
"Saya merasa pria yang paling beruntung di dunia dek."
"mas Rio berlebihan."
"he he, beruntung sekali di terima lamarannya sama wanita sempurna seperti kamu dek. Semoga dalam waktu dekat ini kita bisa melangsungkan pernikahan ya dek. Saya tau dek Norin belum memiliki perasaan sama saya. Tapi, saya yakin seiring berjalannya waktu rasa sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya. Saya akan selalu berusaha agar membuat dek Norin merasa bahagia dan tidak menyesal menikah dengan saya."
Norin tersenyum," amin, udah sore apa ngga sebaiknya kita pulang mas?"
"ya udah yuk, kita pulang." Kemudian mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil yang ada di basemen.
Tiba di basemen Rio hendak membukakan pintu mobil nya untuk Norin. Namun, seseorang di belakang punggungnya menepuk bahunya lalu Rio berbalik.
Bughhh
Pukulan keras mendarat di wajahnya. Rio terjungkal dan jatuh. Norin menjerit melihat aksi pria bermata sipit memukuli orang yang tidak miliki kesalahan apapun.
"Mas Rio....!" teriak Norin.
Shin mencekal kuat lengan Norin.
"Jangan coba coba kau merebut milikku kalau tidak mau aku patahkan tulang mu," ancam Shin sambil menatap tajam ke arah Rio yang masih terduduk di lantai sambil memegang pelipisnya yang berdarah.
"lepaskan...lepaskan.!" Norin berontak.
Tanpa bicara lagi Shin menggendong Norin secara paksa. Norin berontak ingin melepaskan diri dari gendongan Shin namun pria itu semakin kuat saja memegangnya.
"lepaskan aku, aku tidak mau ikut denganmu...lepaskan aku lepaskan. Tolong aku mas Rio...tolong...!" teriak Norin sambil menatap nanar ke arah Rio dengan berurai air mata.
Rio bangkit perlahan. Namun, ia tidak bisa menggapai Shin yang lebih dulu masuk ke dalam mobilnya. Shin menancap gas meninggalkan parkiran tersebut. Rio tidak tinggal diam, ia mengemudikan mobilnya menyusul mobil Shin di belakang. Dan terjadilah aksi kejar kejaran antara mobil Shin dan mobil Rio.
Rio tertinggal sedikit jauh oleh mobil Shin yang sudah hampir mendekati mansion nya.
Norin menangis di dalam mobil Shin. Ia benci sekali atas perlakuan Shin terhadap dirinya. Shin tidak menghiraukan tangisan wanita di sampingnya.
Mobil Shin sudah memasuki pintu gerbang mansion yang menjulang tinggi.
"Hei, cepat tutup pintunya dan jangan biarkan mobil di belakang ku ikut masuk," titah Shin pada sang sekuriti jaga.
"Baik tuan."
Shin memberhentikan mobilnya tepat di depan mansion.
"Ayok turun."
"Aku tidak mau."
"Apa mau aku paksa?"
"Tolong jangan paksa aku, kenapa kau tega lakukan ini padaku."
"Ck, apa kau tak sadar kau sendiri yang telah membuat aku menjadi tega padamu." Shin tidak banyak bicara lagi ia langsung menarik paksa tangan Norin.
"Lepas, aku tidak mau ikut denganmu." Norin menepis tangan Shin.
__ADS_1
"Jangan sampai aku berbuat kasar padamu Norin."
Norin terdiam, ia takut di sakiti oleh pria yang memiliki kepribadian ganda di hadapannya. Kemudian, ia turun dari mobil lalu Shin langsung menggendongnya tanpa permisi.
"Lepas kan, aku bisa jalan sendiri."
Rio yang baru turun dari mobil langsung menghantam sekuriti yang menghalanginya hingga sekuriti tersebut terkapar di tanah.
"Lepaskan calon istriku bajingan...!" teriak Rio sambil berlari ke arah Shin yang sedang menggendong Norin.
"Brengsek kenapa dia bisa masuk." umpat Shin kesal.
"mas Rio....tolong aku mas," teriak Norin dalam gendongan Shin. teriakannya membuat Shin semakin marah karena Norin meminta tolong pada pria lain.
"lepaskan dia bajingan," bentak Rio dengan tatapan nyalang.
"oh, berani juga kau datang ke istana ku?" ucap Shin santai. Lalu, Shin menurunkan Norin namun tangannya di cekal dengan erat.
"lepaskan calon istriku,"bentak Rio kembali.
"oh, calon istrimu? ha ha. Apa aku tidak salah dengar."
"brengsek kau."
Bughh
Rio menyerang Shin menendang perutnya dengan keras hingga Shin terjungkal ke belakang. Shin bangkit lalu menyerang balik.
Bughh
Bughh
"Aku mohon jangan lakukan lagi, jangan sakiti dia,"ucap Norin dengan suara bergetar dan menangis sambil menutupi tubuh Rio dengan tubuhnya.
"Ck, sampai segitunya kau melindungi pria brengsek ini."
