
Pagi harinya setelah sarapan Safira membawa anak-anak bermain di halaman depan bersama Sifa dan Bunda, sedangkan Ali dan Ayah di ruang tamu membicarakan masalah bisnis. Mereka tidak lama karena setelah itu mereka keluar ikut bergabung dengan yang lain.
Alhasil acara santai-santai mereka berubah menjadi acara piknik dadakan keluarga. Sifa dan Safira keluar masuk dapur mengambil makanan untuk menemani acara piknik dadakan ini.
"Ai kenapa gak dipindahin aja sekolah biar lingkungannya lebih sehat untuk Ai." Bunda ikut mengatur makanan yang dibawa Sifa dan Safira.
Memindahkan buah-buahan dan kue-kue ringan ke atas piring saji lalu menaruhnya di atas alas tikar.
Mereka saat ini sedang menggelar tikar dibawah pohon yang cukup besar. Hampir-hampir pohon ini menaungi setengah halaman. Bila dilihat dari rumah-rumah yang ada di komplek, Safira pikir rumah ini adalah yang paling hijau dan mempunyai pohon terbesar.
"Enggak usah, Bun. Ai dua bulan lagi lulus dan dia juga tipe anak yang sulit bergaul jadi lebih baik tidak usah pindah. Kepala sekolah Ai juga sudah menelpon bila anak-anak sudah mereka beri pengertian. Meskipun begitu, di tidak memaksa Ai kembali ke sekolah karena dia mengerti kejadian kemarin pasti membekas di dalam hati Ai."
Bunda tidak kecewa. Dia pikir apa yang Safira katakan memang benar adanya bila Ai tidak bisa pindah sekolah.
"Lalu Bunda pikir lebih baik Ai belajar saja dari rumah. Hitung-hitung ini untuk menyembuhkan hatinya." Bisik Bunda seraya menatap anak cantik yang sedang tertawa lepas bermain bersama si kembar.
Setelah dirawat dengan baik oleh Safira dan yang lainnya, tubuh kurus Ai berubah menjadi lebih berisi dan terawat. Dia tidak menyedihkan seperti 1 tahun yang lalu.
"Bunda bisa tenang, Safira dan Mas Ali sudah memutuskan bila Ai untuk sementara belajar di rumah saja sampai hari pendaftaran sekolah dasar dibuka."
"Lalu, kapan kalian jadwal operasi Ai? Ini sudah 1 tahun sejak jadwalnya ditunda." Tanya Bunda sudah tidak sabar ingin cucunya itu segera memulai dunia baru yang lebih berwarna tanpa ada intimidasi.
"Insha Allah, rencananya Ai akan dioperasi 3 minggu sebelum mendaftar di sekolah dasar. Waktunya tidak mepet dan dokter bilang 3 minggu adalah waktu yang cukup untuk Ai memulihkan kondisinya."
Setelah berkonsultasi dengan dokter, mereka memutuskan untuk melakukan pemisahan alat kelamin laki-laki Ai dalam waktu dekat ini. Dokter juga bilang bila kondisi Ai jauh lebih baik dari 1 tahun yang lalu sehingga keputusan mereka melakukan penundaan dulu mempunyai sisi positif untuk Ai.
"Syukurlah bila jadwal operasinya sudah ada. Melihat Ai menderita di sekolah Bunda takut itu akan terulang lagi bila operasi Ai ditunda-tunda terus. Oh ya, kalian tidak berniat melepaskan Ai masuk ke pondok pesantren? Bunda pikir usianya sudah cocok untuk masuk ke pondok pesantren agar bisa di didik dari usia muda." Bunda mengatakan ini karena dia membuktikannya sendiri bila melepaskan anak-anak ke pondok pesantren itu adalah pilihan yang tepat.
Contohnya Ali. Dia berhasil sekolah di sana dan membagi ilmu yang dia dapatkan kepada Sifa yang memilih sekolah umum daripada di pondok.
Sifa itu mudah jatuh sakit jadi Bunda mendukung pilihannya.
__ADS_1
"Kami sudah membicarakannya, Bun. Rencananya Ai masuk ke pondok pesantren setelah dia siap secara mental. Karena untuk saat ini kami masih belum bisa mempercayakan Ai berbaur dengan banyak orang mengingat situasi yang khusus dan spesial." Jawab Safira memberikan pengertian kepada Bunda.
Bunda lagi-lagi mengerti dengan keputusan mereka jadi dia tidak bertanya lagi.
"Kak Safira," Panggil Sifa sembari berjalan mendekati Safira dan Bunda.
