
"Sebentar ya Pak Nathan, saya mau menemui Bapak dulu untuk menanyakan keadaan Bapak, khawatir kalau Bapak kenapa-kenapa."ucapku pada Pak Nathan
"Eh Nad, saya mau lihat Bapak kamu boleh?."tanya Nathan
"I..iyaa silahkan Pak."ucapku
Sementara itu Ibu, Adik-adik sedang menyiapkan keperluan untuk ke Puncak, aku , Satrio dan Pak Nathan melihat keadaan Bapak di kamar.
Aku membuka pintu pelan-pelan, Bapak pun menengok ke arahku.
Kami bertiga menghampiri Bapak.
"Kenapa Nad, laki-laki itu siapa?."tanya Bapak sambil menunjuk Nathan
"Iyaa Pak ini kenalin Boss aku di Kafe, namanya Pak Nathan, beliau mau ngajak kita nginep di Villa Pak, Bapak mau kan?."tanyaku ragu, mengingat kesehatan Bapak
"Hallo Om, saya Nathan, pemilik Kafe "Senjaku" di Bandung, maaf om, jika tidak keberatan, boleh tidak saya mengajak Om sekeluarga pergi ke Puncak, tenang Om, nanti akan saya panggil Dokter untuk menemani Om selama di puncak."ucap Nathan
"Oh terimakasih Pak Nathan atas kebaikan nya, Om sebenarnya sudah sembuh, jadi tidak usah bawa Dokter, kalau begitu ayo kita siap-siap."ucap Bapak bersemangat
"Sama-sama Om, tidak usah panggil saya Bapak, panggil saja Nathan."ucapnya
"Nathan, lagi-lagi aku seperti teringat seseorang dimasa muda, seorang Sahabat ku , tampan seperti mu, aneh hari ini, bertemu Satrio dan kamu membuat aku teringat sahabat-sahabat ku dulu di Bandung."ucap Bapak
"Oh Om pernah tinggal di Bandung, pantas Nadia sangat betah tinggal di Bandung."ucap Nathan
"Iyaa itu dulu Nak, sebelum Om mengalami kebangkrutan."ucap Bapak
Bapak selama ini menutupi masa lalunya, karena selama ini Bapak selalu bilang ke orang-orang bahwa dia bangkrut, padahal sebenarnya dituduh korupsi dan semua harta disita. Beruntung Ibu masih punya rumah di Bogor, rumah peninggalan mendiang Kakek dan Nenek ku. Jadi kami masih punya tempat tinggal meski sederhana.
"Oh begitu Om, yang sabar yaa Om, yakin suatu saat pasti Om akan sukses lagi, apalagi Nadia pekerja keras, pasti hidup Om akan sejahtera lagi."ucap Nathan
Lalu aku dan Satrio membantu Bapak bangun, aku agak bingung dengan Satrio, semenjak kejadian tadi, dia lebih banyak diam.
Lalu kami siap berangkat, semua keperluan sudah kami bawa dan masukkan ke mobil, ada 2 mobil yang digunakan, aku , Satrio dan Bapak naik mobil yang dikendarai Mang Ujang. Sementara Ibu dan Adik-adik naik mobil Pak Nathan.
__ADS_1
Lalu Satrio membukakan pintu depan mobil untuk Bapak. Aku dan Satrio duduk di belakang.
Kami pun berangkat sore ini juga.
