
Tiga hari sudah Al di rawat di rumah sakit dan selama tiga hari pula Youn menemani Anisa menjaga Al. Balita itu sudah mulai akrab dengan Youn karena selama di rumah sakit Youn kerap kali menggendongnya dan bercanda dengannya. Kasih sayang dari pria dewasa yang jarang sekali Al rasakan dari ayahnya, Rendi.
Anisa memperhatikan dua laki laki beda generasi sedang bercanda di ranjang Al. Hari ini Al sudah tampak lebih sehat dan itu membuat Anisa merasa senang sekali.
Youn melirik ke arah wanita yang sedang memperhatikannya.
"jangan menatap ku seperti itu nanti kau bisa jatuh cinta padaku,"goda Youn tiba tiba.
Anisa terperangah lalu mencebik kan bibirnya."Percaya diri sekali, siapa juga yang akan jatuh cinta pada pria penuh tato," ucap Anisa lalu mengalihkan pandangannya.
"ha ha.... jika pria ini tidak memiliki tato apa kamu akan jatuh cinta? goda Youn lagi.
Anisa mendelik kan matanya, ia kesal di goda terus oleh pria bermata sipit tersebut. kemudian, Anisa berkemas kemas, karena hari ini Al sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
"sudah selesai semuanya?"tanya Youn.
"sudah."
"kalau begitu, kita pulang sekarang saja."
Anisa mengangguk.
"ayok jagoan, uncle gendong," ucap Youn sambil merentangkan kedua tangannya pada balita yang sedang duduk di ranjang. Al menurut lalu ia menaiki tubuh pria tinggi tegap tersebut.
Anisa dan Youn berjalan beriringan seperti sebuah keluarga kecil menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran mobil. Pada saat mereka baru keluar dari gedung rumah sakit, Youn dan Anisa berpapasan dengan Rendi, suami Anisa.
"Oh, jadi ini yang kamu lakukan di belakang ku Nis, kamu selingkuh dengan pria asing ini. pantes aja kamu mengusirku dari rumah agar kamu lebih leluasa selingkuh dengan pria bajingan ini, iya kan?"tuduh Rendi dengan sinis.
Anisa menatap tajam ke arah Rendi, ia tidak terima di sebut selingkuh oleh suaminya.
"heh, jangan asal nuduh kamu bilang saya selingkuh. saya ngusir kamu dari rumah ibu saya karena kamu memang pantas untuk di usir karena kamu suami yang tidak tau diri."
"kemari kan anak ku." Rendi hendak merebut Al dari gendongan Youn namun Youn segera menepis kasar tangan Rendi.
"brengsek kau, kemari kan anak ku, Al adalah anak ku darah daging ku. kau tidak berhak atas diri Al," bentak Rendi pada Youn.
"heh, jangan coba coba kamu mengambil Al dariku. kamu memang ayah biologisnya. tapi yang mengandung, melahirkan, merawat serta memberi makan Al adalah aku. Kamu lupa ya, di saat Al masih bayi aja kamu udah sering membuat anak dengan ja la ng mu itu. lebih baik sekarang kamu pergi dari hadapan kami urus aja ja la ng serta anak hasil zinah kalian." Anisa geram sekali pada Rendi.
"kamu kurang ngajar banget Anisa, gini gini aku masih suami mu dan kamu masih istriku."
"cih, aku tidak sudi lagi jadi istri mu. dan aku ngga pernah lagi menganggap kamu sebagai suamiku."
"sebelum aku menjatuhkan talak, kamu masih istri sah aku dan aku berhak atas dirimu Anisa. dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjatuhkan talak padamu."
"ck, apa anda lupa bahwa negara anda adalah negara hukum? meskipun anda tidak menjatuhkan talak pada Anisa tapi ada hakim yang bisa menjatuhkan dan memutuskan perceraian kalian. Lagi pula mudah saja untuk menceraikan anda karena sudah ada bukti bukti yang kuat," ucap Youn tiba tiba.
"kau, berani sekali kau ikut campur. jadi benar dugaan ku. kau adalah orang yang memberi pengaruh buruk untuk istri dan anakku sehingga mereka membenciku. dasar laki laki brengsek kau."
Bugh
Bugh
Rendi berhasil melayangkan tinju ke wajah serta perut Youn, karena tangan Youn sedang menggendong Al, ia kesulitan untuk menghindarinya.
Al menangis histeris, Anisa terkejut sekali lalu mendorong kuat tubuh Rendi hingga pria itu terjungkal dan jatuh ke belakang.
