Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.14)


__ADS_3

"Gak, gak mungkin! Abi, Umi ini semua gak mungkin hiks..." Almaira jatuh lemas, terisak patah hati melihat laki-laki yang ia cintai kini telah resmi mendapatkan restu dari kedua orang tua Ai.


Rasanya menyakitkan, bahkan bernafas pun rasanya begitu sulit. Rasanya sangat menyakitkan, tubuh dan batinnya tidak bisa bertahan lagi. Ia jatuh merosot ke lantai, menangisi ketidakadilan yang ia dapatkan malam ini.


"Tenangkan hatimu, Nak, lapangkan lah. Jika hatimu ikhlas, maka Allah akan menghadiahi mu sebuah keajaiban yang tidak disangka-sangka." Umi merangkul pundak putrinya, menghapus jejak air mata yang mengalir lembut di wajah putrinya.


Almaira menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia hanya menginginkan Ustad Vano, dia hanya ingin bersama dengan Ustad Vano. Bila bukan dia, Almaira tidak akan pernah bersama laki-laki lain karena hatinya sudah menjadi milik Ustad Vano seorang.


"Nak, ketahuilah apakah ini ujian atau sebuah teguran dari Allah untukmu?" Pak Kyai menggenggam tangan putrinya yang masih terisak menyedihkan.


"Apa... apa yang Abi maksud?" Almaira tidak mengerti.


"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka berbuat riya' atau menyombongkan dirinya sendiri. Bukankah Allah sudah menjelaskannya di dalam Al-Qur'an surat Al - Maun, bahwa sia-sia lah orang yang mengerjakan sholat jika orang tersebut suka berbuat riya'. Apa yang Almaira dapatkan dari surat ini?" Abi bertanya dengan nada yang lembut.


Almaira terdiam, beberapa detik kemudian ia mulai sesenggukan menangis. Ia peluk erat-erat leher Pak Kyai dengan suara isakan tangis yang kian menyayat hati.


"Almaira salah, Abi, Almaira salah! Almaira gak mau dibenci Allah dan Almaira juga tidak mau bila sholat Almaira selama ini menjadi sia-sia hiks..hiks.."

__ADS_1


Hatinya terketuk, ada ribuan penyesalan yang datang membanjiri hatinya. Tidak pernah sekalipun ia merasa begitu malu dan hina kecuali malam ini. Malam dimana Allah menegurnya melalui kejadian ini, membuka mata dan hati Almaira selebar mungkin bahwa,


Sesungguhnya dia begitu berdosa dan telah durhaka kepada Allah SWT. Hatinya sakit dan terasa sesak karena sebuah penyesalan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Maka perbaikilah hatimu, Nak. Tata kembali dan serahkan semuanya kepada Allah. Meminta ampunan lah kepada Allah agar langkah mu diridhoi-Nya, dan kemudian mintalah maaf kepada Aishi, Nak. Perbaiki hubungan silaturahmi mu agar Allah membuka pintu maaf pula untukmu. Lalu setelah itu lapangkan lah hatimu untuk menerima semua ketetapan Allah dan tetap rendah hati, Nak. Allah suka melihat hamba-Nya sederhana dalam duniawi namun berlebihan di dalam beribadah. Bukankah ibadah senantiasa akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah?" Kata-kata ini bagaikan cambuk untuk Almaira.


Ia lupa, lupa kepada siapa seharus-Nya ia kembali. Ia lupa jika Allah senantiasa melihat semua yang ia lakukan dan katakan kepada Aishi.


Sungguh betapa lancang dirinya!


"Abi, Umi...aku ingin berbicara dengan Aishi." Pintanya dengan suara lemah.


"Tentu, Nak." Abi membantu Almaira berdiri dan berjalan mendekati Ai yang sedang dikelilingi oleh teman-temannya.


Sedangkan Ustad Vano telah pamit undur diri dari beberapa menit yang lalu setelah mendapatkan restu dari Ali dan Safira.


"Aishi," Suara lemah nan canggung Almaira menarik perhatian banyak orang termasuk Safira sendiri.

__ADS_1


Tidak seperti sebelumnya, kini Safira tampak jauh lebih lembut dan murah senyum, bahkan saat berhadapan dengan Almaira pun ia masih menyunggingkan senyum dibibir nya. Ia yakin bila Almaira bukanlah wanita yang dangkal akan ilmu.


"Nak, bicaralah." Safira mendorong putrinya agar lebih dekat dengan Almaira.


Semua tawa dan keceriaan teman-teman kamar Ai segera menguap ketika melihat kedatangan Almaira. Mereka kompak menutup mulut, menatap Almaira dengan rasa antisipasi.


Almaira meremat kedua tangannya malu.


"Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan di dunia ini tidak ada yang namanya cacat, melainkan mereka diberikan sebuah kelebihan yang akan menjadi pemberat timbangan di akhirat kelak. Wahai Aishi Humaira, sungguh hina hatiku sebelumnya begitu berani merendahkan 'hamba-hamba' pilihan Allah. Aku begitu bermandikan dosa mengagung-agungkan diriku sendiri yang sesungguhnya penuh akan kekurangan dan kelemahan. Aishi, tolong jangan tutup pintu hatimu untukku. Tolong jangan tutup pintu maaf mu untukku karena sungguh...aku sangat menyesal telah menzolimi mu selama ini. Aku sungguh menyesal ya, Aishi." Ia mulai menangis lagi, menangisi dirinya sendiri yang terlalu terbuai dalam rayuan dunia.


Padahal dunia ini adalah panggung sandiwara yang tidak lebih dari tempat untuk berteduh ketika hujan datang.


Aishi, bahkan semua orang sangat terkejut mendengar permintaan maaf juga penyesalan Almaira.


"Kak Almaira, aku memaafkan mu." Ai akhirnya berbicara.


"Dan aku juga meminta maaf kepada Kak Almaira karena telah mematah-"

__ADS_1


"Aishi, kamu tidak salah. Kamu tidak salah namun akulah yang salah di sini. Aku terlalu berharap kepada Ustad Vano hingga aku lupa jika ada Allah adalah satu-satunya tempatku berharap. Ini adalah teguran Aishi, ini adalah teguran dari Allah agar aku tidak lagi berpaling darinya dan itu semua melalui kamu."


Semua orang terbuai dalam rasa syukur karena terjalinnya tali silaturahmi yang lebih erat lagi. Di samping itu karena kejadian ini ada beberapa orang yang kembali tersadar dari kesalahannya. Mereka tersadar telah melangkah terlalu jauh. Berbalik, menyusuri jalan yang seharusnya mereka tempuh yaitu jalan yang bermandikan cinta kepada Sang Pencipta, Allah SWT.


__ADS_2