
"Bagaimana mungkin..." Ai sulit mempercayainya.
Ia pikir Ustad Vano sengaja berbohong untuk mengujinya.
Namun nyatanya Ustad Vano memang tidak berbohong. Dia mengatakan apa yang sebenarnya bahwa dia tidak tahu mengenai rumor itu.
"Demi Allah, aku sungguh tidak tahu. Aku tidak bisa bertanya kepada santri karena takut mereka melebih-lebihkan cerita. Sekarang kamu sudah di sini maka kenapa kamu tidak membicarakannya saja?" Ustad Vano kini melembutkan nada suaranya dan tidak setajam tadi.
Jika penolakan Ai tadi dipicu karena rumor ini maka Ustad Vano harus bersiap untuk merebut kembali kepercayaan Ai kepadanya terlepas seberapa buruk rumor itu.
Ai tersenyum kecil. Perlahan sebuah cairan hangat mengalir dari pelupuk matanya. Dia sungguh sangat kesakitan sekarang mengungkapkan betapa beraninya ia mencintai laki-laki tampan yang ada di depannya sekarang.
"Aku..." Ia menahan suara isak tangisnya.
"Aku cacat, Ustad." Kata Ai pada akhirnya.
Ustad Vano tertegun, beberapa detik kemudian wajahnya memberikan ekspresi yang sangat lembut sarat akan ketidakberdayaan.
Ia pikir hari ini akhirnya datang, hari dimana Ai meragukan dirinya sendiri karena 'kelebihan' yang Allah berikan.
Mengigit bibirnya kuat, ia berusaha menguatkan dirinya bahwa semua ini akan berakhir. Ia harus bisa melepaskan semuanya mulai dari malam ini, semuanya.
__ADS_1
"Aku lahir berbeda, aku lahir dengan dua alat kelamin ganda, Ustad. Aku tidak seperti perempuan pada umumnya. Dan apakah Ustad tahu... gadis cacat ini telah lama menyukai seseorang. Gadis cacat dan tidak tahu malu ini telah lama mencintai seorang laki-laki yang jauh lebih sempurna dari dirinya. Gadis cacat ini mencintainya tanpa menyadari kekurangannya sebagai perempuan. Ustad, apakah Ustad tahu siapa laki-laki sempurna yang telah disukai dengan lancang oleh diri yang cacat ini?"
Ustad Vano tersenyum lembut, dengan berani dan tanpa takut dilihat oleh banyak pasang mata ia membawa langkah kakinya satu langkah mendekati Ai.
"Aku harap laki-laki beruntung itu adalah aku wahai Aishi Humaira." Katanya dengan suara lembut penuh kerinduan.
"Ah," Jawaban ini jelas tidak pernah Ai perkirakan sebelumnya.
Ia pikir Ustad Vano akan bertanya dingin tanpa minat atau justru membalas tidak perduli. Namun... justru ini yang Ai dengar dari laki-laki tampan ini, laki-laki sempurna yang telah lama bertahta di dalam hatinya.
"Ustad, aku sedang tidak bercanda." Kata Ai menolak percaya.
"Aku juga tidak sedang bercanda, aku sungguh sangat berharap bila laki-laki beruntung itu adalah aku, laki-laki yang telah berhasil duduk di singgasana tertinggi di hatimu. Wahai Aishi Humaira," Ustad Vano menyentuh dagu basah Ai, perlahan Ai mengangkatnya dengan hati-hati agar mereka bisa saling menatap.
Di bawah sinar bulan yang redup, di bawah langit kepunyaan Allah, di bawah malam yang gelap kekuasaan Allah, menjadi saksi bahwa ia kini berdiri dengan keyakinan teguh dan perasaan terlembut di dalam hatinya menatap wajah cantik Aishi Humaira yang telah basah karena menangis. Wajah ini Allah ciptakan bukan lagi sebatas cantik namun sudah menyentuh keindahan bak lukisan tak tersentuh.
Ai adalah gadis terindah yang pernah Ustad Vano temui dan lihat di dunia ini, di samping itu hatinya pun bertaburan kelembutan dengan sebuah rasa yang tulus, setiap kata-kata dan perilakunya mampu melembutkan lawan bicaranya, jadi bagaimana mungkin Ustad Vano tidak luluh lantak dibuatnya?
Bagaimana mungkin ia tidak terjatuh sejatuh-jatuhnya ketika dirinya dihadapkan oleh bidadari dunia yang kelak akan menjadi wanita surga, membuat iri para penghuni langit dan bidadari surga akan ketulusan hatinya.
"Aku mencintaimu." Bisiknya dengan suara yang begitu lembut dan tulus dari bagian terdalam hatinya.
__ADS_1
Dia mengakuinya, bertahun-tahun menunggu ia akhirnya bisa mengungkapkan perasaan manis nan lembut yang telah lama terpendam ini kepada Ai, sang kekasih yang telah lama menjadi doa-doa di setiap sholatnya.
Mata persik Ai terbuka lebar, terlihat indah namun pada saat yang sama sangat menggemaskan. Dari ekspresinya saja Ustad Vano tahu bila Ai saat ini pasti sangat terkejut mendengar pengakuan tiba-tibanya.
"Ustad Vano, aku..." Ai tidak bisa mempercayainya.
Jantungnya berdegup kencang dengan berbagai macam perasaan manis yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sungguh, dia sangat bahagia, ia sungguh sangat bahagia.
Dia sangat bahagia sampai-sampai ia kesulitan mengatakan semua yang ingin ia katakan dan bahkan, air mata yang seharusnya keluar karena rasa sakit dan kekecewaan kini justru mengalir tanpa henti karena sebuah kebahagiaan yang bagaikan mimpi sebelumnya.
"Aishi Humaira, dengarkan baik-baik apa yang aku katakan." Ustad Vano mengambil satu langkah lagi lebih dekat dengan Ai sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Aku mencintaimu." Katanya dengan sungguh-sungguh.
"Aku sungguh mencintaimu." Katanya lagi bagaikan serangan rasa manis yang tidak tertahankan.
"Aku sungguh mencintaimu wahai Aishi Humaira, dambaan hatiku."
Bersambung..
Lagi?
__ADS_1