Brughh
"aww.....!" pekik Rendi.
"kurang ngajar kau Anisa." Rendi menatap tajam ke arah Anisa dengan sorot mata yang berapi api. Kemudian ia bangkit dan hendak menerkam Anisa. Namun, Youn menjegal kaki pria tersebut.
Brugh
"aww.....!" pekik Rendi.
Rendi terjatuh kembali perutnya berbenturan dengan lantai.
__ADS_1
"Brengsek kau bajingan," teriak Rendi dalam kesakitan.
"Cih, bajingan teriak bajingan. Jangan coba coba kau menyakiti Anisa kalau tidak mau ku buat remuk tulang mu itu,"ancam Youn.
"ayok Anisa, kita tinggalkan pria brengsek ini." Youn menuntun tangan Anisa menuju mobil.
Rendi menatap benci dan marah, istri serta anaknya dibawa oleh pria lain. Rendi yang baru mengetahui jika Al sakit dan di rawat di rumah sakit dari mertua saat ia berkunjung ke rumahnya hendak menjumpai Al, segera bergegas ke rumah sakit. Ia sama sekali tidak tahu kabar Al karena ponselnya sendiri sama sekali tidak ada pemberitahuan apa apa dari Anisa. Rendi bangkit lalu bergegas pergi ke rumah kontrakannya. Tiba di kontrakan ia tidak menemukan dimana keberadaan istri sirinya.
"kemana dia perginya?"gumam Rendi.
Tak selang lama orang yang sedang ia cari muncul dari balik pintu sambil menenteng sebuah kantong kresek.
"dari mana aja kamu Reni?" tanya Rendi.
"kerja lah," jawab Reni sambil meletakkan kantong kresek itu di atas meja.
"nih aku bawa makanan, kamu belum makan bukan?"
"kerja apa kamu?"
"kerja apa aja yang penting dapat duit buat bayar kontrakan sama makan. Bukannya kamu sendiri yang menyuruh aku kerja nyari duit?"
"ya, setidaknya kamu kasih tau aku dulu kerja apa?"
"cerewet banget sih kayak mulut perempuan, ngga kerja di omongin kerja di omongin lagi. Lama lama stres aku menghadapi sikap kamu yang aneh itu. Udah ah, aku gerah mau mandi. Itu di makan capek capek aku beli."
Reni beranjak pergi meninggalkan pria yang masih bengong melihatnya. Rendi merasa Reni berubah sikap. Padahal dulu saat mereka pacaran diam diam di belakang Anisa, sikap Reni begitu lembut dan sopan terhadap dirinya. Oleh karena itu, Rendi menyukainya dan tidak mau meninggalkannya sampai Reni hamil olehnya.
Anisa dan Youn sudah tiba di rumah bercat biru. Mereka turun dari mobil langsung di sambut oleh Bu Nia dan mengambil alih mengambil Al dari gendongan Anisa.
"biar mamah yang bawa Al ke dalam."
"makasih mah."
Youn menoleh pada pria yang pelipisnya terluka karena tinjuan Rendi tadi.
"mari, aku obati dulu lukamu."
"apa kamu tidak sadar?"
"tidak, ha ha..!" Youn tertawa lebar. Ia benar benar tidak sadar jika pelipisnya terluka dan mengeluarkan darah.
"ehem, ya sudah yuk aku obati dulu."
"seperti nya tidak usah Nisa, lukanya tidak parah. lagi pula aku tidak mau merepotkan mu."
Anisa tidak menanggapi tolakan Youn, ia malah mendekat lalu menarik tangan pria tinggi tegap itu dan membawanya masuk ke rumahnya.
"tunggu sebentar," ucap Anisa lalu beranjak meninggalkan Youn yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Tak lama kemudian, Anisa kembali lagi ke ruang tamu lalu duduk di samping Youn.
"lihat ke arahku, biar aku bersihkan dulu lukamu."
Youn menurut, ia mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang duduk di sampingnya.
"maaf ya." Anisa mulai membersihkan luka yang sudah mengering secara perlahan.
"aduh duh.....sakit Nisa," keluh Youn.
Anisa menatap pada sorot mata pria yang tengah meringis kesakitan, begitu pula dengan Youn menatap lekat pada mata bulat di hadapannya.
"kenapa jantungku berdegup kencang di tatap wanita ini? perasaan yang tidak pernah ku rasakan di setiap dekat dengan puluhan wanita. Apa aku jatuh cinta padanya? cinta cinta pada wanita yang sudah memiliki suami?"
