Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 3.6)


__ADS_3

"Benarkah? Apa kamu serius?" Jika menyangkut makanan orang yang paling antusias adalah Asri.


"Ya, kalian bisa membaginya. Ini lebih baik daripada makanan-makanan ini mubasir."


Mereka sangat senang mendengar. Mereka lantas menyisakan satu plastik untuk Ai dan dengan suka rela menyusunnya di dalam lemari Ai yang paling bawah. Makanan-makanan yang di dalam kantong plastik itu ternyata berisi roti basah dari merek tertentu dengan masa kadaluarsa 1 minggu lagi. Artinya roti ini langsung dibeli ketika baru sampai di tempat perbelanjaan. Kemudian ada juga permen jelly yang sering mereka lihat di tv. Bentuk-bentuknya sangat lucu dan menggugah selera. Selain itu, ada beberapa biskuit susu dan beberapa minuman yang mengandung banyak vitamin. Mereka semuanya menyusunnya dengan rapi di dalam lemari Ai.


Setelah selesai, mereka membawa dua kantong plastik yang lain dan membagikannya kepada teman-teman kamar yang lain. Mereka berbagi dengan senyuman antusias di wajah masing-masing. Membuat suasana semakin akrab lagi.


Karena ini pula mereka semakin menyukai Ai. Kesan mereka kepada Ai semakin baik dan mereka juga tidak terlalu malu untuk menyapa Ai.


Dari sini mereka mulai mengikat tali kekeluargaan dan membentuk suasana yang sangat damai.


"Bunda dan Ayah tidak suka membeli makanan di luar. Daripada membeli mereka lebih suka membuatnya secara pribadi. Tapi.. mungkin saja mereka terpaksa melakukan ini karena aku sekarang berada di pondok pesantren. Tidak, aku sangat mengenal mereka. Semua ini terlalu berlebihan untukku. Mereka tidak mungkin.. mungkin.. mungkin saja." Ai mendesah bingung.


Di dalam hatinya ada sedikit harapan untuk seseorang tapi kepalanya seolah menyiramkan air dingin kepadanya berulangkali.


Dia tidak mengenaliku sekarang dan dia sudah melupakanku. Jadi, aku ini siapa untuknya sehingga begitu berani mengharapkannya melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Lagipula, sejak pertemuan pertama setelah berpisah jauh dengannya, dia selalu memberikan ku bahu dingin. Itu sangat dingin dan untuk beberapa kali juga terasa sesak. Ya Rabb, namanya tidak pernah hilang dalam sujud ku dan namanya selalu hidup di malam sepertiga ku.


Tapi apakah ini cukup adil untuknya ya Rabb, apakah adil untuknya di cintai oleh orang sepertiku yang tidak sempurna?


Apakah adil untuknya yang terlahir sempurna dicintai olehku yang tidak sempurna?

__ADS_1


Ya Rabb, apa aku ini terlalu egois memaksa Mu untuk menjadikannya menjadi milikku?


Aku takut ya Rabb, aku takut rasa ini membuatku serakah.


...🍁🍁🍁...


Ini sudah masuk pukul 3 sore dan sebentar lagi akan masuk waktu shalat ashar. Bagi sebagian orang mereka memanfaatkan waktu ini untuk pergi mandi karena tidak ingin mengantri nanti.


Toh, mereka hanya tinggal di dalam masjid jadi tubuh mereka akan tetap bersih.


Ai, Asri, Herlina, Sari, dan Sulastri memutuskan untuk mandi sekarang. Mereka pergi ke kamar mandi putri yang besar dan luas. Di sini ada pilihan kamar mandi. Kamar mandi pertama adalah kamar mandi yang digunakan secara bersama-sama. Mereka bisa berkumpul mandi di sini dengan satu syarat, yaitu tidak telanjang sepenuhnya. Mereka harus menggunakan kain ketika mandi agar aurat tetap terjaga. Bahkan sekalipun mereka adalah sesama perempuan setan tidak akan pernah melepaskannya. Mereka akan menggunakan celah itu untuk menimbulkan hasrat di hati masing-masing. Menumbuhkan penyakit di antara kaum perempuan entah itu rasa cemburu atau kesukaan terlarang. Inilah yang ditakutkan pondok pesantren sehingga mereka menetapkan aturan itu.


Kedua kamar mandi ada di samping kanan dan kiri. Kamar mandi besar terdiri dari 7 ruang sedangkan kamar mandi kecil terdiri dari 15 ruang. Ini bisa dibilang cukup mengingat ribuan santriwati yang tinggal di sini.


Dan yah, antrian panjang tidak bisa dihindarkan.


Bahkan saat ini saja sudah ada banyak orang yang mandi. Untungnya mereka lebih banyak di kamar mandi besar daripada kecil.


"Ayo kita mandi di sini." Ajak Asri sambil menunjuk kamar mandi besar nomor 3. Sepertinya di dalam masih ada tempat untuk mereka.


Mandi bersama?

__ADS_1


"Aku ingin mandi di sini." Kata Ai menunjuk kamar mandi kecil yang ada di depannya.


Kebetulan itu kosong.


"Kenapa? Bukankah di sini lebih menyenangkan karena kita bisa mandi bersama-sama. Hem.. lagipula kita menggunakan kain jadi kamu tidak usah malu." Kata Sari tidak setuju.


Ai tersenyum tipis, bagaimana bisa dia mengatakan jika mereka berbeda?


Jika mereka tahu dia berbeda maka mungkin mereka akan berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.


"Sejujurnya..aku tidak terbiasa." Kata Ai ragu. "Aku lebih suka mandi sendiri." Sambungnya lagi.


Di sini Sari agak tidak puas. Mereka sudah berteman jadi seharusnya mereka tetap bersama. Dia bahkan bertanya-tanya apa Ai malu karena badannya tampak rata?


Hei, dia mengatakan ini karena lihat saja dada Ai. Semua orang meskipun menggunakan jilbab besar tapi dadanya masih terlihat. Sedangkan Ai itu masih saja datar. Bahkan saat di kamar tadi dia sering memperhatikan tubuh Ai yang menurutnya terlalu kurus untuk ukuran seorang perempuan.


Pantas saja dia malu mandi bersama kami, lihat saja badannya..itu sangat kurus. Hah.. kekayaan nyatanya tidak berguna untukmu. Batin Sari tertawa.


"Tidak apa-apa, Ai. Jika kamu tidak terbiasa maka kamu bisa mandi di sana dan kami akan mandi di sini. Nanti setelah bersih kita akan saling menunggu agar kembali bersama-sama." Kata Herlina tidak mempermasalahkannya.


Bukankah ini adalah hal yang wajar?

__ADS_1


__ADS_2