
"Siapa orang pertama yang lebih dulu keluar?" Tanya Asri cepat tidak mau mengambil resiko.
Ai dan Mega kompak diam tidak mau menjawab. Melihat itu Asri jelas terbengong, dia membawa jari telunjuknya menunjuk dadanya sendiri dengan tatapan tidak percaya.
"Aku?" Tanyanya polos.
Mega memutar bola matanya."Siapa lagi."
"Asri, apa kamu pernah mendengar pepatah tentang kamu yang memulai kamu pula yang akan mengakhiri? Ini juga berlaku untukmu." Ujar Ai membuat Mega dan Asri sontak saling memandang.
Beberapa detik kemudian mereka berdua kompak menahan tawa. Malam ini Ai terlihat berbeda dan agak..konyol dari biasanya.
"Apa ada yang aneh?" Ai berbisik ringan.
Mega melambaikan tangannya menahan tawa."Tidak, tidak ada yang aneh."
Dia kemudian menepuk pundak Asri agar dia menghentikan tawanya.
"Berhenti tertawa, jika suara tadi berasal dari seseorang maka habislah kita besok. Apa kamu mau berenang di dalam air berlumpur di bawah terik matahari?"
Oh, mereka tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya pemandangan itu. Berenang di dalam air lumpur di bawah terik matahari? Bukankah itu tidak ada bedanya dengan bunuh diri untuk para wanita muda seperti mereka?
"Nauzubillah, aku tidak mau itu terjadi!" Asri merasa ngeri.
"Maka tahan tawamu dan segera keluar untuk mencari tahu!"
__ADS_1
Asri mulai gugup kembali,"Tapi kalian harus ikut!"
"Jangan takut, kami berdua tidak akan ikut bersamamu-eh, bercanda kok. Kami akan berjalan di belakang mu." Mega masih sempat meledek Asri di saat-saat menegangkan seperti ini.
"Dasar."
Asri lalu bangun dari duduknya yang diikuti oleh Mega dan Ai. Dengan langkah hati-hati dan tanpa bersuara, mereka perlahan keluar dari persembunyian. Berjalan di samping rak-rak Al-Qur'an seraya mengawasi sekeliling untuk mencari tahu keberadaan kemungkinan adanya keberadaan 'seseorang'.
"Aku tidak melihat siapapun." Bisik Asri masih dengan langkah mengendap-endap.
"Aku juga. Di sini tidak ada seorangpun." Baik Mega maupun Ai juga tidak melihat keberadaan 'seseorang'.
"Eh, apa kalian melihat kitab hijau yang ada di atas lantai itu?" Ai menunjuk sebuah kitab berwarna hijau yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai masjid.
Mereka bertiga mempercepat langkah untuk mendekati kitab hijau itu dengan mata yang selalu waspada memperhatikan sekeliling.
"Sepertinya ini jatuh dari rak ini." Ai menunjuk deretan kitab berwarna hijau sama persis dengan yang ada di lantai.
"Menakuti-nakuti saja! Aku pikir ada orang lain di sini!"
Asri menghela nafas lega. Dia mengembalikan kitab berwarna hijau itu ke tempatnya semula.
"Ini karena kita terlalu gugup sehingga mudah berpikiran yang aneh-aneh." Ujar Mega sudah bisa bernafas dengan normal.
"Ayo kembali."
__ADS_1
Mereka lalu kembali ke tempat mereka semula bersembunyi. Duduk bersama-sama dengan tembok sebagai sandaran dan pesona langit malam yang cerah sebagai pendukung suasana hati serta suara alunan indah orang-orang yang sedang membaca Al-Qur'an sebagai suara latarbelakang.
"Jadi, kamu menyukai Kak Kevin? Apa karena pertemuan kalian di depan ruang medis malam itu?" Mega sempat bertemu dengannya, dan yang kedua kali saat berada di depan ruang medis.
"Tidak, sebenarnya aku sudah menyukainya sejak kita dihukum memanen sayur-sayuran di sawah. Pagi itu kamu juga dibantu olehnya." Asri mengoreksi.
"Oh, ternyata sejak saat itu! Pantas saja saat itu wajah mu sangat merah. Aku pikir itu karena terik matahari tapi tahunya itu karena pesona seseorang."
Asri mengulum senyum malu-malu di wajahnya.
"Aku pikir dia laki-laki yang sangat baik dan bertanggungjawab, karena itulah Pak Kyai memilihnya menjadi ketua petugas kedisiplinan asrama laki-laki." Ai sekilas pernah bertemu dengannya tapi belum pernah bertukar sapa karena mereka memang tidak saling mengenal.
"Ya, aku juga sependapat dengan Ai."
"Tapi," Asri menarik kedua lututnya, menekuk lututnya dan memeluknya erat.
"Aku mendengar jika Kak Kevin adalah orang kaya sedangkan aku adalah orang miskin. Dari kelas sosial aku tidak bisa mendekatinya atau berharap terlalu banyak kepadanya." Inilah yang selalu mengganjal pikirannya beberapa bulan ini.
"Asri, selama kalian saling menyukai aku pikir kelas sosial tidak akan berpengaruh."
"Tidak, Ai. Itu tidak benar. Kamu bisa mengatakan ini karena kamu adalah orang kaya dan Ustad Vano adalah orang kaya, hal ini juga berlaku untuk Mega. Dia dan Ustad Azam sama-sama orang kaya. Ini berbeda denganku dan Kak Kevin. Aku hanyalah orang desa yang tidak mengenal kehidupan orang kota dan dengan ekonomi keluarga yang terbatas. Sedangkan Kak Kevin? Dia adalah orang kaya. Kabarnya dia akan menjadi pewaris perusahaan Papanya di masa depan."
Asri sebelumnya sudah mencari tahu tentang Kevin dari senior-seniornya. Kevin juga tidak kalah dengan Ustad Vano dan Ustad Azam. Akan ada beberapa santri perempuan yang mengaguminya secara diam-diam dan fenomena ini tidak akan bisa ditutupi atau dibantah.
Sebagian besar santri perempuan di sini tahu siapa Kevin, ketua petugas kedisiplinan asrama laki-laki yang suka membantu orang tanpa memandang mereka siapa.
__ADS_1