"seperti ini saja sudah kesakitan, bagaimana kalau lukanya parah?"
Ucapan Anisa menyadarkan Youn dari lamunannya.
__ADS_1
"ya, ya memang sakit rasanya," jawab Youn dengan gugup lalu menggaruk tengkuknya.
"Nis, mending kamu ajak makan siang tuan Youn dulu. Mamah udah masak," titah Bu Nia yang tiba tiba saja muncul dari arah dapur.
"apa saya tidak merepotkan Bu?"
"oh, sama sekali tidak tuan."
"Al, dimana mah?"
"Al, lagi tidur di kamar mamah. Udah sana ajak tuan Youn makan, udah jam satu lho pasti tuan Youn lapar."
"ibu tau saja kalau saya memang sedang lapar," ucap Youn lalu tersenyum lebar.
"mari tuan," ajak Anisa lalu mereka beranjak pergi ke dapur.
Anisa dan Youn menatap pada hidangan di atas meja. Ada Nasi, sambal, lalapan, ayam goreng, tempe goreng, sayur kangkung.
"duuh, apa pria Korea ini suka sama makanan beginian?" gumam Anisa lirih tanpa sadar.
"hei, kau bilang apa? aku memang orang Korea tapi apa kau tidak tau, segala jenis makanan aku suka?"
Anisa terperangah." benar kah? kalau begitu mari makan."
Youn makan dengan lahap, semua jenis makanan yang ada di meja ia cicipi termasuk sambal. Sesekali ia menyeka keringat di dahinya karena sambal yang pedas. Anisa tersenyum saja melihatnya. Ia tidak menyangka pria seperti Youn menyukai makanan sederhana yang di masak oleh ibunya.
"kau tau, aku rindu masakan seperti ini? mengingatkan aku pada teman kuliah ku dulu," ucap Youn.
"benar kah?"
"iya, dulu aku memiliki sahabat baik berasal dari negara ini. Aku sering main ke apartemennya dan sering memasak kan makanan seperti ini untukku. tapi setelah lulus dan dia melanjutkan studi ke negara Arab, aku tidak pernah berjumpa dengan nya lagi dan kehilangan kontak. Oleh karena itu, aku datang ke negara ini selain ingin menemui sahabat ku yang dingin itu, aku juga ingin mencari sahabat ku yang hilang. Siapa tau aku beruntung dan dapat menemukannya kembali karena dia memiliki hutang padaku."
"Hutang?"
"iya, dia memiliki hutang penjelasan tentang agama Islam padaku."
uhuk uhuk
Anisa terbatuk mendengar cerita Youn. Ia tidak menyangka pria yang seperti preman ini memiliki keinginan untuk memahami agama Islam bahkan sejak dari dulu.
Anisa segera meneguk air putih yang ada di hadapannya.
"hati hati makannya."
Anisa mengangguk. Lalu, ia melanjutkan lagi makannya hingga habis.
"hm, apa kamu memiliki keinginan untuk berpisah dari suamimu?" tanya Youn tiba tiba, setelah mereka selesai makan dan duduk di depan teras depan rumah.
Anisa menoleh pada pria di sampingnya.
"aku memang harus berpisah dengan pria yang sudah mengkhianati ku selama ini. Lagi pula, aku tidak mau berbagi suami, lebih baik aku jadi single mom."
Youn manggut manggut kecil, seulas senyum tersungging di bibirnya. Entah mengapa, ia merasa senang mendengar keputusan tegas Anisa.
Tak terasa hari menjelang sore. Youn pamit pada Anisa serta Bu Nia.
"terima kasih banyak ya tuan Youn, kami banyak merepotkan tuan,"ucap Bu Nia.
Youn tersenyum hangat." Tidak ada yang merasa direpotkan Bu, oya terima kasih atas makan siangnya masakannya Enak sekali saya suka."
"ah, tuan berlebihan. Hanya makanan sederhana karena saya tidak bisa masak yang aneh aneh.
Youn menoleh pada balita yang sedang yang di gendong oleh Anisa. Lalu, ia mengambil alih menggendongnya.
"jangan sakit lagi okey jagoan, nanti kalau sakit lagi mama Anisa sedih. Uncle tidak mau melihat mama Anisa sedih. Al juga tidak mau melihat mama sedih kan?" Youn berbicara pada Al namun matanya melirik pada Anisa yang tengah menunduk.
"Boleh kan kalau uncle sering main ke sini ?"
__ADS_1
Al mengangguk.
"good boy." kemudian Youn menciumi pipi Al dengan gemas.