nyaut sih Bu, Norin mau minjem sisir. Sisir Norin ngga tau di kemanain sama nanya kemarin," ucap Norin sambil mengelus elus rambut indahnya dengan jari tangan.
Norin hanya fokus pada ibunya yang duduk di pinggir sofa tanpa ia sadari di sofa lain ada sosok pria yang tengah menatapnya tanpa kedip.
"subhanaallah bidadari cantik sekali" Rio bermonolog.
Bu Aminah melirik pada arah dimana Rio tengah duduk sembari menatap kagum pada ke indahan sosok wanita di depannya.
Norin mengikuti lirikan ibunya dan nampak lah sosok pria tampan yang tengah duduk di sofa samping kirinya.
Norin terperanjat kaget." mas..mas Rio!" kemudian ia berlari ke dalam.
Norin merasa malu sekali dengan penampilannya yang hanya memakai kimono lengan serta kaki pendek menunjukan kulit putih mulus serta kaki jenjang dan rambut panjangnya.
" ehem." deheman Bu Aminah menyadarkan kediaman pria yang tengah menatap kagum pada anaknya.
Rio terperangah."ma maaf Bu!"
Rio hanya manggut kan kepala sedikit lalu tersenyum kaku.
Norin kembali lagi setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tertutup. Norin tersenyum pada pria yang tengah duduk tak jauh dari pintu masuk keluar rumah.
"ibu kok ngga bilang kalau ada pak Rio di sini?" tanya Norin setelah ia ikut duduk bersama mereka di sofa tersebut.
"lah, kamu kan lagi mandi Rin!"
"Norin kalau mandi ngga pernah lama Bu!"
"massa, ya udah ibu mau ke dapur dulu. kalian ngobrol aja ibu tinggal ngga apa apa ya pak Rio?"
"oh, iya Bu, ngga apa apa."
Keheningan di ruang tamu pun terasa. Entah mengapa Rio menjadi gugup setelah bertemu dengan wanita yang beberapa hari ini mengisi fikirannya. Begitu pula dengan Norin, ia gugup dan malu atas penampilan nyelenehnya tadi.
"ehem, a apa saya mengganggu dek Norin sore ini?"
Norin menggelengkan kepalanya sembari menunduk.
"ngga pak, saya lagi santai aja kok."
__ADS_1
Kemudian Bu Aminah muncul dari dalam dengan membawa nampan berisi satu cangkir teh panas dan dua toples cemilan.
"duh Bu, jadi ngerepotin ibu," ucap Rio.
"sama sekali ngga direpotin pak, gadis saya ini ada tamu kok ngga disuguhi minuman," sindir Bu Aminah sambil melirik Norin.
Sementara yang dilirik cuma menggaruk tengkuknya sembari nyengir. Dan Rio menatapnya dengan gemas.
Tak terasa waktu menunjukan hampir menjelang magrib. Rio ijin pamit pada Norin serta ibunya. Namun, Bu Aminah melarangnya pulang dengan alasan sebentar lagi Maghrib dan memintanya untuk sholat di rumahnya saja.
"apa nanti saya ngga ngerepotin ibu serta Norin kalau saya sholat di sini?"
"sama sekali ngga pak Rio, tuh beberapa menit lagi pasti terdengar bedug."
" terima kasih kalau begitu Bu, sudah mengijinkan saya sholat di rumah ini."
Tak lama suara adzan berkumandang dan mereka bersiap siap untuk berwudhu.
Bu Aminah menggelar tikar dan sajadah di ruang keluarga, mereka akan sholat berjamaah. Setelah itu mereka melaksanakan sholat berjamaah dan Rio yang menjadi imamnya.
"ya Allah udah lama sekali aku tidak pernah sholat berjamaah seperti ini setelah suamiku meninggal dunia. Andai saja pak Rio berjodoh dengan anakku Norin, aku akan bahagia sekali. Sosok Rio bisa menjadi imam di rumah ini menggantikan sosok ayahnya," Bu Aminah bergumam dalam hati setelah mereka selesai mengerjakan sholat maghrib.
Norin menoleh pada wanita di sampingnya yang tengah berdoa sambil berurai air mata. Norin langsung memeluk ibunya dan mengusap air matanya. Rio melihat itu merasa terharu sekali, ibu dan anak yang tengah saling menguatkan.
Dua puluh menit berlalu, Rio ijin pamit untuk pulang. Namun, lagi lagi Bu Aminah mencegahnya.
" pak Rio Jangan pulang dulu, kita makan malam dulu, Norin tadi masak banyak. pak Rio belum pernah mencicipi masakan Norin kan ?"
" aduh Bu, saya jadi merasa ngga enak. dari tadi merepotkan ibu sama dek Norin terus."
"sama sekali ngga repot pak Rio, justru saya senang sekali pak Rio mau bertamu di rumah sederhana saya ini."
"baiklah kalau ibu memaksa," jawab Rio lalu tersenyum lebar.
Kemudian mereka beranjak ke dapur dan duduk di meja makan.
"silahkan pak Rio di cicipi masakannya Norin!"
"terima kasih Bu, dek Norin," ucap Rio lalu mulai menyendok kan makanan itu dan di letakkan di atas piringnya lalu menyantapnya.
Bu Aminah dan Norin hanya tersenyum saja.
"hmm enak banget masakannya, saya ngga pernah makan seenak makanan ini Bu!" puji Rio sambil mata teduhnya melirik ke arah Norin yang tersenyum sambil mengunyah.
"Norin memang jago masak pak Rio, dari kecil dia sudah biasa masak."
"oh ya, pantas aja," ucap Rio sambil lagi memasukan makanan ke mulutnya.
Norin hanya tersenyum saja mendengar pujian dari pria dewasa di hadapannya.
" saya kalau di rumah paling cuma masak mie Bu, kalau mau makan nasi ya beli di warteg."
__ADS_1
" oh ya, kasian sekali, makan nya pak Rio cepat cari istri biar ada yang masakin."
"pengennya sih begitu Bu, tapi calonnya aja belum dapat Bu!" jawab Rio sembari ekor matanya melirik pada wanita yang tengah makan dalam diam.