
Pekerjaan yang begitu menumpuk setelah satu bulan di tinggal ke kampung membuat Norin sangat sibuk sekali sehingga ia lupa bahwa hari sudah sore menjelang magrib. Semua staf sudah pulang sejak satu jam yang lalu sementara dirinya masih di ruang kerja berkutat dengan layar laptopnya. Norin meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"pegal sekali...!"
Di saat norin hendak mematikan layar laptopnya, tiba tiba ada sebuah email masuk dari direktur Lee.
"tumben banget mau magrib gini tuan Lee email." kemudian Norin membuka email tersebut.
"Selamat sore nona Norin. Saya hanya ingin memberi tahukan bahwa besok akan ada buyer Hendric dari Eropa berkunjung ke pabrik ini. dan saya mohon pada nona Norin untuk keikutsertaan menyambut kehadiran beliau seperti pertama kali beliau berkunjung ke perusahaan kita."
Norin terdiam. Ia berusaha mengingat ingat siapa buyer Hendric yang pernah ia temani sebelumnya.
"Oh, apa buyer Hendric si bule tampan yang waktu beberapa bulan lalu datang kemari ?"
Norin segera membalas email dari direktur Lee tersebut.
"Baik tuan Lee, saya bersedia."
Setelah itu, Norin segera mematikan layar laptopnya dan bersiap siap pulang.
Norin menoleh ke arah kanan dan kirinya sudah tidak ada satupun orang di gudang tersebut hanya tinggal dirinya. Ia melangkah lebar agar cepat sampai di mushola yang terletak di luar gudang karena waktu sudah menjelang maghrib. Norin ingin menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya.
Tiba di mushola Norin berpapasan dengan Doni yang hendak menjalankan ibadah magrib juga sama seperti dirinya.
"No Norin....!" Sapa Doni. Pria itu merasa canggung bertemu dengan wanita yang pernah ia benci karena fitnahan dari Siska sebulan yang lalu sebelum Norin di skorsing. Rasa bersalah menyelimuti hatinya sebulanan ini dan itu cukup membuat hidupnya sangat tidak tenang karena ikut membenci orang yang tidak bersalah terlebih lagi orang itu adalah wanita yang ia cintai.
Norin tidak menjawab sapaannya melainkan hanya tersenyum tipis padanya. Lalu, ia melanjutkan langkahnya lagi menuju tempat mengambil air wudhu.
Setelah itu, Norin masuk ke tempat beribadah dan mengambil mukena yang tersedia di tempat tersebut. Tak selang lama, Doni muncul ke tempat ibadah tersebut. Ia melirik wanita yang ia rindukan itu sedang memakai mukenanya. Doni memaksakan diri untuk berbicara pada wanita cantik yang masih belum selesai memakai peralatan ibadahnya.
"ehem, a apa mau sholat berjamaah dengan saya Rin?" tawar Doni dengan gugup.
Norin menoleh ke samping dimana Doni berdiri mengarah kepadanya. Kemudian ia mengangguk pelan. Doni tersenyum lebar. Ia senang sekali jika tawarannya tidak di tolak oleh perempuan yang pernah ia sakiti hatinya.
Kemudian, Doni maju ke depan bersiap menjadi imam dan Norin berdiri di belakangnya bersiap untuk menjadi makmumnya. Pemandangan itu tak lepas dari sorot mata sipit seorang pria berpostur tinggi tegap yang sedang berdiri di ambang pintu mushola tersebut. Saat itu, secara tak sengaja Shin melihat Norin berjalan tergesa gesa. Lalu, ia penasaran dan mengekor di belakang tanpa sepengetahuan Norin. Setelah itu, tibalah di mushola dan dia pun melihat sosok Doni berada di mushola tersebut.
Shin meninggalkan dua orang yang beribadah dengan perasaan campur aduk. Ada rasa ingin seperti pria itu bisa berdiri di depan Norin dan melakukan pergerakan seperti yang ia lihat. Namun, lagi lagi keinginan hati itu di tepis oleh logika yang tak beralasan.
__ADS_1
Norin melepaskan mukena nya setelah mereka selesai melaksanakan sholat magrib. Kemudian, ia buru buru untuk keluar mushola.
"Norin...!" Doni memanggilnya dan Norin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang.
"ada apa a?"
Doni berjalan mendekati Norin." Saya...saya mau minta maaf atas sikap saya satu bulan yang lalu, saya sudah menyakiti hati kamu. saya lebih percaya omongan orang lain daripada kamu Rin. saya menyesal dan saya benar benar minta maaf."
Norin tersenyum tipis." ngga perlu minta maaf a, yang penting a Doni udah tau kebenarannya. Lagi pula kejadian itu udah lama dan aku udah lupa. Aku duluan ya a." Norin melanjutkan lagi langkahnya menuju pintu gerbang pabrik.
