
"Kenapa gak mau? Kan kita gak kemana-mana dan tetap berada di pondok pesantren." Kata Mega masuk akal.
Nah inilah yang masih belum mereka mengerti. Kehidupan tertutup itu maksudnya apa dan bagaimana cara mereka melaksanakannya pun masih belum ada pemberitahuan.
Padahal Ustad bilang 2 minggu lagi mereka sudah masuk kehidupan tertutup.
"Assalamualaikum?" Ai menyela pembicaraan karena mereka sudah sampai di ruangan yang Ustazah Nur sebutkan sebelumnya.
"Waalaikumussalam, apa kalian santri yang Ustazah Nur kirim?" Di dalam ada dua orang wanita dewasa dengan penampilan sederhana dan sopan.
Mereka sepertinya bukan dari kalangan Ustazah.
"Benar, Ustazah. Kami diminta ke sini oleh Ustazah Nur." Jawab Ai lembut.
Wanita yang lebih tersenyum,"Jangan panggil kami Ustazah. Panggilan ini hanya berlaku untuk orang-orang yang sudah tinggi ilmunya. Kami hanyalah staf biasa dan baru lulus dari pondok pesantren ini. Jika kalian mau cukup panggil kami Kakak saja." Katanya menjelaskan.
Dia lalu membawa mereka bertiga masuk ke dalam. Di dalam ada banyak sekali telepon umum yang sengaja disediakan oleh pondok pesantren. Di sini santri perempuan ada ribuan, sangat banyak.
Jadi, untuk mengimbangi mereka pondok pesantren menyediakan banyak telepon umum.
"Ustazah Nur bilang 5 menit untuk masing-masing orang," Wanita itu lalu melihat timer yang berada tepat di samping telepon umum.
"Jika orang yang kalian hubungi mengangkat telepon maka kalian bisa menekan timer yang di samping. Bila sudah masuk 6 menit maka mau tidak mau kalian harus menutup telepon." Kata wanita itu memberi arahan.
Dia lalu mempersilakan mereka bertiga dan pergi setelah tidak mendapatkan pertanyaan.
__ADS_1
Ai langsung melupakan suasana tertekan hatinya. Dia segera mengambil telepon, menekan nomor telepon rumah dengan gerakan tidak sabar sampai akhirnya bunyi tersambung bergema di dalam pendengarannya.
Dia menggigit bibirnya gugup sampai akhirnya suara yang amat sangat dia rindukan memasuki indera pendengarannya.
"Hallo, assalamualaikum?" Ini adalah suara lembut Bunda.
Mendengar suara Bunda segera menenangkan saraf-saraf tegang Ai. Dia menggenggam gagang telepon kuat untuk melampiaskan betapa rindu hatinya saat ini.
1 menit telah terbuang sia-sia karena kebisuannya.
"Waalaikumussalam..ini Ai, Bunda." Jawab Ai panik ketika melihat waktu sebentar lagi akan memasuki 2 menit.
"Ai..ini Ai anak Bunda?" Nada suara Bunda dilanda terkejut juga senang.
Dia tidak menyangka Ai bisa menghubunginya padahal santri hanya diizinkan menelepon keluarga setiap hari minggu saja. Untuk hari itu Bunda harus bersabar menahan rindu kepada Ai.
Waktu sudah berjalan jauh dan sebentar lagi akan habis. Ai takut kehabisan waktu maka dari itu dia segera menumpahkan semua perasaannya kepada Bunda.
"Ai kangen Bunda dan Ayah, Ai kangen adik-adik, dan Ai kangen semua orang di kota. Ai rindu sekali dengan kalian.." Dia menangis.
"Nak.." Bunda di seberang sana merasakan ada sesuatu yang salah dengan Ai.
"Ai.." Dia ingin mengatakan bahwa dia sungguh lelah tapi kata-kata sangat sulit keluar dari bibirnya.
Dia takut membuat Bunda sedih apalagi saat ini Bunda sedang mengandung adiknya.
__ADS_1
"Ai sangat merindukan kalian semua." Pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan ini.
Jika mereka di rumah mungkin..dia mungkin bisa meluapkan semua perasaannya tapi sayangnya mereka berjauhan dan di samping itu juga dia tidak ingin membuat Bunda merasa sedih di seberang sana hanya karena memikirkannya yang lemah.
"Apa Ai baik-baik saja?" Tanya Bunda di seberang sana, nadanya tidak lagi panik dan jauh lebih lembut.
Ai menggelengkan kepalanya sembari mengusap air matanya dengan tangan kanan, "Ai baik-baik saja Bunda." Bohong, faktanya dia tidak baik-baik saja. Dia sungguh tidak baik-baik saja ya Allah tapi dia juga tidak menangis untuk menumpahkannya.
Ini bukan rumahnya, ini bukan kamar yang biasanya dia kunci agar bisa menangis sejadi-jadinya.
Bunda menghela nafas,"Syukurlah Ai baik-baik saja, Bunda lega di sini." Bunda jelas tahu dia berbohong tapi memutuskan untuk tidak mengungkapkannya.
"Namun, bila Ai memang tidak nyaman tinggal di pondok pesantren maka Bunda dan Ayah akan membawa Ai pulang kembali. Di rumah Ai bisa belajar sama Ayah dan ada juga Paman Tio dari lulusan pondok pesantren. Mereka adalah orang-orang yang berilmu sayang, inshaa Allah Ai tidak ada bedanya dengan orang-orang yang belajar di pondok pesantren." Kata Bunda di seberang sana.
Ai dari kecil lambat dalam bergaul sehingga dia khawatir terjadi sesuatu kepada putrinya ini.
Ai menggelengkan kepalanya,"Ai betah di sini Bunda. Ai punya teman-teman yang baik dan penyayang, mereka juga tidak sungkan berteman dengan Ai." Dia lalu melihat waktu yang kini telah menghitung jari.
"Waktu Ai sebentar lagi habis. Besok inshaa Allah di hari minggu Ai akan menelpon Bunda lagi. Ai sayang Bunda, assalamualaikum."
Dan tud,
Dia langsung menutup telepon tepat ketika waktu masuk di angka 6. Ai menghela nafas panjang, hatinya jauh lebih tenang sekarang.
Bersambung..
__ADS_1
1 chapter menyusul 🍁