
Dug
Dug
Dug
Ya Allah, apa yang sedang aku rasakan saat ini?
Dadaku berdebar sangat kencang ketika melihat laki-laki asing itu. Laki-laki tampan yang berdiri dengan kepala menunduk di belakang Ustad Azam, aku tahu dia hanyalah seorang santri. Padahal aku hanya main-main saja dan tidak bermaksud serius jika membicarakan tentang seorang laki-laki. Tapi..tapi kenapa hari ini semuanya tiba-tiba menjadi serius?
Jantungku langsung bereaksi ketika melihatnya dan ditambah lagi tubuhku rasanya menjadi aneh. Ini agak panas tapi aku menyukainya.
Apa aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama? Tapi sepertinya ini terlalu cepat. Aku hanya melihatnya dari sini saja dan tidak pernah berbicara dengannya, aku juga tidak tahu sikap baik dan buruknya jadi aku seharusnya tidak jatuh cinta.
Hanya saja, kenapa jantungku masih berdebar kencang saat melihat ataupun memikirkannya?
Aku sangat gugup sekarang. Aku tiba-tiba punya keinginan untuk menyapa atau mendekatinya tapi aku tidak seberani itu. Ya Allah, sebenarnya perasaan apa yang sedang aku rasakan saat ini?
Tidak! Tidak! Tidak!
Aku harus segera mengalihkan pikiran ku!
Aku harus memikirkan sesuatu untuk melupakan tentang laki-laki asing itu. Hemph, ayo Asri! Kamu pasti bisa.
"Mashaa Allah, Ustad Vano dan Ustad Azam mau demo apa bawa banyak santri ganteng ke sawah." Nah, jika aku mengatakan lelucon ini apakah Ai dan Mega berbicara?
Apakah mereka mau membantuku mengalihkan perhatianku dari laki-laki itu?
__ADS_1
Aneh, itu tidak terjadi. Dari sudut pandang ku mereka saat ini hanya menatap ke sana dengan ekspresi wajah yang cukup rumit. Apa caraku salah atau bagaimana?
Tidak benar, biasanya mereka akan langsung merespon ku!
Baiklah, aku sangat gugup sekarang. Aku harus mencari topik pembicaraan lagi agar mereka mau merespon.
"Apa yang sedang mereka bicarakan dengan mereka bertiga?" Jujur, aku juga sebenarnya ingin tahu dengan isi pembicaraan mereka.
Aku sangat tidak rela melihat wajah sok pemalu Kak Frida di sana menatap malu-malu ke arah wajah dingin Ustad Vano. Ya Allah, padahal sudah jelas-jelas Ustad Vano tidak tertarik kepadanya dan lebih tertarik dengan Ai!
Hem, Ustad Vano menyukai Ai. Mungkin..aku tidak yakin tapi sebenarnya agak yakin.
Lagi-lagi mereka berdua tidak merespon apa yang aku katakan. Bukannya merespon mereka malah terlihat sedang memikirkan sesuatu sehingga aku tidak ingin lagi menarik perhatian mereka berdua.
Aku tahu..Hem, sejujurnya aku tahu Ai menyukai Ustad Vano. Aku tahu karena Ai sendiri mudah ditebak lewat ekspresi pemalu diwajahnya. Aku juga kadang memperhatikannya jika wajah Ai seringkali memerah bila bertemu dengan Ustad Vano.
Hanya saja aku tidak tahu permasalahan apa yang membuat Mega sampai harus ingin bersembunyi dari Ustad Azam.
"Mega, kemana kamu ingin pergi?" Mega tiba-tiba berjalan meninggalkan ku dengan Ai tanpa mengatakan sepatah katapun.
Suasana hatinya pasti saat ini sangat buruk.
Jujur saja, Ustad Vano dan Ustad Azam menurutku disukai oleh banyak gadis di pondok pesantren ini. Hem, ini tidak mengherankan melihat mereka berdua tampan dengan tubuh tinggi yang membuat iri, bermandikan ilmu, dan berwajah dingin.
Ini adalah gambaran yang sempurna dari seorang laki-laki.
Jadi, melihat mereka berbicara dengan gadis lain pasti membuat Ai dan Mega menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
"Aku akan menggali kentang. Kita lebih baik bagi tugas saja agar cepat menyelesaikan hukuman ini dan segera kembali ke asrama." Katanya mengkonfirmasi dugaan ku.
Dia benar-benar dalam mood yang buruk.
Dia butuh sendiri dan aku tidak akan menahannya di sini.
Hah..
"Asri, aku juga akan pergi. Aku akan memetik timun di sana." Katanya sambil menunjukkan ku sudut baris keempat yang berbatasan langsung dengan wilayah bayam.
Eh, Ai juga pergi?
"Jadi kita benar-benar berpencar?" Aku merasa ini sebenarnya agak lucu.
Dia tersenyum tipis,"Ya, ini kita lakukan agar segera selesai dan bisa kembali ke asrama."
Yah, dia benar. Aku juga tidak ingin lama-lama di sini dan ingin segera kembali ke asrama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memetik bayam karena Mega sudah mulai menggali tanah mencari kentang." Dari sini aku bisa melihat Mega sudah duduk berjongkok di tanah dan mulai menggali tanah.
Lalu aku dan Ai berpisah. Ai berjalan menyusuri barisan yang paling ujung dari wilayah timun. Sedangkan aku harus membawa keranjang sayur ku di wilayah bayam.
Bayam tidak sesulit menggali kentang atau memetik timun yang agak berduri. Aku hanya perlu duduk di tanah, mencari pohon yang sudah tua dan memotongnya.
Ini cukup mudah tapi jalannya agak licin.
"Tidak ada pisau atau sarung tangan, maka jadilah menggunakan tangan kosong. Untung saja di desa Bapak sering menanam bayam sehingga aku tidak perlu bingung ketika memetiknya." Aku memilih yang cukup tua dan mematahkan batangnya dengan cepat.
__ADS_1
Langkah ini terus aku lakukan sampai akhirnya keranjang sayur ku hampir penuh.