Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 27.4


__ADS_3

"Seandainya dia diberikan kesempatan untuk melihat cucu Safira, Umi yakin dia pasti akan sangat bahagia. Karena saat di hari pernikahan Safira dan Ali, dia pernah mengatakan bila usianya sudah tidak lama lagi..dia harap dalam waktunya yang singkat ini Allah mengizinkannya bertemu dengan cucu-cucu yang lahir dari Safira. Tapi takdir Allah memang sulit ditebak..dia pergi bahkan tanpa mengetahui bila saat itu Safira sedang mengandung si kembar."


"Umi, jangan menangis." Safira merasa sesak kembali diingatkan tentang kepergian Abi.


Itu adalah salahnya.


Jika saja dia tidak bodoh dan lalai, jika saja dia tidak meragukan diri sendiri maka mungkin Abi akan tahu bila saat itu dia sedang mengandung.


Meskipun tidak bisa melihat si kembar tapi setidaknya Abi tahu jika saat itu putri terakhirnya sedang mengandung. Itu adalah sebuah kabar baik.


"Ini salah Safira, jika saja Safira lebih sabar menunggu hasil tespek dan jika saja Safira tidak meragukan diri sendiri maka saat itu Abi pasti akan bahagia mendengar tentang kabar kehamilan Safira. Tapi Safira lalai.. Safira sangat bodoh saat itu!" Dan malangnya dia tahu tentang kehamilannya di malam setelah kematian Abi.


Bukankah itu agak menyakitkan?


"Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Safira. Ini semua sudah terjadi dan mungkin yang terbaik. Allah menginginkan hasil ini maka kita tidak bisa mengatakan apa-apa. Percayalah, Nak, ini memang sakit tapi setelah rasa sakit hari itu kita semua kembali bisa tersenyum ketika mendapatkan kabar kehamilan mu. Umi pikir mungkin itu adalah obat yang Allah siapkan untuk menghibur kesedihan kita atas kepergian Abi." Bantah Umi seraya menyentuh punggung tangan Safira.


Dia ingin sekali mengusap kepala Safira tapi tangannya terasa sangat lemas. Dia hanya bisa membuat gerakan ringan namun efeknya dia hampir menggunakan semua tenaganya.


"Umi benar, dek. Allah mungkin sengaja menyembunyikan kabar gembira itu untuk mengobati kesedihan kita atas kepergian Abi. Karena buktinya kami langsung bisa kembali tersenyum ketika mendapatkan kabar kehamilan mu dari Ali pagi-pagi itu. Seolah-olah Allah menyiapkannya untuk menghibur lara kita, dek." Annisa ikut berbicara.

__ADS_1


Dia pikir kelalaian Safira ada hikmahnya untuk mereka. Atau mungkin lebih tepatnya inilah skenario yang Allah inginkan untuk Safira.


Safira tersenyum tipis, dia membalas genggaman tangan Umi tanpa menyadari ada sesuatu yang salah.


Lama menatap langit, Umi menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. Kerutan wajahnya tidak bisa menutupi betapa cantiknya Umi dahulu. Garisnya masih ada meskipun sudah banyak tahun-tahun dengan cobaan sudah dia lewati. Dia berpaling menatap Saqila yang kini duduk di dekat lututnya, kemudian tangannya yang tua dan renta menyentuh puncak kepala Saqila dengan pandangan mata penyesalan.


"Nak, apa kamu mau memaafkan kesalahan Umi karena telah lalai dalam membesarkan mu?" Pertanyaan ini seketika membuat mereka bertiga terkejut.


Topik yang Umi bicarakan saat ini adalah topik menyakitkan yang ingin mereka bertiga hapus dari memori. Karena hari itu adalah hari dimana mereka bertiga saling menyalahkan, menyakiti yang terlemah, dan menjadi hakim untuk yang bersalah.


Jujur, mereka tidak ingin mengingat hari penuh kesedihan itu.


"Itu adalah Saqila jadi bagaimana itu menjadi kesalahan Umi?" Katanya panik.


"Umi adalah Ibu yang baik dan Umi tidak pernah mengajarkan Safira perbuatan tercela. Jadi hari itu.. semua yang terjadi hari itu adalah kejahatan Saqila. Umi sama sekali tidak bersalah di dalamnya!" Bahkan suaranya mulai bergetar.


Rasa sakit itu, dia sungguh tidak bisa menghilangkannya. Dia merasa sangat berdosa dan terus menerus menyalahkan diri sendiri.


Rasanya sangat menyiksa.

__ADS_1


Umi lagi-lagi tersenyum lembut. Mata tuanya tidak bisa menyembuhkan betapa bahagia hatinya saat ini.


"Aku adalah orang yang keras kepala, Nak, tapi bukan berarti aku tidak mempunyai kelembutan di hatiku. Dalam hidup ini aku menyadari jika sifat keras kepala dan kelembutan ku adalah sebuah bencana bagi keluargaku. Aku tidak pernah merasa sebenci ini ketika memikirkan tahun-tahun keras kepala ku menyakiti kalian." Dia mulai menerawang jauh mengingat hari-hari dimana kesalahan-kesalahan itu dimulai satu persatu.


"30 tahun yang lalu hatiku begitu lembut untuk Annisa. Aku tidak menyadari bila kelembutan ku ini membuat Saqila dan Safira merasa tersisihkan. Itu adalah kesalahan ku membuat Saqila tumbuh menjadi seorang gadis yang bias dan terasingkan. Jika saja kelembutan hatiku dibagi sama rata maka Saqila tidak akan menjadi gadis yang bias dan dikucilkan oleh banyak orang. Anakku, Saqila..maukah kamu memaafkan kelalaian Umi dalam membesarkan mu, Nak? Sungguh, Umi tidak pernah membenci sifat lembut kecuali hari-hari dimana hatiku tidak adil, Nak."


Saqila menatap Umi dengan kedua mata yang mulai membentuk riak basah. Sejenak, dia menahan nafas ketika mengingat hari-hari dimana dia sangat merindukan perhatian Umi. Namun, saat itu Umi lebih mencintai Annisa sehingga Saqila kecil tanpa sadar mulai menumbuhkan sikap cemburu kepada saudaranya.


Karena perhatian yang tidak dipatok rata inilah Saqila tumbuh menjadi gadis yang berwajah dua. Di depan dia adalah gadis yang lembut dan tidak berambisi sedangkan di dalam dia adalah gadis bias yang harus akan ambisi.


Hari-hari itu sangat menyakitkan. Karena cemburu dia menyakiti Annisa berkali-kali sampai akhirnya Allah membuatnya tersadar bahwa rasa benci dihatinya salah. Dia tidak bisa menyakiti orang-orang yang seharusnya dia lindungi.


"Aku..aku memaafkan, Umi. Semua kelalaian Umi dalam membesarkan ku..aku sudah memaafkannya. Bagiku sekarang jauh lebih baik dari masa-masa itu karena saat ini kita semua sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing." Ucap Saqila dengan suara yang amat sangat ringan.


Tapi mereka bertiga bisa mendengarnya dengan baik.


Umi tersenyum lega.


"Terimakasih, Nak. Hatiku menjadi ringan setelah mendengarnya." Dia lalu beralih menatap wajah lembut Annisa yang sudah basah karena air mata.

__ADS_1


__ADS_2