Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Reni selingkuh


__ADS_3

Pria paruh baya tersebut tersenyum pada Shin." Benar tuan, apa yang tadi kami lakukan adalah sholat Dzuhur berjamaah."


Shin manggut manggut kecil mendengar jawaban pria paruh baya itu.


"maaf tuan, kalau saya boleh tau. Apa tujuan tuan datang kemari?"


"sa saya sedang mencari seseorang pak."


"apa boleh saya tau, seseorang itu pria atau wanita tuan?"


"wanita pak, dia sering melakukan seperti apa yang tadi kalian lakukan di dalam."


"maksud tuan melakukan sholat? apa wanita itu seorang muslim?"


Shin mengangguk.


"apa saya boleh melihat photo nya tuan, siapa tau dia pernah atau sering sholat di masjid ini karena kebetulan saya sendiri yang menjaga masjid ini."


"oh, ya tentu boleh pak." Shin mengeluarkan ponselnya lalu memperlihat kan salah satu photo Norin.


Pria paruh baya tersebut memperhatikan lekat lekat wajah Norin agar ia tetap ingat jika sewaktu waktu ada salah satu jamaah yang wajahnya seperti wanita di ponsel tersebut.


"Baik tuan, nanti akan saya kabari jika saya melihatnya."


Shin mengambil sebuah benda pipih di dompetnya dan menyodorkannya ke arah pria paruh baya tersebut.


"Ini kartu nama saya pak, bapak bisa menghubungi saya ke nomer itu jika menemukannya."


"baik tuan."


"kalau begitu saya permisi dulu pak, mari." Shin membungkuk kan sedikit tubuhnya lalu segera beranjak pergi dari masjid.


Hari menjelang sore. Seharian Shin muter muter kota mencari Norin namun hasilnya nihil. Shin pun memutuskan untuk kembali saja ke mansion nya.


"Ini ada surat untukmu?" Reni menyodorkan sebuah amplop putih pada suaminya, Rendi.


Rendi mengambil amplop tersebut. Nampak sebuah nama surat dari pengadilan agama. Rendi tau surat itu merupakan tuntutan cerai Anisa padanya. Rendi tidak membukanya ia langsung merobek amplop tersebut di depan Reni membuat wanita itu membelalakkan matanya.


"kamu itu kenapa sih mas ngulur ngulur waktu. ceraikan aja kenapa sih dan kamu mulai fokus sama aku serta calon anak kita." Reni kesal sekali pada suaminya yang belum bisa menerima kenyataan. Gara gara masalah perceraian, ia sering kali di abaikan oleh Rendi.


Rendi tidak menjawab ocehan Reni. Ia pergi ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Reni mengikuti Rendi masuk ke dalam kamarnya dan mendapati suaminya sedang tidur terlentang. Reni tersenyum melihatnya lalu ia membuka daster yang sedang di pakainya dan hanya menanggalkan pakaian dalam. Reni ingin menggoda suaminya. Setelah itu, ia ikut tidur di samping Rendi mengusap usap dadanya lalu tangannya turun ke bawah perut menyentuh sesuatu yang sedang tertidur. perbuatannya membuat Rendi terkejut lalu menepis tangan di bawah perutnya. Rendi membuka matanya dan terlihat istrinya sudah berpenampilan setengah bu gil.


"Aku pengen mas." ucap Reni penuh harap. Ia mengharapkan nafkah bathin dari Rendi yang sudah satu bulan ini tidak ia berikan karena Suaminya sibuk memikirkan istri pertamanya.


"Sorry Ren, aku capek pengen tidur." Rendi kembali memejamkan matanya.


Reni menatap kecewa dan kesal pada suaminya yang tidak ingin berhubungan suami istri dengannya. Padahal dulu sebelum mereka menikah, mereka sering kali melakukannya di kamar ini bahkan di hotel. Juga, Rendi sering memuji servisnya yang katanya lebih unggul dari Anisa, istri sahnya.


