Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Ibu ke Bandung ?


__ADS_3

Kamipun sampai dirumah Nathan.


Gerbang rumah pun dibuka oleh Pak Satpam.


Nathan langsung menaruh mobilnya digarasi.


Akhirnya sampai juga dan aku langsung keluar dari mobil. Nathan lalu menghampiri ku.


"Nad, ngopi dulu yuk?."ajaknya


"Ehmm, kayaknya nggak deh, aku ngantuk, mau tidur duluan yaa, makasih Bossku."ucapku tersenyum


"Oh gitu, ok kapan-kapan harus mau, yaudah good night yaa Nad semoga mimpi indah."ucapnya


Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


Lalu pintu rumah di buka oleh Bi Asih , aku pun masuk dan tersenyum pada Bi Asih , sama sekali aku tidak mengobrol dengannya karena sudah lelah sekali.


Tiba di Paviliun dan aku langsung masuk kamar serta mengunci pintu.


Ku letakkan tasku di kasur. Lalu aku berbaring dan berpikir sejenak.


"Koq bisa yaa aku nggak ada perasaan apa-apa ke Nathan? , padahal dulu aku tergila-gila banget sama dia. Ah apa aku emang cuma cinta sama Satrio?."pikir ku frustasi


Tiba-tiba handphone ku bergetar.


Ternyata Ibu menelpon.


Aku : Hallo Assalamualaikum Bu, ada apa?


Ibu : Waalaikumsalam Nad, Nadia gimana Satrio sudah ketemu belum?


Aku : Satrio belum ketemu Bu, kita masih cari.


Ibu : Alah, alasan dia aja kali sengaja mau menghindari kamu , supaya gak nikahin kamu, udahlah jangan nunggu dia terus, mau sampai kapan nunggu?


Aku : Bu, please deh, jangan bahas nikah Mulu, lagian Satrio hilang pasti ada sebabnya dan Nadia yakin Satrio bukan tipe laki-laki pengecut Bu, yaa tunggu lah beberapa bulan lagi, sampai dia kembali. Aku mau tahu dulu alasannya.


Ibu : Dasar anak bodoh, pokoknya Ibu nggak mau tahu, Ibu kasih kamu waktu sebulan ini, jika Satrio nggak kembali, kamu harus mau Ibu nikahkan dengan Pak Camat. Kalau menolak lagi, jangan harap kamu diakui jadi anak Ibu. Mengerti !


Aku : Ibu kapan sih ngertiin perasaan Nadia, Nadia nggak mau dijodohin sama Ibu, apalagi sama Bapak-bapak, emang sih dia mapan tapi kenapa harus yang sudah punya istri sih Bu? kan Nadia ingin nikah sama laki-laki pilihan Nadia.

__ADS_1


Ibu : Hey kamu sadar diri Nad, sebentar lagi usiamu 29 tahun. Ibu malu banget kalau sampai kamu jadi bahan omongan orang-orang disini. Jadi nggak usah pilih-pilih cowok lagi ! , masih untung Pak Camat mau sama kamu, padahal seluruh gadis desa banyak yang mau sama dia.


Aku : Lho emang Pak Camat kenapa maunya sama Nadia sih Bu? Kan banyak perempuan yang lain !


Ibu : Ya karena waktu kamu pulang Pak Camat lihat kamu berubah jadi lebih cantik dan terawat, makanya dia mau, yasudah anggap aja itu rezeki kamu. Oh atau Ibu punya ide yang lebih bagus, kalau gitu kamu nikah aja sama Boss kamu, toh dia nggak punya pacar kan, pacar nya dipenjara dan Ibu pernah lihat kalau dia itu suka perhatiin kamu Nad. Nah sekarang kamu pilih yang mana ?


Aku : Ibu apaan sih, udahlah namanya perasaan nggak bisa dipaksa Bu. Udah aku mau istirahat dulu Bu, besok harus kerja.


Ibu : Terserah kamu, oh yaa besok Ibu pagi-pagi sudah di Bandung, Ibu mau nginep di tempat kamu.Kamu siap-siap yaa. Ibu udah punya alamat kamu dari Ujang supirnya Satrio, jadi kamu nggak perlu kirim alamat.


Aku : Tapi bu... (tiba-tiba panggilan terputus)


Lalu aku hubungi Ibu, tapi nggak diangkat. Duh bagaimanapun ini, bisa kacau kalau besok Ibu kesini.


"Sudahlah terserah Ibu aja , aku males pusing, semoga aja nggak bikin ulah lagi, mending aku mandi biar lebih segar."batinku


Lalu aku mandi, ganti baju dan tidur.


Pagi hari...


Tok ... Tok...


