
"Aku..." Ai tampak linglung.
Untuk sesaat dia tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membalas Almaira karena apa yang dikatakan memang benar.
Dia...
Berani-beraninya melambungkan harapan kepada laki-laki sesempurna Ustad Vano. Laki-laki, Ustad Vano adalah laki-laki sempurna dan ia pasti menginginkan pasangan yang sempurna pula.
Sedangkan dirinya?
Ai tidak bisa memenuhi semua itu. Dia tidak punya bentuk tubuh yang indah, dia adalah gadis berdada datar, dan dia tidak memiliki rambut hitam yang panjang nan memukau.
Dia tidak punya itu semua, dia tidak bisa membuat Ustad Vano nyaman hidup bersamanya. Dia kurang, sangat kurang dalam segala hal.
Dan rahim ini,
Tangan kurusnya menyentuh perut bagian bawah yang masih datar, sangat-sangat datar tanpa ada kehidupan di dalamnya.
Ai tahu, bahkan ia sudah lebih tahu dari Almaira jika tempat ini, tempat yang Allah berikan kepadanya sebagai kelebihan, tempat yang semua wanita di muka bumi ini punya... tempat yang seharusnya menghasilkan sebuah kehidupan sangat kecil kemungkinan terjadi kepada Ai.
Dia...
Dia tidak bisa memberikan keturunan untuk Ustad Vano, untuk laki-laki yang ia cintai ataupun untuk laki-laki manapun di dunia ini.
Karena ia tidak mampu,
Dia tidak mampu melakukan itu semua dan ia juga tidak punya semua yang dimiliki oleh Almaira, lalu mengapa dia begitu berani melambungkan harapan kepada Ustad Vano?
Apa karena mereka adalah bagian dari masa lalu?
__ADS_1
Apa karena mereka pernah membuat janji 13 tahun yang lalu?
Wahai Aishi Humaira, berhentilah membuat angan-angan yang tidak mungkin! Ini hanyalah janji kekanak-kanakan, janji yang tidak sepatutnya diingat oleh orang sebesar dirimu!
"Kamu tidak bisa mengatakan apa-apa, bukan? Kamu tidak bisa mengatakan apa-apa karena kamu tahu bahwa semua yang aku katakan tadi itu benar! Kamu cacat dan kamu tidak punya kelebihan apapun, jadi aku mohon Aishi Humaira, tolong berhentilah mengejar Ustad Vano karena ia lebih pantas bersanding dengan diriku, bersanding dengan wanita yang sempurna seperti dirinya. Aishi, maukah kamu?" Almaira melembutkan nada bicaranya di akhir kalimat.
Ai terdiam. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan luka yang telah bertubi-tubi menghujani hatinya.
Ini...
Ini sungguh sakit. Ini sungguh sakit, ya Allah.
"Aku...ingin pulang." Dengan linglung dia berdiri dari duduknya.
"Kamu belum menjawab ku." Almaira menuntut.
Namun Ai tidak perduli. Dia membawa kedua kakinya yang sudah lemas melangkah selangkah demi selangkah keluar dari rumah Umi.
Tapi melihat semua reaksi Ai tadi, Almaira tahu jika Ai seharusnya sudah mengerti posisinya di sini dan ia harap Ai tidak akan menganggu kedekatannya dengan Ustad Vano.
Hah, akhirnya beban berat di dalam hatinya bisa ia singkirkan.
Sementara itu diluar rumah, Ai melihat langit sudah gelap. Dia tidak sadar jika pembicaraannya dengan Almaira akan menghabiskan waktu sebanyak ini. Bingung, ia kemudian melihat ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Tiara.
Tapi Ai tidak menemukan keberadaan Tiara di sini, dan ia tahu jika Tiara lagi-lagi mengingkari janjinya.
"Aku ingin tidur." Bisiknya mulai berjalan sendirian.
Menapaki jalan setapak yang sangat sepi karena semua orang sedang sholat di dalam masjid sekarang.
__ADS_1
Dari jauh, punggung kurus Ai terlihat sangat kesepian. Dia kesepian, dia merasa asing di sini. Dia merasa tempat ini bukanlah tempat yang pantas untuk ia datangi.
"Kepalaku pusing." Ai bergumam kepada dirinya sendiri.
Ia mengatakan jika kepalanya pusing tapi tangan kanannya dengan terkepal mulai memukul-mukul dada datarnya.
Dia memukulnya panik, seolah dengan begini semua rasa sakit dan sesak di dalam hatinya bisa segera menghilang.
"Hiks.. rasanya sakit ya Allah, rasanya sakit!"
Ai sangat terluka, dia kecewa dengan semua kebenaran yang Almaira katakan tadi. Dia sungguh amat sangat kecewa.
"Ya Allah, ini sakit." Langkahnya terhenti. Merasa sesaknya tidak bisa hilang, ia memeluk dadanya dengan harapan yang sama, harapan bahwa semua kepedihannya segera menghilang.
Bingung, hatinya masih saja berdenyut perih. Ia bertanya-tanya, langkah apa yang harus ia lakukan agar hatinya ini tidak sakit lagi.
Apa yang harus ia lakukan?
Apa?
Ah, bila saja dia tidak melangkah terlalu jauh maka hatinya tidak akan sesakit ini. Dia tidak akan kecewa dengan semua kebenaran yang Almaira katakan tadi, setidaknya...ini tidak akan sesakit ini.
"Mengapa diri ini masih belum menyadarinya? Mengapa diri ini masih belum menyadari kekurangannya, ya Aishi! Ya Aishi, bangunlah! Bangun dari semua harapan sia-sia mu! Kamu tidak bisa memberikan apapun kepadanya, kamu tidak bisa memberikan apapun! Lantas, apa yang membuat mu begitu lancang mencintainya? Apa, Aishi! Apa!"
Ia terpuruk, ia mempertanyakan dirinya sendiri, mengapa?
Mengapa ia begitu berani mendambakan seseorang yang Allah ciptakan dalam raga yang sempurna?
Sedangkan dirinya?
__ADS_1
Ia adalah gadis yang cacat.
Ia cacat.