
Lagi, untuk yang kedua kalinya Asri tertegun mendengar ucapan Kevin. Di dalam hati ia bertanya-tanya apakah perasaannya terlalu jelas?
Apakah Kevin tahu apa yang ia rasakan kepadanya?
Tapi bagaimana mungkin? Jika iya, Kevin pasti langsung menjaga jarak dengannya karena tidak ingin hubungannya terganggu. Namun, apa yang Asri dapatkan?
Kevin tidak menjaga jarak juga tidak menghindarinya. Maka... Kevin masih belum mengetahui tentang perasaannya?
"Surat itu sengaja kami buat untuk Kak Adit. Kebetulan kami bertiga mengagumi laki-laki yang sama." Balas Asri terkesan menghindari pertanyaan.
Asri semakin menundukkan kepalanya mulai bekerja dengan tenang- hanya Allah yang tahu betapa gugupnya Asri saat ini.
"Hem," Kevin menurunkan matanya.
Dia tahu Asri menyembunyikan kebenaran darinya karena malam itu ia juga mendengar curahan hati Ai dan Mega tentang duo idola pondok pesantren
Mereka sudah lama menyukai Ustad Vano dan Ustad Azam jadi bagaimana mungkin mereka begitu cepat berpindah hati menemukan laki-laki lain.
"Kamu berbohong." Ucap Kevin dengan nada ringan.
Dia berdiri di tempat diam menatap kebisuan Asri di seberangnya. Sedangkan Asri diliputi oleh banyak pikiran yang tidak menentu. Apa yang harus ia lakukan?
__ADS_1
Kevin sepertinya tidak ingin menghentikan pembicaraan. Lantas, apa ia harus melarikan diri, bersembunyi ke dalam dapur umum agar tidak lagi bertemu dengan Kevin.
Tapi bukankah itu akan sangat jelas jika ia bersembunyi sekarang?
Kevin akan mencurigai perasaannya.
"Surat itu tidak ada hubungannya dengan kedua temanmu, tapi surat itu adalah milikmu. Awalnya surat itu ingin kamu berikan kepada santri laki-laki tapi bukan kepada Adit. Apa aku benar?"
Kevin bertanya dengan berani sambil memperhatikan wajah Asri. Dia ingin melihat perubahan ekspresi yang terjadi di wajah Asri.
Asri kian tenggelam dalam ketakutannya. Dia mencoba tersenyum, tapi di mata Kevin senyuman ini terkesan dibuat-buat dan dipaksakan.
"Bagaimana mungkin, aku dan kedua sahabatku sudah mengakuinya. Karena pengakuan itu kami juga berakhir di sini, jadi setelah semua yang terjadi bagaimana mungkin aku bisa berbohong?" Balas Asri masih berusaha mempertahankan kebohongannya.
"Kamu benar. Setelah semua yang terjadi bagaimana mungkin kamu masih bisa berbohong." Anehnya Kevin langsung mempercayai apa yang Asri katakan.
Dan karena kata-kata ini pula percakapan mereka berdua berakhir dengan suasana canggung. Sepanjang membersihkan stan santri laki-laki tidak ada lagi yang mengeluarkan suara, bahkan Asri yang selalu cerewet dan banyak bicara tiba-tiba menjadi pendiam.
Ini terus berlanjut hingga akhirnya Mega masuk ke stan laki-laki setelah membersihkan meja terakhir di stan perempuan.
Mega awalnya terkejut melihat Asri dan Kevin berada di sini, lalu keterkejutannya berubah menjadi bingung ketika merasakan ada suasana yang tidak benar diantara mereka berdua.
__ADS_1
Ini bukan suasana yang romantis, sungguh. Ini seperti di sini rasanya agak suram. Mega tidak yakin apa yang mereka bicarakan sebelum kedatangannya tapi ia yakin juga bila itu bukanlah pembicaraan yang buruk.
Namun, lagi-lagi Mega memilih untuk membicarakannya nanti saja setelah menyelesaikan semua pekerjaan dan di waktu yang tepat untuk mengobrol.
Setengah jam kemudian semua stan sudah bersih. Semua cucian piring dan gelas kotor juga sudah mereka tangani bertiga karena setelah membersihkan stan, Mega dan Asri langsung bergegas pergi ke dalam dapur umum untuk membantu Ai di dalam.
Selama bekerja di dapur umum pun Mega juga merasa jika ada yang salah dengan Ai. Dia menjadi pendiam- walaupun faktanya dia memang selalu seperti ini tapi rasanya kali ini amat sangat berbeda. Seolah-olah suasana hati Ai saat ini sangat-sangat rendah.
"Kalian akan segera kembali?" Tanya Ibu Dian- salah satu staf dapur yang sangat ramah kepada mereka bertiga.
Tidak ada yang merasa tidak nyaman ketika berbicara dengannya.
"Iya, Bu. Kami harus pergi ke sekolah untuk belajar." Mega mengambil inisiatif untuk menjawab karena Ai dan Asri terlihat tidak mau membuka mulut meskipun ada senyuman di bibir.
Hah, mereka berdua sangat aneh.
"Mashaa Allah, kalau begitu kalian bertiga bisa pergi dan jangan membuang waktu lagi. Oh ya, aku ingin bilang jika besok setelah sholat subuh kita akan pergi ke pasar untuk membeli bumbu dapur. Persediaan kita sudah habis dan pondok pesantren tidak pernah menanam beberapa bumbu dapur yang sangat penting karena tidak cocok dengan tanah di sini. Jadi, setelah sholat subuh besok kalian bertiga bisa absen dulu masaknya untuk menemaniku ke pasar." Ujar Bu Dian membawa kabar gembira yang sangat segar untuk mereka bertiga, terutama untuk Ai dan Asri yang sedang terjebak dalam suasana hati yang buruk. Mereka sejujurnya sangat senang mendengar kabar ini meskipun tidak menunjukkan lewat ekspresi berlebihan.
"Beneran, Bu? Apa kamu bertiga diizinkan keluar pondok besok?" Mega masih orang yang melayani Bu Dian.
Mereka memang diizinkan keluar pondok pesantren tapi itu hanya seminggu sekali, tepatnya di hari libur mereka saja. Akan tetapi meskipun diberi kesempatan keluar, mereka tidak diizinkan pergi terlalu jauh seperti halnya pasar. Di samping itu toko-toko yang ada di depan pondok pesantren lebih banyak menjual pakaian dan perlengkapan belajar daripada makanan. Alhasil, setiap keluar mereka hanya membeli makanan yang itu-itu saja, membuat mereka bosan dan mulai enggan keluar pondok.
__ADS_1
Sehingga setiap libur bukannya pergi keluar untuk berbelanja mereka malah membenamkan diri dalam kesibukan masing-masing. Mega biasanya akan menghabiskan waktu libur dengan tidur sepanjang hari, Asri juga kadang-kadang tidur tapi lebih banyak menemani Ai pergi ke perpustakaan. Tapi sebenarnya lebih banyak Ai yang menemani mereka. Ketika mereka berdua tidur, Ai dengan sangat pengertian duduk di depan meja belajar tanpa membuat suara untuk menunggu mereka mengisi energi kembali.