Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Nadia Menyerah


__ADS_3

Setelah belanja, Ibu pun kami antarkan pulang ke rumah Nathan.


Setelah itu kami ke Kafe bersama. Sebenarnya Ibu memaksa untuk ke Kafe, tapi karena Bapak menelpon Ibu agar Ibu cepat pulang ke Bogor, akhirnya Ibu mau pulang. Selain itu Ibu meminta Nathan menepati janjinya untuk datang melamar ku. Dan Nathan menyetujui dan aku hanya bisa menunggu keajaiban, betapa lemah tak berdaya diriku ini. Hanya bisa menunggu ketidakpastian dari nya.


5 hari kemudian...


Hari berjalan demi hari, ini sudah hari ke 6 sejak taruhan dengan Nathan dan Satrio belum ada kabar juga. Padahal setiap pagi dan malam aku selalu mampir kerumahnya untuk mengecek apakah dia ada. Tapi nyatanya dia nggak ada. Bahkan aku sudah sering mengirim pesan ke nomer hp nya, tapi usaha ku sia-sia, nomer itu sampai sekarang tidak aktif.


Pagi ini aku libur kerja, lalu aku datang kerumah Satrio.


"Pagi Mang."ucapku pada Mang Ujang yang duduk dipos


"Eh Neng Nadia, kesini lagi, mau masuk Neng? masuk aja, toh sama Pak Heru juga boleh koq, pokoknya anggap aja rumah sendiri."ucapnya


"Makasih Mang, oh yaa tadi saya bikin bubur ayam buat Mamang, mudah-mudahan Mamang suka."ucapku lalu memberikan ke Mang Ujang


"Aduh baik banget sih Neng, makasih yaa ,kalau gitu masuk aja Neng."ucapnya


"Sama-sama Mang, aku izin ke taman bunga yaa."ucapku


"Silakan Neng, pokoknya mah untuk Neng Nadia mah bebas."ucapnya


Lalu aku tersenyum dan masuk kedalam gerbang menuju taman.


Aku mengelilingi taman rumah Satrio sambil memetik 1 tangkai mawar putih yang makin banyak disini, meskipun Satrio tak ada tapi Mang Ujang rajin merawatnya. Hanya ini saja yang mungkin dia tinggalkan untuk ku, tapi aku merasa bahagia sekaligus sedih sekali.

__ADS_1


Sambil berjalan kaki dan memegang bunga, aku terus mengenang masa-masa itu, tak sadar air mata menetes di pipi ini. Hatiku rasa nya sakit banget. Tiba-tiba turun hujan, aneh tadi cuaca biasa aja , nggak ada pertanda datangnya hujan. Ah nggak jauh beda sama perasaan, bisa berubah kapan aja.


Tapi aku bukan nya berteduh malah asyik menikmati hujan sambil menangis.


Lalu aku duduk di ayunan itu, ayunan yang menjadi kenangan indah.


Dibawah guyuran hujan, aku pun menyampaikan pesan secara lisan kepada Satrio.


"Sat, aku kangen sama kamu, mungkin kalau hari ini kamu nggak kembali, aku sudah nggak bisa lagi mengunjungi tempat ini, karena pasti besok keluarga Nathan akan datang melamar ku. Sat, apa ini rencana kamu ? agar aku menikah dengan Nathan. Dulu ini emang impian ku, tapi tidak sekarang. Aku nggak mau sama siapapun selain kamu. Tapi karena aku bukan orang yang ingkar janji, baiklah aku akan menikah dengan Nathan, jika itu emang kemauan kamu dan jika itu yang membuat mu puas aku akan lakukan !"ucapku menangis dan kesal


Tiba-tiba ada seseorang yang memayungi ku dari belakang.


"Satrio, itu kamu?."tanyaku sambil menghadap kebelakang


"Bukan Nad, ini aku Nathan, aku datang kesini mau jemput kamu, sekarang hujan, nanti kamu sakit Nad."ucapnya lembut


Lalu Nathan membuang payung berwarna biru itu ke tanah dan dia duduk disampingku, diayunan yang satunya.


