
Laki-laki tampan nan tinggi itu lalu keluar dari mobil Van hitam yang telah berhasil menarik perhatian tamu undangan. Dia berdiri lurus, menatap hangat rumah di depannya yang kini telah dipenuhi berbagai macam hiasan bunga beranekaragam warna. Setiap tiang-tiang tinggi rumah ini di lilit oleh kain putih panjang, menampilkan sisi anggun tanpa harus menghidupkan suasana glamor.
Dari tiang-tiang itu pula bergelantungan rumbai-rumbai putih tipis yang memiliki bunga mawar merah di setiap ujungnya. Tampak sangat indah, ada rasa manis nan romantis yang akan orang-orang rasakan setiap kali melihatnya.
"Ayo, Nak, calon mertuamu telah menunggu di depan pintu masuk." Suara Mama membangunkan Ustad Azam dari lamunan manisnya.
Ustad Azam tersenyum lebar, terlihat sangat berseri dan lebih menyegarkan dari sebelumnya. Tidak ada lagi kesan dingin maupun kaku yang biasanya orang-orang lihat.
Hari ini ia benar-benar menampilkan suasana hatinya yang dipenuhi oleh perasaan bahagia tidak terkira. Hanya Allah yang tahu betapa bahagia dirinya saat ini dan hanya Allah yang tahu betapa ia sudah sangat menunggu kedatangan hari ini.
Hari dimana ia akhirnya bisa menghalalkan sang kekasih, hari dimana ia akhirnya bisa menyentuh tangan sang kekasih, memeluknya hangat untuk berbagi suka maupun duka.
Hanya Allah yang tahu betapa ia sangat merindukan hari ini.
"Mama, Papa," Panggil Ustad Azam lembut kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ia tahu calon mertuanya sudah menunggu di depan namun, ada sesuatu yang harus ia lakukan sebelum melangkah mendirikan sebuah bahtera untuk kehidupan selanjutnya.
"Iya, Nak?" Suara Mama membalas lembut.
Kedua mata Mama hari ini memerah. Ada riak-riak tipis yang mulai mengepul di dalamnya. Namun, karena Mama ingin terlihat kuat di depan putranya, Mama berusaha untuk tidak menangis. Menjadi orang kuat yang akan mengantarkan putranya memulai sebuah kehidupan baru.
Ustad Azam memegang lembut tangan Mama dan Papa, memegangnya kuat sebelum menciumnya penuh kebaktian. Ada rasa haru yang menggelegar di dalam hatinya setiap kali melihat senyuman tulus kedua orang tuanya.
"Azam sayang Mama dan Papa, di hati Azam, kalian akan selalu menjadi yang pertama. Entah itu saat sebelum menikah ataupun sesudah menikah, Azam akan selalu mengedepankan kalian. Mama dan Papa juga tidak perlu sungkan memanggil Azam jika membutuhkan sesuatu, karena meskipun Azam menikah, Azam akan selalu menjadi putra kalian. Surga Azam tergantung ridho kalian, bila kalian ridho maka Allah pun akan ridho kepada Azam. Jadi hari ini, sebelum Azam benar-benar melangkah untuk menyempurnakan setengah agama Azam, sebelum Azam benar-benar melangkah untuk mulai membangun sebuah bahtera kehidupan selanjutnya, izinkan Azam meminta ridho kalian. Ma, Pa, apakah kalian meridhoi Azam untuk memulai kehidupan baru bersama Mega, bersama-sama menyempurnakan setengah agama kami dan menjalankan segala kewajiban maupun Sunnah yang Allah tetapkan?"
"Mama ridho, Nak. Demi Allah, Mama meridhoi mu, Nak." Jawab Mama dengan ketulusan yang tidak terkira.
Memangnya, Ibu mana yang tidak akan ridho melihat putranya melangkah menuju jalan yang lebih baik?
Tidak, tidak ada. Begitupula Mama, ia ridho bila putranya menikah karena meskipun mereka nantinya akan hidup terpisah, bakti putranya tidak akan pernah membuat ikatan mereka mengendur.
__ADS_1
Dan dia sungguh ridho akan semua itu.
"Dengar, Nak." Papa menepuk pundak Azam kuat sebagai sesama seorang laki-laki.
"Mama dan Papa telah meridhoi kalian berdua. Kami ridho kalian menempuh kehidupan baru dan kami juga sangat ridho kalian menyempurnakan setengah agama kita, mengikuti jejak Rasulullah Saw dan melaksanakan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Nak, Inshaa Allah, ridho kami juga menjadi ridho Allah. Jadi, melangkah lah, Nak. Dirikan sebuah bahtera rumah tangga yang sarat akan rasa cinta kepada Allah dan kekasih-Nya, Muhammad Saw. Jangan pernah, Papa mohon jangan pernah sekali-kali pun kamu melangkah tanpa mengikuti ketentuan-Nya dan jejak dari Rasulullah Saw, karena bila itu terjadi, bahkan Papa dan Mama tidak bisa menolong mu dari hukuman Allah. Apa kamu mengerti, Nak?" Papa memberikan nasihat dengan suara berwibawa yang ia buat setegar mungkin.
Padahal kedua matanya sudah memerah enggan menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan putranya.
Jujur, mereka sebagai orang tua tidak bisa menampik bahwa mereka juga merasakan rasa kehilangan. Akan tetapi, sekalipun mereka merasa kehilangan bukan berarti hati mereka tidak rela melihat Azam melangkah untuk memulai kehidupan baru.
Tidak, tidak sama sekali.
Hanya Allah yang tahu betapa tulus perasaan mereka kepada Azam dan hanya Allah yang tahu betapa bahagia mereka melihat Azam akhirnya bisa memulai kehidupan baru.
Meskipun mereka tidak akan tinggal bersama lagi nanti dan mungkin tidak akan sering bertemu seperti dulu lagi, namun hanya Allah yang tahu betapa ridho mereka terhadap setiap langkah yang Azam ambil.
__ADS_1