Reni bangkit kemudian memunguti pakaiannya yang teronggok di lantai lalu keluar kamar setelah mendapatkan penolakan dari sang suami. Reni mendudukkan pinggulnya di atas kursi ruang tamu lalu memainkan ponselnya. kemudian, matanya tertuju pada sebuah pesan yang masuk di sosmed nya. Reni tersenyum membacanya lalu membalas pesan tersebut hingga terjadilah percakapan.


Sore hari, Rendi bangun dari tidurnya sudah mendapati sang istri berpenampilan se xi dan cantik. Memakai dress di atas lutut serta rambut yang di gerai panjang.


"Mau kemana kamu Ren sore gini?"


"mau cari angin. Sumpek aku di rumah." Kemudian, Reni keluar rumahnya dan Rendi membiarkan saja istrinya pergi entah mau kemana. Karena Rendi tau bahwa istrinya sedang marah padanya atas penolakannya tadi siang.


Sampai di ujung jalan gang. Reni memesan sebuah taksi dan taksi tersebut mengantarnya ke sebuah kafe. Di sana sudah ada seseorang yang telah menunggunya dari tadi.

__ADS_1


"Mas Heru!" sapa Reni setelah bertemu dengan orang yang sudah membuat janji untuk bertemu dengannya.


Pria itu tersenyum." hai Reni, kamu makin cantik aja meskipun sedang hamil."goda Heru dengan senyum menggoda.


Reni tersipu malu." Mas Heru bisa aja."


Heru merupakan mantan kekasih Reni sekaligus pria yang sudah beristri serta memiliki dua orang anak.


"ayok duduk Ren, kamu mau pesan apa?"


Reni pun menurut. Ia duduk di hadapan Heru lalu memesan minum dan makanan.


"Apa kamu bahagia hidup dengan suamimu?"


Reni menggeleng. kemudian, Ia menceritakan bagaimana sikap suaminya terhadapnya. Mulai dari sikap dingin, tidak memberi nafkah bathin hingga nafkah lahir. Semua ia ceritakan dengan cerita yang di lebih lebihkan sehingga membuat Heru merasa sedikit iba padanya.


"Kasihan kamu Ren."Ucap Heru.


"Ya begini lah mas nasib ku. Andai saja aku tidak sedang hamil anaknya mungkin aku sudah pergi. Sejujurnya....aku masih sayang kamu mas, tapi sayangnya kamu sudah memiliki istri."


"Apa kamu bicara serius masih sayang aku Ren?"


"iya mas, aku ngga bisa lupain kamu. karena kamu cinta pertamaku. Tapi, sekarang aku tidak mungkin bisa memilikimu lagi."


"ya meskipun kita sudah memiliki pasangan bukan berarti kita tidak bisa menjalin hubungan kan?"


"maksudmu mas?"


"kita masih bisa menjalin hubungan di belakang pasangan kita."


"apa kamu masih mencintaiku mas?" tanya Reni serius.


Reni tersenyum senang.


"Oya, udah malam, apa sebaiknya aku antar kamu pulang saja Ren?"


"Aku ngga mau pulang mas, aku lagi kesal sama suamiku."


"terus, apa kamu mau tidur di hotel saja menemani aku? aku ada waktu satu Minggu lagi di kota ini sebelum balik ke Semarang."


Reni mengangguk lalu tersenyum senang.


Kemudian, mereka bergegas pergi meninggalkan kafe tersebut menuju hotel dimana Heru menginap.


Sudah jam sebelas malam Reni belum saja menampak kan batang hidupnya. Rendi mondar mandir mulai cemas. sebenarnya ia tidak mencemaskan Reni melainkan hanya mencemaskan anak yang di kandungnya. Beberapa kali ponselnya di hubungi tapi tetap tidak aktif.


"kemana perginya kamu Reni?udah malam begini belum pulang." Rendi bergerutu kesal.


Sementara di sebuah kamar hotel, dua pasang pria dan wanita sedang memadu kasih. Saling memuaskan hasrat yang sudah lama terpendam.


"ah oh emp....enak sekali punya mu mas." de sah Reni di bawah Kungkungan Heru.