Hari mulai gelap dan suasana area pabrik sudah sepi. Norin melangkah lebar agar cepat sampai di tepi jalan karena ia ingin segera sampai di rumahnya.
Ketika Norin sedang menunggu sebuah angkot tiba tiba sebuah moge menghampirinya. Norin tau siapa pemilik motor besar tersebut.
"ngga bawa motor lagi Rin?" tanya Doni sambil melepas helmnya.
"ngga."
"aku antar pulang aja ya, kalau malam angkot suka lama datangnya."
Tak selang lama sebuah mobil Alphard hitam menghampirinya. Kemudian pintu mobil terbuka dan Shin turun dari mobil tersebut.
"Norin, saya antar kamu pulang ya? mari masuk ke mobil,"ucap Shin tiba tiba.
"terima kasih atas tawarannya tuan Shin. tapi, maaf saya sudah telanjur menyetujui untuk pulang bersama dia," tunjuk Norin pada Doni. Doni terperangah, tidak menyangka Norin menolak di ajak pulang dengan mobil bagus malah memilih ikut dengannya.
Shin merasa saliva nya tercekat di tenggorokannya mendengar penolakan mentah mentah dari wanita yang ia cintai.
"yuk Rin, takut kemalaman,"ajak Doni tiba tiba.
Norin mengangguk lalu menaiki motor besar milik Doni tanpa menoleh pada pria yang berharap padanya.
"anda memang seorang penguasa perusahaan ini tuan tapi anda bukan penguasa pemilik hati wanita ini." Doni bermonolog lalu tersenyum menyeringai. Rasanya ia puas sekali bisa mengalahkan seorang big bos."
Kemudian, Doni melajukan moge nya meninggalkan pria yang tengah berdiri menatap ke arah mereka dengan tatapan nanar.
Doni melajukan motornya dengan pelan, ia sengaja agar momen itu tidak cepat berlalu. kapan lagi bisa berboncengan dengan Norin fikir pria itu.
__ADS_1
Doni memberhentikan motornya di tepi jalan. Sementara Norin keheranan kenapa pria yang memboncengnya berhenti di pinggir jalan. Kemudian Doni melepaskan helm nya.
"Rin, aku laper banget. kita makan dulu yuk di sana?" tunjuk Doni pada sebuah tenda pecel ayam di pinggir jalan.
Norin terdiam, padahal Norin cuma ingin cepat sampai ke rumah bukan ingin makan. Namun, ia merasa kasihan juga melihat Doni yang terlihat kelaparan.
"atau kamu ada tempat makan yang lain yang kamu inginkan gitu?" tanya Doni pada wanita yang diam saja.
"oh, ngga. yaudah yuk aku juga udah laper banget nih."
Doni tersenyum senang. Lalu, mereka turun dari motor berjalan ke arah depan dimana letak tenda pecel ayam itu berada. Setelah itu, mereka memesan dua porsi pecel ayam.
Dua porsi pecel ayam sudah terhidang di meja mereka. Kemudian mereka mulai menyantapnya.
"kamu tau, ini pecel ayam terenak yang pernah aku makan?" celetuk Doni.
"masak sih? perasaan pecel ayam di mana mana rasanya sama aja deh."
" ya, mungkin. tapi yang ini beda banget lebih nikmat karena makannya di temani gadis cantik di sampingku." Goda Doni lalu tertawa.
Norin hanya tersenyum lebar saja mendengar ucapan Doni.
Di seberang jalan, sepasang mata sipit memperhatikan gerak gerik dua orang yang tengah makan sambil tertawa. Karena mereka duduk tanpa penghalang sehingga terlihat dari jalan.
"Ck, dasar pria tak bermodal, ngajak makan di tempat jorok seperti itu," umpat Shin kesal.
"Rin, kok ayam punya aku rasanya lain ya?" ucap Doni sambil mengecap ngecap.
"lain gimana a?" tanya Norin penasaran.
"cobain deh, rasanya lebih empuk dan enak banget." Doni mencubit ayam itu lalu mengarahkan nya ke mulut Norin. Awalnya Norin ragu karena Doni yang terus memaksa akhirnya ia membuka mulutnya menerima suapan dari Doni.
"gimana beda ngga rasanya dari punya kamu?"
"ngga ada yang beda rasanya sama aja deh a," jawab Norin dengan polos.
Doni yang mengetahui ada sebuah mobil di seberang jalan yang dikenalnya sedang memperhatikan mereka, sengaja menyuapi Norin dan itu sukses membuat pria di dalam mobil tersebut mengepalkan kedua tangannya dan dadanya bergemuruh.
__ADS_1
Doni tersenyum, lagi lagi ia merasa menang.