
"Apa bibi melihat tuan Hoon dimana dia berada?" tanya Youn yang baru saja tiba di rumah Shin dan melihat bi Surti sedang berjalan menuju arah mobil yang terparkir seperti hendak pergi.
Bi Surti menghentikan langkahnya lalu menoleh pada pria yang bertanya padanya."I iya tuan Youn, tadi tuan Hoon sedang berada di kolam renang."
"Oh, begitu. Bibi mau pergi kemana?"
"Saya mau keluar dulu tuan Youn, permisi." Bi Surti berjalan ke arah mobil lalu membuka pintu mobil. Sekilas Youn seperti melihat sosok wanita yang sangat di kenalnya di dalam mobil tersebut.
"Apa aku tidak salah lihat kalau di dalam seperti ada Norin," gumam Youn sambil memperhatikan mobil yang sedang melaju pelan meninggalkan mansion. Namun, Youn tidak ingin berfikir panjang lalu ia melangkah kan kakinya menuju kolam renang.
Youn menemui Shin yang sedang duduk di kursi tepi kolam renang sambil meminum kopi.
"Hai bro !" sapa Youn sambil berjalan menuju dimana Shin duduk.
Shin melirik dengan ekor matanya tanpa menjawab sapaan sahabatnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah kolam.
"Aku seperti melihat Norin keluar dari rumah ini bro. Apa dia tidur di rumah ini tadi malam?" tanya Youn sambil menggeser kursi di hadapan Shin.
Shin menyeruput kopinya dan mengabaikan pertanyaan Youn bahkan menoleh pada pria itu pun tidak.
"kau terlihat kusut sekali seperti kaset. what happen bro?"tanya Youn lagi.
"tidur dimana kau tadi malam?" Shin mengalihkan pertanyaan Youn.
"aku? aku...tidur di rumah calon istriku," jawab Youn santai.
Shin mencebik kan bibirnya. Sebenar nya saat ini ia malas sekali berbicara dengan siapa pun termasuk sahabatnya itu.
"Hoon, aku mau menanyakan soal.....!"
Shin mengacungkan telapak tangannya sebagai aba aba untuk Youn berhenti bicara dengannya.
"Nanti saja. Aku sedang malas mendengar dan bicara."
Youn mengerutkan dahinya merasa aneh pada sikap sahabatnya saat ini."what's problem?"
"Nothing."
Youn menghela nafas. capek capek ia datang menemui Youn justru malah di abaikan oleh sahabatnya itu.
"alright, I will not disturb you anymore." Youn berdiri lalu menepuk pundak Shin. Setelah itu, ia beranjak pergi meninggalkan Shin yang sedang menghisap rokoknya.
"Bagaimana urusan Anisa cepat selesai jika orang yang mau membantunya saja selalu susah untuk di ajak bicara. Apa lebih baik aku saja yang menghandle masalah perceraian Anisa agar Anisa cepat bercerai dan aku lebih leluasa untuk mendekatinya? oh ya lebih baik seperti itu." Youn bergumam sambil berjalan menuju kamarnya.
Youn merebahkan tubuhnya di kasur. pandangannya menatap langit langit kamar tapi fikirannya melayang ke rumah sederhana bercat biru.
"Baru satu jam aku meninggalkan nya tapi sudah rindu sekali. Apa aku ke sana lagi saja? Oia ini hari weekend so aku punya alasan nanti." Senyum Youn mengembang lalu ia bangkit dan beranjak pergi.
Youn mengemudikan mobilnya dengan santai menuju rumah Anisa. Namun, di tengah perjalanan ia menyempatkan diri untuk menghampiri toko mainan yang cukup besar. Youn tau jika mainan Al hanya sedikit jadi ia berniat untuk membelikan Al banyak mainan. Setelah memarkirkan mobil, Youn masuk ke toko mainan tersebut lalu mencari beberapa mainan untuk Al.
brughh
"Abi....Abi....Abi..!" teriak anak kecil yang tiba tiba terjatuh di belakang Youn lalu menangis memanggil orang tuanya.
