Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 9.5)


__ADS_3

Bertahun-tahun..ini sudah bertahun-tahun maka akan sangat sulit rasanya untuk berdiri kembali. Menata hati yang sudah dibalut dengan kain kasa compang camping yang sarat akan kekecewaan.


"Itu jelas kamu yang mengingkari semuanya, Mega! Itu kamu! Sekarang untuk melarikan diri dariku kamu membuat alasan yang membingungkan. Kepura-puraan apa dan kenapa aku harus lelah bersamamu? Kenapa aku harus tersiksa bersamamu? Bukankah kamu satu-satunya orang yang paling tahu perasaanku? Bukankah kamu selama ini tahu apa yang aku inginkan?" Ustad Azam sungguh tidak mengerti kenapa Mega membuat alasan ini untuk menjauh darinya.


Dia tidak mengerti mengapa Mega menjauhinya, padahal jelas-jelas orang yang ingin mempertahankan pertunangan ini sejak awal adalah Ustad Azam. Dia berdalih dengan berbagai macam alasan agar mereka masih bisa terus bersama. Tapi dia sungguh tidak berdaya ketika mendengar penolakan tegas dari pihak Mega.


Saat itu mereka mengatakan Mega masih belum dewasa dan masih belum saatnya memikirkan hubungan serius. Ada baiknya pertunangan dibatalkan karena masalah hati sudah Allah yang mengatur.


Ustad Azam mengalah, dia menyetujui pembatalan pertunangan mereka dengan baik-baik. Namun, sebelum itu dia meminta kepada kedua orang tua Mega agar mengirimnya ke pondok pesantren ini.


Selain ingin dekat kembali dengannya, Ustad Azam ingin mengawasi dan mengetahui alasan kenapa Mega meminta berpisah dengannya.


"Kak Azam-" Mega bingung kenapa Ustad Azam bertanya balik kepadanya, dia ingin menjawab Ustad Azam tapi segera dipotong.


"Apapun alasanmu membatalkan pertunangan kita, aku tidak akan perduli. Akan tetapi kamu harus tahu bahwa janji adalah janji dan janji adalah hutang yang harus kamu bayar. Jika tidak, aku telah bersumpah dengan nama Allah untuk menuntut mu kelak di hari penghakiman." Potong Ustad Azam dingin.


Dia lalu pergi setelah mengatakan itu, melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju ruangan medis.


Mega yang kebingungan,"...."


Asri yang sedari tadi berpura-pura menjadi batu,"...."


"Kau tahu.." Asri berdehem di samping.

__ADS_1


"Perkara janji itu tidak main-main apalagi jika Ustad Azam bersumpah akan membawanya ke hadapan Allah kelak, aku harap kamu mempertimbangkan kembali itu..janjimu."


Mega buru-buru mengusap wajahnya yang basah. Dia tersenyum kecil melihat punggung dingin itu berjalan menjauh tapi dengan langkah yang lambat seolah-olah menunggu mereka mengejar.


"Aku bingung," Katanya sambil berjalan mengikuti Ustad Azam.


Dia bingung dengan percakapan mereka tadi. Saling tuduh menuduh tanpa ada kejelasan yang pasti. Mungkinkah dia salah memahami sesuatu?


"Ada banyak informasi yang aku dapatkan malam ini dan aku perlu mencernanya baik-baik sebelum memutuskan langkah selanjutnya." Kata Mega terdengar tidak tenang.


Asri menepuk pundaknya untuk menyemangati, masalah ini pasti cukup berat untuk Mega bila dia sampai menangis seperti ini.


Dari pembicaraan menegangkan mereka tadi Asri tahu bahwa Ustad Azam dan Mega pernah bertunangan. Mereka lalu membatalkannya dengan alasan yang cukup rumit. Sekilas, Asri menyimpulkan bila Ustad Azam dan Mega saling menuduh.


"Pasti salah paham." Gumamnya dengan suara yang kecil.


Ustad Azam terdengar sangat kecewa dan sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, jelas dia masih tidak mau berpisah dengan Mega. Lalu Mega, dia tidak perlu ditanyakan lagi. Aku yakin dia masih menyukai Ustad Azam, akan tetapi untuk sampai berpisah seperti ini.. pasti ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Batin Asri menganalisis.


Dia kemudian menatap Mega yang sibuk mengusap wajahnya, lalu beralih menatap punggung lurus yang terus berjalan di depan tanpa niat menoleh ke belakang.


Hah..


Kisah cinta kedua temannya terlalu rumit.

__ADS_1


Mereka berjalan bersama-sama dengan jarak yang cukup jauh sampai akhirnya mereka melihat bangunan kecil yang dipenuhi oleh lampu terang. Di depan bangunan itu ada banyak sekali laki-laki dan perempuan yang membuat kelompok dengan jarak yang cukup jauh.


Mereka tidak saling melihat atau menatap dan mereka juga tidak membuat suara yang sengaja dibesar-besarkan untuk menarik perhatian lawan jenis.


Mereka semua damai dan tidak saling mengganggu.


"Mengapa kalian masih belum kembali ke asrama putri?" Tanya Ustad Azam pada kelompok santriwati yang tiba-tiba terdiam begitu melihat kedatangan mereka.


"Ustad Azam, kami di sini untuk menjaga junior kami yang masih belum juga sadarkan diri." Sasa menjawab dengan kepala tertunduk.


Mega langsung mendengus dingin ketika melihat Sasa diam-diam tersenyum di depan Ustad Azam.


"Junior kalian akan dijaga oleh teman sekamarnya dan kalian tidak perlu repot-repot di sini apalagi sampai membuat kerumunan seperti ini. Kalian adalah teladan di pondok pesantren untuk adik-adik kalian jadi rasanya tidak wajar membiarkan kalian tinggal di sini sampai selarut ini."


Ustad Azam meminta mereka untuk segera pergi dari sini melalui kata-katanya yang tersirat. Harusnya mereka menyadari penolakan Ustad Azam dari kata-katanya.


Sasa segera mengerti,"Tolong maafkan kelancangan kami, Ustad. Kami akan segera kembali ke asrama setelah tahu sudah ada orang yang akan menjaganya. Kalau begitu kami izin pulang, assalamualaikum."


Sasa lalu pergi setelah mengucapkan salam. Ketika melewati Mega, dia diam-diam mengangkat kepalanya dan memberikan Mega sebuah senyuman lebar.


Mega tidak membalas senyuman Sasa karena dia merasa senyuman Sasa tidak tulus. Senyuman ini jelas mengindentifikasikan sesuatu yang tidak baik.


"Masuklah, teman kalian sedang beristirahat di dalam. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi ku di sini."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2