
"Kalau nanti ada masalah apa-apa langsung lapor ke Ustazah atau Ustad pembimbing, okay? Kalau pondok pesantren izinin Ai juga bisa telpon Bunda sama Ayah. Insha Allah, kami akan berusaha meluangkan waktu datang ke sini." Bunda masih belum selesai menasehati Ai.
Padahal sepanjang perjalanan ke pondok pesantren Bunda dan Ayah tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk membicarakan banyak hal tentang pondok pesantren kepadanya. Sejujurnya, Ai senang mendapatkan kehangatan dari kedua orang tuanya. Tapi dia tidak ingin kedua orang tuanya seperti ini hanya karena mengkhawatirkannya.
Dia sudah besar dan sudah waktunya untuk menjadi berani.
"Bunda tidak perlu khawatir, seberat apapun masalah yang Ai hadapi di sini Ai akan berusaha menyelesaikannya sendiri. Insha Allah, selama Ai berdiri di tempat yang benar Allah tidak akan membiarkan Ai sendirian. Adapun Bunda, Ai tidak ingin membuat Bunda terlalu banyak pikiran. Ingat, saat ini Bunda sedang mengandung adik Ai. Jadi, Bunda harus lebih banyak beristirahat dan meluangkan waktu untuk bersantai dengan Ayah. Ai tidak ingin terjadi sesuatu kepada Bunda dan adik Ai hanya karena kekhawatiran Bunda. Jika itu sampai terjadi, naudzubillah..Ai akan sangat marah kepada diri sendiri-"
"Nak, jangan katakan itu lagi." Bunda tidak tahan.
Wajah Bunda kini terlihat sangat merah tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya sekarang. Tentu saja dia marah kepada Ai karena memikirkan yang tidak-tidak.
"Bunda dan Ayah seperti ini karena kami cinta sama kamu, Nak." Ayah akhirnya berbicara.
Dari tadi dia terus menahan dirinya untuk mengatakan apa-apa karena menikmati interaksi istri dan anaknya yang harmonis. Apalagi saat ini istrinya sedang mengandung anak kelima mereka-oh, lebih tepatnya anak keenam mereka. Jadi, dia berkali-kali lipat menjadi wanita yang sensitif dan manja. Ini setidaknya lebih baik dari pengalaman ketika hamil si kembar.
Saat itu Ayah sangat kewalahan menghadapi pergantian mood Bunda yang sangat cepat dan tidak beraturan.
"Ai tahu Ayah, Ai juga mencintai Ayah dan Bunda. Tidak hanya kalian, tapi Ai juga mencintai adik-adik, Kakek dan Nenek, serta Aunty-aunty yang lain. Kalian adalah yang terbaik di hati Ai karena itulah Ai tidak ingin kalian terlalu mengkhawatirkan Ai, sungguh..Ai pasti bisa melewati semuanya di sini." Ai tahu, dia tahu betapa tulus mereka semua kepadanya.
Karena itulah dia tidak ingin membebani pikiran mereka, membuat mereka mengkhawatirkannya meskipun pada kenyataannya dia memang ragu bisa melalui semuanya dengan baik.
"Ya Allah, Ai.." Bunda menghela nafas berat.
"Bunda benar-benar lupa kamu sekarang sudah tumbuh dewasa." Katanya seraya mengusap lembut wajah cantik Ai.
Ai hanya tersenyum kecil, mengambil tangan Bunda dari wajah dan menciumnya. Dia akan sangat merindukan mereka di sini.
"Jaga diri baik-baik di sini, ingat apa yang Bunda bilang tadi. Jika ada sesuatu jangan lupa untuk meminta bantuan kepada Ustad atau Ustazah pembimbing. Dengar?"
__ADS_1
"Ai dengar, Bunda." Jawabnya tidak berdaya.
Ayah juga datang mendekatinya. Dia mengusap kepala Ai berapa kali sebelum mengecup kening Ai lama.
"Kami akan sangat merindukan kamu di rumah." Bisik Ayah terdengar serak.
"Ai juga Ayah, Ai akan sangat merindukan kalian semua di sini." Balasnya mulai merasa sedih.