Youn terkejut melihat anak kecil berusia empat tahun jatuh tepat di belakangnya. Kemudian ia segera menghampiri anak kecil tersebut.
"apa kamu tidak apa apa?" tanya Youn sambil membangunkan bocah itu.
Tak lama kemudian, seorang pria dan seorang wanita tergopoh gopoh menghampirinya.
"Alief....kamu ngga apa apa nak?" tanya seorang wanita berjongkok lalu meraih anaknya.
"sepertinya anak anda tidak terluka," Ucap Youn lalu berbalik menghadap pada pria yang sedang berdiri di belakangan nya. Seketika pupil matanya melebar melihat siapa yang ada di hadapannya begitu pula dengan pria tesebut.
"Robbi....!" ucap Youn dengan raut wajah terkejut.
"Youn....!"ucap pria tersebut sama hal nya dengan Youn tak kalah terkejut.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir mereka lalu mereka berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah sekian lama. Youn tidak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan sahabat nya yang sudah lama sekali menghilang bak di telan bumi.
"jadi itu anak mu bro?" tanya Youn ketika mereka sudah saling melepas rindu.
"that's right, itu anak serta istriku," jawab Robby sambil melirik pada wanita berhijab besar sedang menggendong anak laki laki.
"mi, kemari," titah Robby pada istrinya. Sang istri menurut lalu mendekati mereka.
"Kenalkan ma, ini Youn, teman papa waktu kuliah di Seoul," ucap Robbi memperkenalkan Youn pada sang istri. Sang istri tersenyum pada youn lalu mengangguk kecil.
"Ini Alina, bidadari surga dunia ku bro," ucap Robbi pada Youn sambil tersenyum. Youn tersenyum pada Alina." hello nyonya Alina.
"wow, it's great. Setelah sekian tahun tidak bertemu sekali bertemu kau sudah berubah jadi seorang suami sekaligus seorang papa bro."
"Ha ha....as you can see. By the way, apa kamu juga sudah memiliki istri dan anak?"
"me? ha ha....not yet."
"So, kenapa kamu berada di tempat mainan anak anak bro?"
"oh, aku sedang mencari mainan untuk anak teman ku."
"begitu? hm bagaimana jika besok kita bertemu dan mengobrol agar lebih leluasa, sebab aku harus segera pulang sekarang. Oya kebetulan anak ku besok sore mau mengadakan syukuran ulang tahun kau datang lah ke rumahku, nanti aku beri tahu kamu dimana letak rumahku."
"alright, aku akan usahakan datang ke rumahmu besok sore."
"aku tunggu ke datangan mu bro," ucap Robbi sambil menepuk sebelah bahu Youn.
"well, kalau begitu aku pulang dulu bro."
Youn mengangguk." silahkan hati hati."
Robby keluar dari toko mainan sambil menggiring istri dan anaknya menuju mobil yang terparkir di samping mobil Youn. Youn memperhatikan pasangan keluarga kecil itu dari dalam toko lalu menyunggingkan senyum.
Tin tin ...
Youn dengan sengaja membunyikan klakson di depan rumah Anisa. Al berlari mendekati mobil yang baru saja berhenti di depan rumah bercat biru tersebut.
Youn merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menangkap Al.
"Kenapa dia balik lagi? perasan baru tiga jam yang lalu dia balik. Apa ada yang ketinggalan," gumam Anisa sambil memperhatikan Youn yang sedang memeluk Al dan menggendongnya. Kemudian, Anisa bangkit lalu berjalan mendekati Youn serta Al di halaman rumahnya.
"Kenapa balik lagi, apa ada yang tertinggal di sini ?" tanya Anisa pada pria yang sedang menciumi Al dengan gemas membuat Al tertawa menahan geli. Youn menghentikan aksinya lalu menoleh pada Anisa.
"Iya ada yang tertinggal di sini," jawab Youn lalu tersenyum lebar.
"Apa yang tertinggal biar aku ambilkan," jawab Anisa serius.