"milikmu juga enak sekali sayang, masih saja sama seperti dulu." puji Heru sambil terus berpacu me maju mundurkan pinggul kekarnya.


De sa han serta ricauan saling bersahut sahutan di kamar hotel tersebut hingga Heru sampai pada pelepasannya ia pun mengerang panjang. Peluh membanjiri dua tubuh yang sudah selesai menuntaskan nafsunya.


"Bagaimana sayang apa kamu puas?" tanya Heru sambil memeluk wanita yang baru saja telah di puaskan hasratnya.

__ADS_1


"aku puas sekali mas, terima kasih ya." senyum mengembang di bibirnya.


"Aku bersedia memuaskan mu kapan pun kamu mau."


"bagaimana kalau aku menginginkannya tiap hari."


"Ck, ternyata kamu tidak berubah ya dari dulu. Memiliki nafsu yang besar dan selalu ingin di puaskan."


"ha ha."


Kemudian, mereka tertidur dan keesokan harinya Heru menyodorkan beberapa lembar uang pada Reni.


"Uang untuk apa ini mas?


"untuk mu, ambil lah." Reni tersenyum senang di puaskan hasratnya plus dapat uang pula.


"Terima kasih mas."


"Apa mau aku antar?"


"tidak usah mas, aku bisa pulang naik taksi."


"ya sudah hati hati."


Sebelum berpisah mereka berciuman kembali dengan penuh hasrat seolah olah permainan semalam belum puas saja.


Rendi sedang menggoreng telur untuk sarapannya. Tiba tiba Reni muncul dari balik pintu. Rendi menoleh pada pintu yang di buka.


"Kamu dari mana saja Ren? apa pantas seorang istri keluyuran malam bahkan tidak pulang ke rumah sementara suaminya merasa cemas di rumah."


Reni yang baru melepas sepatunya menatap kesal pada suaminya." Sejak kapan kamu cemas padaku? bukanya kamu tidak pernah peduli padaku?" sindir Reni.


"Ren.....!"


"Sudah, aku sedang malas berdebat denganmu. Aku capek mau tidur." Reni masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras.


Rendi membiarkannya saja. Ia tau bahwa Reni sedang kesal padanya karena sering kali menolak berhubungan suami istri dengannya. Entah mengapa, ia merasa tidak lagi tertarik pada tubuh Reni, tidak lagi seperti dulu yang setiap saat selalu menghayal kan tubuhnya dan menginginkan nya. Bahkan dulu, ketika setiap kali memberi nafkah batin pada Anisa, Rendi sering menghayal bahwa wanita yang sedang ia gagahi adalah tubuh Reni bukan Anisa. Memang jahat dan Rendi pun mengakuinya.


"Aku rindu kamu Anisa, aku rindu kamu Al. andai waktu bisa di putar kembali aku tidak akan pernah mau melakukan hal bodoh seperti ini."


"Nanti sore aku jemput kamu pulang ya?" ucap Youn setelah berhenti di depan kantor.


"tidak usah Youn, terima kasih. kamu sudah sering mengantar aku pergi kerja. aku tidak mau terus menerus merepotkan kamu."


"Aku tidak merasa di repot kan Anisa. justru aku senang sekali...karena..!"


"karena....apa ?"


"oh tidak, ya sudah turun lah nanti bos mu yang hitam itu marah padamu."


"ck, kamu mengejek warna kulit mister Rabindra?"


"aku tidak mengejeknya tapi memang kenyataanya kalau kulitnya berwarna hitam."


"Youn....!" Anisa membesar kan matanya.


"okey, okey. Aku takut sekali melihat matamu yang besar itu seperti burung hantu saja."

__ADS_1


Anisa keluar dari dalam mobil dengan wajah di tekuk. Ia kesal sekali matanya di sebut seperti burung hantu oleh pria yang sering kali menggoda serta mengejeknya.


Youn tersenyum melihat wajah cemberut Anisa yang menurutnya menggemaskan.


__ADS_2