"Mas, kamu koq diem aja dari tadi? kenapa?."tanyaku cemas
"Nggak apa-apa koq Nad, kamu tenang aja sayang."ucapnya singkat
"Ehem, kalian berdua bikin Bapak iri aja, udah cepet-cepet kalian Nikah, Satrio nggak perlu yang mewah yang penting akadnya."ucap Bapak
"Ih Bapak tuh kan bahas itu lagi."ucapku
"Bukan gitu Nak, kamu sudah cukup umur untuk menikah, lagi pula Bapak sudah tua dan sakit-sakitan, Bapak khawatir umur Bapak nggak lama lagi, Bapak juga minta maaf sering ngenalin kamu ke anak temen Bapak, semua kemauan Ibu, karena Ibu mu juga tentunya ingin kamu berumah tangga."ucap Bapak
"Pak, jangan ngomong gitu dong, aku nggak marah sama Bapak koq, lagian kan emang bener harusnya aku udah nikah, yaa cuma bukan sekarang juga, yang penting Bapak sehat dulu aja, aku yakin Bapak bisa sembuh koq."ucapku
"Iya Om, Om tenang aja, jodoh sudah Tuhan yang atur, yaa Nadia kan perempuan baik-baik, pasti akan dapat yang terbaik, hanya tinggal tunggu waktu yang pas."ucap Satrio
"Tapi Bapak yakin kamu yang terbaik, feeling seorang Bapak tidak mungkin keliru, jadi pikirkan lah Nak apa yang Bapak sampaikan."ucap Bapak
"Iyaa Pak, pasti akan saya renungkan."ucap Satrio
Adik-adik berteriak kegirangan karena baru pertama kali main ke tempat yang mewah. Ibu pun langsung mengajak Adik-adik mengecek kamar. Satrio hanya terdiam dan berjalan duluan dari aku. Kenapa dia seperti itu yaa?
Lalu kami pun ikut Nathan masuk ke Villa yang dia sewa. Aku memilih 1 kamar untuk bertiga dengan Adik-adik karena aku kangen bercanda dan curhat dengan mereka, Ibu dan Bapak, lalu Satrio dan Nathan satu kamar, sementara Mang Ujang sendiri.
Setelah melihat kamar dan menaruh barang aku pun bergegas keluar, ingin bertemu Satrio, perasaan ku hari ini tidak enak sekali.
Lalu aku melihatnya.
Aku lihat Satrio sedang melamun di taman sendirian, lalu ingin ku hampiri. Namun tangan ku ditarik Nathan.
"Nad, kita bikin sate yuk."ucapnya
"Oh iyaa, tapi saya mau panggil Satrio dulu yaa Pak."ucapku
__ADS_1
"Nggak usah, biar Mang Ujang aja, ayo kamu kan jago masak, sekalian bakar ikan juga."ucapnya lalu menarik tangan ku
Kami pun berkumpul dibelakang Villa dan Satrio sudah dipanggil Mang Ujang.
Lalu aku mulai membuat sate dan Ikan bakar bersama yang lain, ternyata ketika di perjalanan Pak Nathan sudah membeli semua makanan dan bumbu bersama Ibu bahkan peralatan nya.
Pak Nathan pun membantu aku menyiapkan alat bakar nya, Adik-adik dan Ibuku yang membersihkan ayam dan ikan nya. Sementara Satrio yang menusuk satenya.
Lalu aku dan Pak Nathan yang memanggangnya sate dan Ikannya.
Akhirnya sate dan Ikan siap di panggang.
Setelah hampir 20 menit selesai dan jadi.
"Nad, cobain ini deh."ucap Nathan sambil menyuapiku
"Iyaa makasih Pak."ucapku lalu mencoba
"Gimana? udah matang kan yaa?."tanyanya
"Udah Pak, udah empuk koq."ucapku tersenyum
Sementara Satrio sedang membuat permainan dengan Adik-adik, sedikit pun dia tak melihat ku, mungkin dia marah, Ayah, Mang Ujang dan Ibu tertawa melihat Adik-adik mukanya putih oleh tepung, akibat kalah bermain dengan Satrio.
Aku senang melihat kedekatan mereka, tapi aku sedih melihat sikap Satrio yang berubah padaku.
Lalu aku kegerahan hingga berkeringat, Pak Nathan mengambil tissue dan mengelap wajahku.
"Maaf yaa Nad, kasihan kamu keringetan, aku lap yaa?."tanya nya
"Nggak.."ucapku lalu dipotong Pak Nathan yang langsung mengelap wajahku
Jujur aku malu dan tidak enak, apalagi sikap Pak Nathan berubah sekali hari ini, apalagi panggilan nya sudah aku dan kamu. Hufft ada apa sih ini?
"Nad, udah jadi belum?"teriak Ibu
__ADS_1
"Sudah Bu, aku bawa kesitu yaa."ucapku sambil menghampiri mereka dengan membawa Sate dan Ikan nya.
Lalu kami berdoa dan makan bersama, terlihat Adik-adik ku sangat akrab dengan Satrio bahkan ketika makan. Mungkin karena mengerjakan tugas diajari Satrio.