"Tono..!" teriak Shin.
Sang sopir tergopoh gopoh menghampirinya.
"iya tuan."
"bawa pria ini ke rumah sakit."
"Baik tuan.
Setelah itu, Shin menarik tangan Norin dengan paksa meninggalkan pria yang tengah pingsan di lantai. Norin menoleh ke belakang melihat pada tubuh Rio yang tak sadarkan diri.
"maaf kan aku mas, maaf kan aku. gara gara aku kamu jadi terluka." Norin bermonolog sambil menatap nanar ke arah Rio.
Shin menarik kasar tangan Norin, ia semakin kesal karena Norin masih saja memandangi pria yang sudah tak berdaya. Kemudian, tanpa bicara lagi Shin menggendong tubuhnya dan membawanya menuju kamar.
Brughh
__ADS_1
Shin menjatuhkan tubuh Norin di atas kasur. Norin bangun lalu menatap nyalang ke arah pria yang sedang bersedekap dada.
"kenapa kau begitu jahat padaku? kenapa kau memukul orang yang tidak bersalah padamu? apa salahnya?"
"ck, apa salahnya kau bilang? jelas saja dia salah karena dia mau mengambil milik ku."
"milik mu? apa milik mu?"
"kau."
"Ck, ingat Shin. kita tidak memiliki hubungan apa pun dan terikat apa pun. jadi dia sama sekali tidak mengambil aku darimu. dan itu hak dia."
"oh, segitu besarnya kamu membelanya?"
"tentu saja aku membelanya karena dia pria baik yang memiliki hati. Dan satu hal lagi yang harus kau tau bahwa dia adalah calon suamiku."
Shin terdiam lalu tangannya mengepal. Ucapan Norin membuat amarahnya memuncak. Tanpa bicara lagi Shin mencengkram dagu Norin.
"Apa kau bilang, dia calon suamimu? ck, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun pria yang mau menikahi mu karena kau adalah milik ku hanya milik ku."
Setelah itu, Shin me lu mat bibir Norin dengan kasar. Sekuat tenaga Norin mendorong tubuh Shin namun ia kalah tenaga. Shin melepaskan lu ma tan nya lalu bangkit dan mencari sesuatu. Norin menghirup udara dengan rakus. Shin kembali dengan membawa seutas tali sepatu. Ia membuka baju serta celana nya di hadapan Norin tanpa ada rasa malu. Norin ketakutan melihat pria yang sudah tanpa pakaian di tubuhnya dan yang tersisa hanya bo xer saja. Norin menghindari Shin, ia mundur ke belakang hingga ujung sambil memegang selimut.
"come on baby...!" ucap Shin sambil memajukan tubuhnya mendekati Norin yang sudah ketakutan.
"to tolong jangan sentuh aku, aku mohon." Norin benar benar ketakutan. Tubuhnya gemetar namun tak di hiraukan oleh pria yang hasratnya sudah di ubun ubun.
Shin menarik kedua kaki Norin lalu mengukung nya. Kemudian meraih kedua tangan dan mengikatnya di atas kepala.
"apa yang akan kau lakukan padaku Shin?" tanya Norin dengan bibir gemetar.
"menikmati tubuh wanita yang sudah menyakiti perasaanku."
"aku tidak pernah menyakitimu, kau sendiri yang menyakitiku."
"apa dengan menerima pinangan pria lain itu tidak menyakitiku? sementara dirimu sudah aku ikat sebelumnya."
"kita tidak memiliki ikatan apa pun Shin."
"ck, di depan ibumu dan di depan puluhan orang aku telah mengikatmu. apa kau lupa sayang?"
"Shin....ak...!"
"huss....kalau kau butuh ikatan mari kita ikat sekarang sayang."
Shin menarik jilbab Norin lalu merobek baju yang di kenakan Norin dengan kasar.
"Tolong jangan sentuh aku, aku mohon jangan lakukan ini padaku."
"bukan kah kau butuh ikatan sayang?"
"Bu bukan ikatan seperti ini yang aku butuhkan."
Shin tidak lagi menanggapi ocehan wanita yang sedang di kungkung nya. Ia mulai sibuk melepaskan satu persatu pakaian yang di gunakan oleh Norin hingga pakaian dalam pun ia lepaskan. Shin menatap tubuh molek itu dengan nafsu yang menggebu. Kemudian ia mulai melakukan aksinya me nye tu bu hi Norin dengan paksa. Norin menjerit dan menangis histeris ketika benda tumpul berotot menerobos paksa memasuki sesuatu di bawah perutnya yang masih tersegel. Shin tidak peduli pada tangisan Norin. Ia terus saja menikmati lubang sempit tanpa henti hingga Norin tak sanggup lagi menahan perlakuan kasar pria di atas tubuhnya. Norin tak sadarkan diri di tengah Shin mendekati puncak kenikmatan tiada tara. Shin mengerang lalu mencabut benda tumpul miliknya dan mengeluarkan cairan kental di luar karena Shin tidak ingin membuahi rahim Norin.
__ADS_1