Ada yang mengetuk kamar ku.


Lalu ku buka pintu...


"I...Ibu , koq sudah disini? Ibu sama siapa dan naik kendaraan apa?."tanyaku heran


"Hehe surprise, Ibu gitu loh, Ibu semalam kan di perjalanan, terus Tadi jam 3 sudah sampai sini, Ibu tidur dikamar tamu. Ibu sendirian Nad, repot kalau bawa Bapak dan Adik-adikmu. Lagian Ibu cuma sehari aja kesini, sekalian lihat rumah Nathan dan Kafenya. Ngomong-ngomong Ibu mau berenang jadi nya, temenin yuk, duh disini enak banget Nad, ah cepetan kamu nikah sama Nathan, biar Ibu bisa pindah kesini."ucap Ibu


"Berenang? masih pagi Bu, mending sarapan dulu yuk dan Ibu ini yaa bikin aku bingung tahu nggak, datang tiba-tiba terus ngomong nya ngelantur. Pokoknya Ibu jangan malu-maluin aku, jangan ngomongin soal nikah di depan Nathan, aku malu."ucapku kesal


"Haha.. Ibu nggak janji yaa, yaudah kamu mandi, Ibu mau lihat Asih buat Sarapan dulu, nanti kita kumpul di ruang makan yaa sayang."ucap Ibu tertawa


Aku hanya diam dan kesal, lalu masuk kamar lagi dan pergi mandi. Bisa-bisa nya Ibu berlagak seperti tuan rumah disini, duh malu nya.


Lalu aku sudah rapi dan hendak ke ruang makan Nathan, ku lihat Ibu dan Nathan sedang duduk dan ngobrol serius.


Lalu aku menghampiri mereka.


"Selamat Pagi Nad, ayo silakan duduk, kita makan bertiga, aku senang ketemu Ibumu lagi."ucapnya

__ADS_1


Aku hanya mengangguk dan tersenyum, lalu duduk menahan kesal.


"Bi Asih, sarapan nya tolong bawa ke meja yaa."ucap Nathan pada Bi Asih


"Iyaa Den, laksanakan."ucapnya


Aku hanya terdiam, tiba-tiba Ibu berbicara.


"Ehem, kalau lagi seperti ini, kita kayak keluarga yaa Nak Nathan?."ucap Ibu


"Lho memang kita keluarga Tan, lagian saya sudah menganggap Tante dan Nadia adalah keluarga saya."ucapnya


"Ah Nak Nathan jangan panggil Tante dong, panggil aja Ibu, sama kayak Nadia, kan siapa tahu Tante bisa jadi Ibu mertua kamu."ucap Ibu tertawa


Aku hanya melirik Ibu dengan kesal.


"Haha Ibu bisa aja, iyaa Bu mudah-mudahan itu terjadi, itupun kalau Nadia mau jadi istri saya."ucapnya


"Serius Nak Nathan mau nikah sama Nadia ? ah Ibu senang dengarnya, tapi sejak kapan Nak Nathan suka sama Nadia? bukannya waktu itu cuma anggap karyawan aja yaa?."tanya Ibu penasaran


"Sudah sejak lama Bu, sejak kenal kepribadian Nadia , saya langsung jatuh hati, saya bangga dengan sikap Nadia yang rajin dan mandiri, apalagi Nadia itu juga cantik."ucapnya tersenyum


Lalu susu dan roti dihidangkan Bi Asih.


"Makasih Bi."ucapku


"Sama-sama Neng."ucap Bi Asih


"Eh lanjutin yang tadi, kapan Nak Nathan mau melamar Nadia? kalau nggak cepat-cepat nanti Nadia mau Ibu nikahkan dengan pejabat di desa lho."ucap Ibu


Aku pun melotot dan marah.


"I... ibu jangan ngomongin itu lagi, aku kan sudah bilang ke Ibu."ucapku


"Lho gak apa-apa Nad, kalau Ibu mu nggak ngomong aku nggak tahu, sebaiknya Ibu tanya Nadia , apa Nadia mau saya lamar atau memang mau memilih orang lain?."tanya Nathan


"Aku minta maaf atas ucapan Ibu ku, tolong jangan dimasukkan kedalam hati."ucapku pada Nathan


"Ya Ampun Nad, santai aja nggak apa-apa koq, gimana aku kasih waktu seminggu untuk kamu berpikir , yaa sambil kita jalani dulu, kalau cocok aku langsung lamar kamu."ucap Nathan


"Setuju banget Nak Nathan."kata Ibu langsung memotong pembicaraan dengan semangat

__ADS_1


Aku hanya bisa menghela nafas.


__ADS_2