"Hatiku yang tertinggal. Bisa kah kamu mengambilnya dan memberikannya padaku?"
Anisa mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kalimat ambigu yang di lontarkan oleh pria di hadapannya itu.
"Maksud mu? aku tidak mengerti."
Youn tersenyum," Nothing, forget it."
Kemudian Youn menurunkan Al." Sebentar jagoan, uncle membawakan sesuatu untukmu.
Youn berjalan ke arah belakang mobil lalu membuka bagasi yang penuh dengan mainan lalu menurunkannya satu persatu. Anisa membelalak kan matanya melihat semua mainan yang sudah di pastikan harga satuan mainannya memakan harga jutaan rupiah.
"Acik Acik hole hole al punya mobil besal motol besal," teriak Al senang melihat mobil besar dan motor besar serta mainan lainnya di hadapannya.
"Ini semua untuk Al," ucap Youn pada balita yang sedang menatap beberapa mainan dengan mata berbinar binar. Mainan yang belum pernah orang tuanya belikan untuknya.
"Youn, ini pasti harganya mahal mahal ke....!"
"tidak masalah, selagi Al suka." Youn memotong ucapan Anisa.
__ADS_1
"kau memanjakannya Youn."
"Memang kenapa jika aku memanjakannya? Lagi pula Al belum pernah di manjakan oleh papanya bukan?"
Anisa merasa saliva nya tercekat di tenggorokannya. Youn benar bahwa Al tidak pernah di belikan mainan oleh papanya.
"Mashaallah....ini mainan banyak sekali Al," ucap Bu Nia yang tiba tiba datang dan melihat cucunya sedang memegang motor mini elektrik.
"Ini tuan Youn yang membelikannya?" tanya Bu Nia menoleh pada Youn. Sementara Youn hanya tersenyum nyengir lalu menggaruk tengkuknya.
"Terima kasih banyak tuan Youn, Al pasti senang sekali mendapatkannya. maklum papanya tidak pernah membelikan mainan untuk Al sepanjang usia Al.
"Sama sama Bu," jawab Youn sambil melirik ke arah Anisa yang menunduk dan me re mas jari jari lentiknya.
"Ayok tuan Youn masuk dulu," ajak Bu Nia.
"Iya Bu, ayok Al kita coba mainannya. Al mau naik yang mana mobil atau motor?"
"Mobil uncle."
"Sip." kemudian Youn menaik kan Al ke atas mobil mini yang bisa berjalan menggunakan remote control.
"Terima kasih banyak atas pemberiannya untuk Al,"ucap Anisa saat mereka duduk di sofa sambil memperhatikan Al dan Bu Nia
yang sedang bermain.
Youn tersenyum,"You are welcome."
"Nisa....!"
Anisa menoleh," ya...!"
"Apa kamu sudah memantapkan diri untuk berpisah dari suamimu?"
Anisa mengangguk.
"kalau gitu nanti sore akan ada pengacara yang akan datang ke mari untuk mempersiapkan segalanya."
"Bukan kah harusnya aku yang mendatangi pengadilan agama?"
"Tidak usah, kau duduk manis saja biar pengacara yang bekerja. kamu kumpulkan bukti bukti yang kuat saja agar prosesnya cepat.
"Secepat itu?"
"Kenapa? apa kamu keberatan ?"
"Tidak, semakin cepat semakin lebih baik," ucap Anisa.
Youn tersenyum senang.
"Oya, besok kita di undang ke acara ulang tahun anaknya."
"Kita ?"
"Iya kita bertiga. Aku, kamu dan Al."
"Siapa?"
"Teman lamaku. Dia mengundangku untuk menghadiri syukuran anaknya."
"Tapi aku dan Al kan tidak kenal dengan mereka bagaimana mungkin bisa datang."
"Karena aku mau memperkenalkan kalian pada mereka."
"Memperkenalkan kami, kok bisa?"
"Ya karena kalian akan menjadi bagian dari hidupku."
__ADS_1
"Hah, maksudmu?"
Youn tersenyum nyengir lalu menggaruk belakang kepalanya.