
"Dek, mungkin... mungkin itu hanya perasaan kamu saja." Kata Mega menghiburnya.
Jujur, santri perempuan pertama yang Mega pikirkan telah berhasil menarik perhatian Kevin adalah Asri, sahabatnya. Mulai dari kejadian di sawah hari itu, ia benar-benar curiga bila Kevin juga sebenarnya tertarik dengan Asri apalagi saat itu Kevin memaksa Asri untuk menggunakan sarung yang ia bawa.
Sasa menggelengkan kepalanya membantah,"Aku yakin dengan perasaan ku, Kak, bahwa Kevin tertarik pada santri perempuan itu. Apalagi saat mendengar kabar santri perempuan itu telah keluar dari pondok pesantren, Kevin terlihat sangat panik dan bergegas keluar dari pondok bersama Hana. Dia lebih memilih mengejar santri perempuan itu ke desanya daripada pulang bersamaku."
Hati Mega terketuk,
Pulang ke desa?
Apakah santri perempuan itu benar-benar Asri?
Pasalnya Asri berasal dari desa. Tapi, jika santri perempuan itu memang Asri, lalu apa alasannya keluar dari pondok pesantren?
Asri memang tidak sepintar Ai tapi ia cukup antusias belajar dan menuntut ilmu di pondok pesantren. Dia memiliki cita-cita menjadi seorang penghafal Al-Qur'an, selalu bermimpi melihat Bapak dan Ibunya di pasangkan mahkota kemuliaan oleh Allah SWT di hadapan seluruh umat manusia kelak di akhirat.
Mega ingat, Asri selalu mengatakan itu dan ia yakin jika Asri tidak akan pernah membuang mimpinya itu karena Asri memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkannya.
"Aku tahu Kakak sudah menyadari siapa santri perempuan yang aku maksud itu." Kata Sasa kini mulai menatap mata penuh kejutan Mega.
__ADS_1
"Tidak mungkin..." Dia tidak percaya jika Asri keluar dari pondok pesantren.
"Benar, itu memang dia, Kak. Gadis yang Kevin berikan sarung di hari itu, ia tiba-tiba keluar dari pondok pesantren tanpa alasan yang jelas dan membuat Kevin menjadi kelimpungan. Demi gadis itu, ia rela tidak pulang ke kota. Dan sekarang...aku tidak tahu kabar mereka berdua. Mungkin saja... mungkin saja Kevin telah menyatakan perasaannya kepada sahabat Kak Mega itu, dan mungkin saja mereka kini telah resmi menjadi sepasang kekasih-"
"Sasa," Potong Mega dengan perasaan campur aduk.
Berita ini begitu tiba-tiba dan ia khawatir terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu. Karena Asri tidak akan pernah menyerah pada mimpinya kecuali ada hal darurat yang memaksanya berhenti.
Hal darurat, tapi apa?
"Ketahuilah, dek, jika sahabat Kakak bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan." Apapun itu, pertama-tama ia harus menjernihkan pikiran Sasa terlebih dahulu.
Mega mengangguk ringan, ia tidak membantah apa yang Sasa katakan tadi.
"Dia memang menyukai Kevin tapi bukan berarti dia harus memiliki Kevin." Kata Mega memberitahu.
"Asri adalah pengamat yang baik, dek. Perasaannya ini sangat peka, dek. Karena kepekaannya ini ia mudah mengetahui apa yang orang rasakan sekalipun orang itu tidak berbicara. Begitu pun hubungan mu dan Kevin, dia sudah lebih dahulu tahu sebelum kamu memperjelas nya hari itu. Dan apa kamu tahu apa yang dia katakan setelah mengetahui hubungan kalian?" Mega bertanya tanpa membutuhkan jawaban balasan.
"Dia bilang akan menjaga jarak dari Kevin dan mulai mencari mangsa baru. Kakak tahu dia berbohong dan Kakak tahu melupakan seseorang itu tidak mudah karena Kakak pernah merasakannya. Tapi dia kuat, dek, dan dia memegang kata-katanya dengan teguh. Dia mengatakan tidak akan pernah lagi mendekati Kevin maka sejak itu pula dia tidak pernah mendekati Kevin. Karena ia tahu, dek, pasti rasanya sakit melihat tunangan yang kamu cintai di dekati oleh gadis lain. Dia mengerti bagaimana rasanya dan karena itulah dia tidak akan pernah mendekati Kevin lagi. Alih-alih mendekati Kevin, dia lebih suka menghibur hatinya dengan berpura-pura mencari santri lain. Bersikap seolah-olah Kevin adalah orang asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya." Sambung Mega dengan keyakinan yang sangat kuat mengenai sahabatnya itu.
__ADS_1
Asri adalah orang yang seperti itu, ia mudah membaca perasaan orang lain namun juga paling mengerti situasi orang lain. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungan orang lain, selain karena tidak ingin menyakiti hati sesama perempuan tapi ia melakukan itu murni karena hatinya.
Hatinya tidak mengizinkan Asri berbuat egois dan hatinya pula yang menginginkan Asri menjadi gadis yang bersih. Ia mungkin menyukai seseorang tapi itu bukan berarti ia harus memilikinya.
"Benarkah...lalu kenapa Kevin mengejarnya sampai ke desa tempat tinggalnya jika mereka benar-benar tidak memiliki hubungan?" Hati Sasa goyah sesaat.
Mega menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Aku tidak tahu alasan kenapa Kevin mengejar Asri ke desanya, namun satu hal yang aku tahu jika Asri tidak akan pernah mengingkari janji yang ia buat sendiri. Jika kamu tidak percaya, maka tunggu sampai ia kembali ke kota dan lihat baik-baik apakah semua yang kamu pikirkan terjadi."
Sasa terdiam. Ia menundukkan kepalanya berpikir. Mega tentu saja tidak mengganggunya karena ia tahu Sasa butuh waktu untuk mencerna semuanya. Di samping itu ia benar-benar mengkhawatirkan Asri. Ia pikir Asri akan ikut ke kota untuk menghadiri acara pernikahannya. Tapi siapa yang menyangka jika Asri malah keluar dari pondok pesantren.
Dan hal yang paling Mega sesalkan adalah kenapa ia sampai lupa menyimpan nomor kontak Asri dan Ai. Karena dengan begitu mereka bisa saling menghubungi dan bisa saling membantu untuk menyelesaikan permasalahan masing-masing.
Tapi sekarang apa, dia tidak memiliki kontak Ai dan Asri. Mungkin Ai bisa ia hubungi lewat Ustad Azam, tapi bagaimana dengan Asri?
Dia tinggal di desa, tapi desa apa?
Dan...apa sebenarnya yang membuat sahabatnya sampai harus putus sekolah?
__ADS_1
Mega tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan sahabatnya itu.