Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.4)


__ADS_3

Almaira memutar bola matanya malas.


"Aku tahu, tapi dibandingkan dengan kami, kamu adalah produk cacat yang tidak bisa digunakan."


Berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan Almaira, ekspresi dan sikap Ai masih tenang seperti sebelumnya. Seolah-olah apa yang Almaira katakan tadi tidak membuatnya tersinggung ataupun sampai menyakiti hatinya.


Akan tetapi, hanya Allah yang tahu betapa sakit hati Ai saat ini. Bagaikan sebuah pisau tajam yang mulai mengiris-iris daging hatinya, menghidupkan kembali luka basah yang sebelumnya sudah dengan susah payah ia obati.


"Aku... memang cacat, Kak." Ai mengakui dengan nada suara yang sangat ringan, menahan sakit dari setiap kata yang terucap di bibirnya.


"Namun, itu bukan berarti Kakak juga sempurna. Kita dilahirkan ke dunia dengan sebuah kelebihan dan kekurangan, tak satupun yang lahir di sini ini tanpa kekurangan ataupun kelebihan. Sama seperti diriku. Mungkin secara fisik ini adalah kekurangan ku dan ini adalah kelebihan untuk Kak Almaira, namun kita tidak tahu dengan yang lain. Siapa tahu aku mempunyai sebuah kelebihan yang tidak ada di dalam diri Kak Almaira."


Ai mengakui bahwa ia berbeda dan ia pun tidak akan pernah menyangkalnya seumur hidup. Meskipun akan ada rasa cemburu yang terbentuk di hatinya ketika melihat wanita-wanita disekelilingnya, tapi itu adalah hal yang wajar karena ia juga seorang manusia yang tidak lepas dari salah dan dosa.


Akan tetapi kecemburuannya hanya sebatas kecemburuan saja, karena setelah itu ia akan mulai merapikan hatinya kembali dan untuk kesekian kalinya mulai mencoba menerima semua perbedaannya.


"Nah, inilah yang aku maksud Aishi. Kita sedang membicarakan fisik, fisik yang tidak kamu miliki untuk membuat Ustad Vano bahagia bersamamu." Almaira langsung memfokuskan pembicaraan mereka pada titik fokus yang sangat sensitif untuk Ai.


Fisik,


Rupanya Almaira benar-benar tidak ingin melepaskan Ai pergi.


"Apa maksud Kak Almaira. Ustad Vano tidak ada hubungannya dengan fisikku." Kata Ai mulai lemah.

__ADS_1


Ah, fisiknya.


Ia tahu masalah ini tidak akan mudah diterima oleh orang yang ia cintai sekalipun Ai sudah menerima perbedaan dirinya sendiri.


"Ustad Vano memang tidak ada hubungannya dengan fisik kamu, Aishi, tapi tidak dengan dirimu. Aku yakin Ustad Vano adalah laki-laki yang normal dan menginginkan wanita yang normal pula. Apa kamu tidak mengetahui masalah sedasar ini?" Almaira senang menemukan topik yang sangat bagus untuk menjerat Ai.


Laki-laki normal diperuntukkan untuk wanita normal pula, lalu apakah perbedaan yang ia punya ini adalah sebuah ketidaknormalan?


Jika memang iya, lalu kenapa Allah mengirimnya ke dunia ini dengan keadaan yang 'tidak normal'?


Ini karena Allah ingin menguji ku untuk akhiratku kelak. Batin Ai menguatkan hatinya.


Ini semua adalah ujian, ia harus melapangkan hatinya. Menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.


"Kak Almaira, hati seseorang hanya Allah yang tahu. Kita sebagai hamba-"


Dia lalu menatap Ai dengan tatapan menilai. Ia kemudian bangun dari duduknya, berdiri di depan Ai dengan jilbab panjang yang sudah ia lepas beberapa detik lalu. Tindakan ini diluar perkiraan Ai, dia tidak tahu mengapa dan apa tujuan Almaira melepaskan jilbab.


"Lihat aku baik-baik." Perintah Almaira.


Ai sungguh tidak tahan tapi karena Almaira terdengar sangat kesal ia pun dengan enggan mengangkat kepalanya melihat Almaira.


Ah,

__ADS_1


Rupanya begitu.


Almaira, gadis yang berdiri di depannya kini terlihat sangat berbeda dengan gadis yang berjilbab panjang yang selalu mewarnai pujian anak-anak pondok.


Almaira tidak hanya cantik menggunakan jilbab, namun tanpa menggunakan jilbab pun ia jauh lebih cantik.


Rambut hitam panjangnya yang lurus dan terawat menjuntai indah di pundak Almaira. Menyingkap kecantikan yang belum pernah Ai lihat sebelumnya. Bulu matanya yang panjang dan lebar, bibirnya yang tebal dan merah terang, hidungnya yang terbentuk seperti bukit, dan wajahnya yang putih mulus.


Dia benar-benar sempurna.


"Aku sempurna, bukan?"


Rasanya begitu sakit.


"Aku mempunyai wajah yang cantik," Dia menunjuk wajahnya dengan bangga.


"Allah memahat tubuhku dengan indah,"


"Aku juga punya buah dada yang menonjol, dari buah dada inilah kelak aku akan menyusui anak-anak ku dengan Ustad Vano. Lihat Ai, tidak hanya tubuhku saja yang sempurna namun aku juga bisa menyenangkan Ustad Vano. Aku bisa memberikannya seorang anak, tapi bagaimana dengan dirimu, Ai? Aku pernah membacanya di sebuah buku medis jika produk cacat seperti kamu akan sangat sulit mendapatkan keturunan! Tidak hanya membaca buku saja tapi aku juga menghubungi banyak dokter kenalan Abi untuk mempertanyakan kebenaran ini. Dan Aishi, tahukah kamu apa yang mereka bilang? Mereka bilang bahwa kecil kemungkinan kamu bisa menghasilkan keturunan. Jika bisa, janin itu tidak akan bertahan lama karena konstitusi tubuhmu yang telah rusak sejak lahir! Allah sudah menciptakan kamu gagal dari sejak lahir, Aishi. Tidak hanya tidak bisa menyenangkan Ustad Vano namun kamu juga tidak bisa memberikan Ustad Vano keturunan. Katakan, Ai? Apa kamu tidak merasa malu menyukai laki-laki sempurna di saat kamu sendiri adalah sebuah kegagalan?"


Bersambung..


Up 1 dulu, Inshaa Allah kelanjutannya nanti malam atau besok pagi hehe...

__ADS_1


Sabar yah, part-part ini agak menjengkelkan karena ini adalah konflik terakhir untuk Aishi, rencananya 🍃


Oh ya, saya kok kasian yah liat Davin dimarahin terus sama reader huhu... padahal Davin orangnya... orangnya apa hayooo..


__ADS_2