Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 9.7)


__ADS_3

Asri lalu berjalan sendirian ke depan pintu masuk. Di depan pintu masuk tidak ada siapapun jadi dia tidak perlu menundukkan kepalanya di sini.


Dia diam berdiri menunggu kedatangan Mega. Lama menunggu Mega juga menjadi bosan. Dia lalu mengangkat kepalanya mengintip ke dalam melalui gorden jendela yang tersingkap.


"Astagfirullah!" Asri segera menjauh dari jendela.


Dia mengusap kedua matanya sebelum kembali mendekati jendela. Mengintip ke dalam dengan perasaan was-was.


"Apa yang sedang Ustad Vano lakukan di dalam?" Bisiknya gelisah.


Di dalam dia melihat Ustad Vano baru saja menunduk mendekati wajah Ai yang masih tidak sadarkan diri. Dia pikir Ustad Vano ingin melakukan...Hem, mungkin saja ingin mencium Ai. Tapi dia salah karena bukannya mencium Ai tapi Ustad Vano malah membisikkan sesuatu di telinga.


Tapi hanya sesaat karena setelah itu dia menjauh.


"Apa..apa aku harus masuk?" Asri takut ada seseorang yang melihat Ustad Vano dan Ai di dalam ruangan berdua.


Meskipun Ai pingsan tapi tetap saja berduaan di dalam 1 ruangan dengan lawan jenis itu tidak diizinkan.


"Tapi aku takut Ustad Vano marah kepadaku!" Dalam dua hari ini dia sudah merasakan tekanan marah Ustad Vano berkali-kali.


Itu dingin dan menakutkan, Asri tidak mau terlibat lagi dengan Ustad Vano apalagi sampai mendapatkan hukuman.


"Tapi..jika aku tidak masuk di akhirat kelak Allah akan menuntut ku karena tidak menjadi penengah di antara mereka!" Dia menggigit bibirnya gugup, jelas merasa bimbang.


Mengintip ke dalam lagi,"Daripada dihukum Allah lebih baik aku dihukum oleh Ustad Vano. Toh, aku masuk bukan bermaksud buruk tapi untuk membatalkan fitnah yang bisa saja terjadi meskipun Ustad Vano tidak menghendakinya."

__ADS_1


Dia meneguhkan hatinya sebelum membuka pintu hati-hati. Melihat ke dalam dengan takut-takut, dia pikir Ustad Vano menyadari kedatangannya tapi ternyata tidak. Ustad Vano kini memejamkan matanya tenggelam dalam ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dia lantunkan. Suaranya sangat lembut dan penuh akan penghayatan.


Asri lagi-lagi ragu mengucapkan salam.


"Salam adalah doa, aku mengucapkan salam karena aku mendoakan siapapun yang mendengarnya." Bisik Asri mengangkat semangatnya.


"***-"


Asri segera menutup pintu masuk ketika melihat seorang laki-laki paruh baya masuk dari ruangan samping dengan map merah ditangannya.


"Ya Allah, ternyata ada orang juga di dalam. Alhamdulillah, syukurlah mereka dilindungi oleh Allah."


Dia mengurut dadanya lega, mundur beberapa langkah sebelum berbalik ingin menyusul Mega ke kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya agar lebih segar lagi. Akan tetapi ketika dia berbalik, tepat di depannya, dengan jarak 3 atau 4 meter jauhnya berdiri seorang laki-laki tinggi yang kini sedang memandangnya.


"Assalamualaikum?" Laki-laki itu memberikan salam dengan sopan.


Tersadar dari lamunannya,"Wa.. waalaikumussalam." Asri menjawab salam dengan terbata-bata.


Malu tertangkap basah menatap langsung laki-laki tampan itu, dia langsung memalingkan wajahnya menatap tanah.


Kedua tangannya bergetar. Telapak tangan yang tadinya dingin karena gelisah kini kembali dingin karena rasa gugup yang menggelikan. Keringat-keringat tipis mulai muncul di telapak tangannya, membuatnya basah dan lengket pada saat yang bersamaan.


Dia sangat gugup bertemu lagi dengan laki-laki ini.


"Apa gadis yang sedang dirawat di dalam sana adalah temanmu?" Suaranya berat dan sangat menyenangkan ketika sampai di telinga Asri.

__ADS_1


Wajahnya tanpa sadar memerah, ada semburat malu yang langka di wajahnya.


"Em, benar...Ustad. Dia adalah temanku." Dia ragu memanggil laki-laki ini apa.


Dia tahu laki-laki ini dari kalangan santri, hanya saja dia sangat canggung memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Ustad karena ilmu ku masih belum setinggi itu untuk bisa dipanggil Ustad." Laki-laki itu mengoreksi panggilan Asri.


Asri semakin menundukkan kepalanya, dia tidak berani bertanya meskipun nyatanya dia sangat ingin tahu nama laki-laki ini.


"Namaku adalah Kevin. Sekarang aku sudah memasuki tahun terakhir aku di pondok pesantren ini, dalam artian aku adalah senior mu di sini." Suara berat Kevin mengalun lembut di dalam angin malam yang dingin dan menyejukkan.


Kevin. Batin Asri merasa sangat manis.


"Maka aku...akan memanggilnya Kak Kelvin?" Bisiknya pada dirinya sendiri.


Tapi memang dasar suaranya Asri yang cempreng. Berbisik kepada diri sendiri pun juga sia-sia karena di dengar juga oleh Kevin.


"Jika itu nyaman kamu bisa memanggilku..Kak Kevin."


"Oh.." Asri sangat terkejut.


Bersambung..


Maaf tidak sesuai janji, saya sedang sibuk merevisi Young Mommy & Billioner dari lagi makanya nulis sedikit dan tidak memenuhi janji.

__ADS_1


__ADS_2