"Iya, dek?" Safira menghentikan aktivitasnya.
"Apa Kak Safira melihat dua orang di depan gerbang? Sifa perhatikan sedari tadi mereka terus melihat ke arah kita." Kata Sifa seraya menunjuk ke depan gerbang.
Safira dan Bunda kompak mengalihkan perhatian mereka. Melihat dua orang asing dengan pakaian lusuh dan sederhana mereka.
"Safira pikir mereka ingin bertemu dengan seseorang diantara kita." Katanya menebak.
"Hem.." Safira berpikir singkat sebelum memutuskan untuk mendatangi dua orang asing itu.
"Safira akan menemuinya." Katanya mengajukan diri tapi segera ditahan oleh Bunda.
Untuk mewanti-wanti hal yang tidak diinginkan Bunda memutuskan bila dua orang asing itu lebih baik dihadapi oleh para laki-laki.
"Baik, Bunda." Safira tidak protes.
"Sifa, panggil Ayah dan Ali. Katakan kepada mereka untuk menemui dua orang di sana." Perintah Bunda.
Sifa menganggukkan kepalanya ringan. Dia segera berdiri mendekati kedua laki-laki itu dan menyampaikan pesan Bunda. Dari tempatnya duduk Safira bisa melihat Ali menatap ke arah gerbang rumah. Wajahnya memang tidak menunjukkan apa-apa dan Safira juga tidak tahu apa yang suaminya sedang pikirkan sekarang.
Beberapa detik kemudian Ayah dan Ali berdiri dari duduk mereka, berjalan bahu membahu ke arah gerbang dan berbincang singkat dengan satpam rumah. Setelah itu Safira tidak bisa melihat apa yang terjadi karena tertutupi punggung kedua satpam. Tidak berselang lama, Ayah dan Ali membawa dua orang asing itu masuk ke dalam.
Ayah memandu kedua orang itu masuk ke dalam rumah sedangkan Ali berjalan mendekati Safira dengan ekspresi yang agak rumit.
"Safira, aku ingin berbicara denganmu." Kata Ali tampak tidak baik.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Safira dan Ali berjalan menjauh dari yang lain, mereka berdiri di dekat lampu taman yang tampak agak menonjol.
"Ada apa, Mas? Apa ini hubungannya dengan kedatangan orang itu?"
Ali mengangguk dengan berat.
"Ini ada hubungannya dengan Ai. Mereka mengaku sebagai Paman dan Bibi Ai dari kota D, tempat kelahiran Ai sebelum tinggal di panti asuhan." Suara Ali singkat namun sarat akan perasaan berat.
"Paman dan Bibi Ai? Apa Mas Ali yakin?" Safira langsung merasakan krisis ketika membayangkan kedatangan kedua orang itu ingin mengambil Ai darinya.
"Tidak, mungkin saja mereka adalah orang-orang yang tidak berniat baik kepada Ai! Mungkin saja mereka bukan keluarga Ai, Mas!"
"Safira, tenangkan dirimu. Kita tidak akan pernah tahu sebelum berbicara dengan mereka. Lagipula mereka punya bukti sebuah album foto Ai dan kedua orangtuanya sebelum terjadi kecelakaan. Mereka sangat mirip dengan Ai."
Bukannya tenang, Safira malah menjadi lebih panik setelah mendengarnya. Dia lebih khawatir lagi bila mereka memang mempunyai hubungan keluarga karena dia tidak sanggup kehilangan Ai.
"Safira tidak mau kehilangan Ai, Mas." Kata Safira pada akhirnya mengakui ketakutannya.
Dia sudah menganggap Ai sebagai putrinya.
Ali menghela nafas panjang,"Aku juga tidak ingin kehilangan Ai. Namun bisa saja ketakutan kita tidak seperti yang ada di dalam hati mereka berdua. Nah, apapun itu kita akan tahu setelah berbicara dengan mereka."
Safira mengangguk enggan,"Bawa aku masuk, Mas. Aku ingin berbicara dengan orang yang mengaku keluarga tapi nyatanya pernah membuang Ai ke tempat yang tidak layak. Seperti apa mereka..aku ingin melihatnya secara langsung!"
Bersambung..
Besok saya akan update Inshaa Allah 4 atau 5 chapter sebagai permintaan maaf karena telat update.
Oh ya, novel ini akan resmi tamat Inshaa Allah pada akhir bulan Juli. Setelah itu tanggal 1 Agustus novel Kayana resmi saya Publis 💚
__ADS_1