"Eh koq payung nya dibuang? nanti kamu sakit ?."ucapku panik


"Nggak apa-apa Nad, aku juga mau mandi hujan seperti mu, aku kan janji akan nemenin kamu kapanpun, jadi biar aku juga disini sama-sama kamu."ucapnya


Aku mulai terharu dengan perjuangan Nathan, Nathan adalah laki-laki baik dan tulus, tidak sepantasnya aku jahat dengan dia. Lagi pula Satrio juga yang mau aku dekat dengan Nathan, jadi lebih baik mulai hari ini aku menerima nya saja. Aku benar-benar nggak tega buat dia bersedih, karena dia segitu baiknya untuk ku.


"Tuh kan malah bengong? kenapa lagi sih Nad?."ucapnya

__ADS_1


"Nggak, maaf yaa. Aku cuma mikir aja, kayaknya taruhan kita kemarin yang menang pasti kamu, aku ngerasa nggak ada tanda-tanda Satrio kembali."ucapku sambil menatap hujan


"Oh kamu nyerah nih, bagus deh, yaa lebih baik kamu persiapkan diri kamu untuk pulang ke Bogor, besok aku akan ajak Mama dan Papa ku ke sana untuk melamar mu. Percaya sama aku, aku pasti bisa bahagiain kamu , bukankah Satrio juga setuju dengan itu semua?."ucapnya


"Iyaa kamu benar, aku kalah. Baik lah besok aku tunggu kamu dirumah ku, aku siap membuka hatiku untukmu, yaa mungkin ini yang terbaik, tapi apakah kamu nggak keberatan kalau aku masih belum mencintai mu?."tanyaku


"Ya Tuhan, aku mimpi apa, makasih kesempatan nya Nad. Aku nggak keberatan, aku yakin kamu lama-lama akan mencintai ku, karena bukankah cinta itu datang karena terbiasa. Aku percaya Nad, jadi kamu nggak usah khawatir."ucapnya sambil menatapku


"Yaudah kita pulang yuk, sekalian persiapkan untuk besok. Oh ya emang nya orang tua kamu tahu dan setuju?."tanyaku


"Untuk masalah itu nggak usah khawatir, Mamaku setuju, asal aku bahagia dan untuk Papaku juga aman, asal Mama meyakinkan, Papa juga nggak keberatan. Yaa semoga besok lancar deh."ucapnya


"Yaudah ayo, kita harus buru-buru pulang dan ganti baju."ucapku


"Baiklah, ayo Nad."ucapnya


Lalu aku meletakkan mawar putih itu diayunan tempat ku duduk. Sebagai pertanda bahwa aku menyerah untuk menunggu Satrio. Bahkan semua orang sudah benar-benar tidak tahu keberadaannya, aku bisa apa? nggak mungkin selamanya aku gini aja, nungguin ketidakpastian, aku cuma takut melukai keluarga ku. Walaupun dengan menerima Nathan sebetulnya malah menyakiti hatiku. Tak apalah, keluarga lebih utama. Kasihan jika makin banyak gosip dilingkungan rumah di Bogor.


Lalu aku dan Nathan pulang dari istana Satrio, aku pun berpamitan pada Mang Ujang, sekaligus mengatakan jika hari ini adalah hari terakhir aku kesini. Mang Ujang pun ikut bersedih, namun tetap memberi pesan agar kapanpun aku mau , aku boleh kesini.


Lalu aku meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedih dan terluka. Aku naik mobil Nathan dan akhirnya sampai rumah nya.


Lalu aku buru-buru mandi dan berganti pakaian, aku pun langsung mengabari Ibu, bahwa besok keluarga Nathan akan datang, Ibu pun sangat senang. Hari ini aku bersiap pulang ke Bogor dengan diantar supir Nathan. Dan Nathan bersiap ke Jakarta untuk menjemput orang tuanya.


Dan besok akan terjadi, hari dimana aku mewujudkan harapan Satrio untuk bersama Nathan.

__ADS_1


"Kau pasti puas kan Mas?."batinku


__ADS_2