Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 7.8)


__ADS_3

Di dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah kedua orang ini sangat enggan menggerakkan bibirnya untuk sekedar membuat senyuman kecil atau tipis?


"Ustad Vano, aku dengar ada seseorang yang mengatakan jika kepala kita berdua mempunyai masalah. Apa Ustad Vano juga mendengarnya?" Ustad Azam diseberang sana bertanya kepada Ustad Vano dengan suara yang tidak besar tapi juga tidak kecil untuk ukuran suara pria dewasa.


Hanya saja itu bukan berarti tidak ada yang mendengarnya. Beberapa staf asrama putri yang tadinya serius bekerja tadi mengangkat kepala mereka tampak tidak setuju.


Hei, idola mereka tidak punya masalah di kepalanya, okay!


Mega, seseorang yang menjadi objek pembicaraan mereka kini membeku di tempat tidak berani berbicara lagi. Dia menggigit bibirnya gugup sambil menajamkan kedua pendengarannya.


"Hem, apa itu benar, Ustad? Mengapa yang aku dengar justru berbeda dengan apa yang Ustad Azam dengar." Suara Ustad Vano heran.


Ustad Azam memainkan dramanya dengan baik,"Itu benar, Ustad. Aku yakin ada seseorang yang mengatakan itu kepada kita."


"Aku pikir tidak, Ustad. Yang aku dengar justru ada seseorang yang mengatakan jika kita suka menghukum orang sekalipun itu adalah sebuah kesalahan kecil. Apa Ustad Azam tidak mendengarnya tadi?" Jawab Ustad Vano dengan nada yakin.


Kini objek pembicaraan mereka beralih kepada Ai yang tertunduk gugup menahan malu. Ai jelas terkejut dia juga akan terseret dalam topik sindiran duo kulkas berjalan itu. Yang lebih mencengangkan lagi dia tidak pernah berharap Ustad Vano bisa mendengarkan apa yang baru saja dia katakan!

__ADS_1


Padahal dia sudah berusaha menggunakan volume kecil agar tidak di dengar oleh orang lain.


"Tidak, aku tidak mendengarnya." Kata Ustad Azam bekerjasama.


"Tapi Ustad Vano, apa tempat ini dingin?" Tanya Ustad Azam masih belum mau berhenti.


Bahkan hamba tidak bersalah ini tidak luput dari serangan mereka. Batin Asri mengeluh.


"Di sini sama sekali tidak dingin dan nyaman." Jawab Ustad Vano di seberang sana.


"Aku juga merasakan hal yang sama. Maka apa yang dikatakan oleh seseorang itu pasti benar jika keberadaan kita membuat kaki, tangan, dan mulutnya mulai membeku." Kata Ustad Azam menyindir Asri.


Ai, Mega, dan Asri disindir satu demi satu oleh pemilik gelar duo kulkas berjalan itu. Tentu saja mereka bertiga mempunyai reaksi yang berbeda-beda. Untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah Ai meremat kedua tangannya sebagai pelampiasan, sedangkan Mega di sampingnya diam-diam memainkan kedua sandal jepitnya di lantai untuk menyembunyikan kegugupannya, lalu terakhir Asri si hamba tidak bersalah yang mempunyai cita-cita nikah muda melampiaskan ketakutannya dengan cara fokus menghitung jari-jari di kedua tangannya. Setiap kali menghitung sampai angka 10, dia kembali lagi menghitung ulang dari angka 1. Dan ini terus berulang-ulang dia lakukan tanpa lelah.


Intinya, dari semua pengalihan itu mereka melakukannya untuk berpura-pura terlihat baik-baik saja. Mereka berpura-pura tidak mendengar, tidak tahu, dan tidak terjadi apa-apa untuk menutupi rasa malu mereka.


Padahal itu semua sia-sia karena Ustad Vano dan Ustad Azam bisa melihat semua itu. Kepala mereka yang tertunduk dalam dan kebisuan mereka yang tampak dipaksakan membuktikan bahwa mereka pasti sangat malu saat ini.

__ADS_1


Melihat ini Ustad Vano lantas tersenyum simpul. Itu terlihat sangat tampan dan jauh lebih lembut daripada biasanya. Jika saja dia menggunakan ekspresi ini sehari-hari mungkin sudah banyak santriwati yang diam-diam mengirim surat kepadanya.


Dia tersenyum, menggelengkan kepalanya ingin tertawa tapi coba ditahan dengan sikap alaminya. Tentu saja ini juga terjadi kepada Ustad Azam. Dia adalah tipe orang yang sulit sekali tersenyum bahkan di rumahnya sekalipun. Akan tetapi hari ini dia tiba-tiba tersenyum dan mengejutkan beberapa orang yang diam-diam mengintip duo idola pondok pesantren ini.


Idola kampus mereka sangat-sangat jarang menunjukkan senyum, mereka pikir wajah tampan mereka mungkin terlalu kaku untuk membentuk sebuah garis senyuman. Namun faktanya manusia adalah manusia, mereka dilahirkan sama dan punya fisik yang sama. Jadi, mana mungkin idola pondok pesantren mereka tidak bisa tersenyum.


Hanya saja.. mungkin senyuman itu ditujukan kepada orang-orang terpilihnya saja jadi tidak heran mereka jarang melihat duo kulkas berjalan ini tersenyum.


"Aku pikir kita sebaiknya kembali, Ustad." Kata Ustad Vano sambil menunjukkan waktu di pergelangan tangan kirinya.


Ustad Azam dalam suasana hati yang baik,"Tentu, aku punya urusan yang harus segera diselesaikan di ruang staf." Ustad Azam tidak berbohong.


Dia rela menunda pekerjaannya tadi agar bisa melihat seseorang yang kini tiba-tiba berubah menjadi gadis dingin. Setelah menilai tingkahnya tadi Ustad Azam akhirnya lega karena ketakutannya tidak terjadi sehingga dia bisa tenang.


Bersambung..


Masih mau lanjut?

__ADS_1


Lanjutnya siang atau sore?


__ADS_2