Ayah mengangguk ringan, mengusap kepala Ai seraya melantunkan sebuah doa singkat. Ini adalah doa dimana Ayah meminta Allah meridhoi Ai pergi menuntut ilmu sama seperti dia dan Bunda meridhoi Ai pergi. Ayah harap Allah melindungi Ai di sini dan memudahkannya dalam menuntut ilmu.
"Baiklah, Ai bisa masuk sekarang." Kata Ayah setelah selesai mendoakan Ai.
Ai kemudian mengambil tangan Ayah, menciumnya lama sebelum beralih mencium tangan Bunda. Setelah itu dia menundukkan kepalanya mencium perut buncit Bunda yang hamil baru 4 bulan. Ai harap adiknya sehat di dalam Sana dan tidak menyusahkan Bundanya.
"Dedek di dalam jangan nakal yah. Kamu harus patuh mendengarkan Bunda di masa depan agar kalian berdua selalu dalam keadaan sehat. Mungkin..saat kamu lahir nanti Kakak tidak ada di sana, tapi kamu harus tahu ada atau tidaknya Kakak di hari itu hati Kakak masih sangat mencintai dedek. Mungkin suatu hari jika pondok mengizinkan libur Kakak akan pulang menemui kamu, jadi untuk hari itu kita harus sama-sama bersabar." Bisiknya di depan perut buncit Bunda.
Ai memeluk kedua orang tuanya lama sebelum ikut bergabung ke dalam antrian panjang santri baru. Para orang tua tidak di izinkan masuk melainkan mengantar mereka sampai di depan gerbang pondok pesantren saja.
Pondok Pesantren Abu Hurairah
Tulisan itu dengan angkuhnya berdiri di atas pintu gerbang. Membuat hati para pengejar ilmu berdegup kencang antara gugup dan takut.
Bagi beberapa orang termasuk Ai, ini adalah pengalaman pertamanya jauh dari rumah dan kedua orang tuanya. Dia sangat takut mengecewakan mereka, dia takut tidak bisa menjalin pertemanan, dan dia lebih takut mereka akan mengucilkannya.
Di dalam barisan antrian Ai beberapa kali menoleh ke belakang untuk menatap kedua orang tuanya. Dia pikir kedua orang tuanya sudah pergi tapi nyatanya mereka masih berdiri di tempat yang sama dengan senyuman lembut seperti biasanya.
"Bunda, Ayah.." Bisiknya seraya membawa kepalanya berpaling dari mereka.
"Tolong doakan Ai." Karena dia sangat takut tanpa mereka.
__ADS_1
"Tolong serahkan dokumen masuknya, dek." Ai sampai diujung antrian.
Di depannya sekarang ada gadis cantik dengan pakaian tertutup berwarna hijau muda menyapa dengan ramah. Dari id card yang tergantung di lehernya Ai mengetahui jika gadis ini bernama Sasa, dia adalah 'Petugas Kedisiplinan Asrama Putri'.
Mungkin tugas mereka sebelas atau dua belas sama dengan OSIS di sekolah.
"Ini Kak." Ai mengeluarkan map biru dari tas punggung dan memberikannya kepada Sasa.
"Baik." Sasa langsung menerimanya, membuka map biru Ai sebentar sebelum mencatatnya di komputer.
"Aishi Humaira," Dia lalu menatap Ai dengan senyuman yang ramah.
"Nama yang cantik." Sambungnya sebelum kembali mengetik.
"Nah, ini dokumennya. Ai masuk saja ke dalam dan ikuti antrian di depan untuk proses registrasi selanjutnya. Jika Ai bingung di depan ada petugas kedisiplinan asrama putri yang sudah berjaga-jaga, jadi tanyakan saja apa yang ingin Ai tanyakan kepada mereka." Katanya ramah sambil mengembalikan map biru Ai.
Apa yang Ayah dan Bunda katakan tidak bohong, orang-orang di pondok pesantren sangat ramah dan terbuka. Batin Ai merasa tenang.
"Terimakasih, Kak."
Setelah itu Ai masuk ke dalam halaman pondok pesantren. Antrian di sini juga panjang. Mereka secara perlahan di arahkan masuk ke dalam lorong pondok pesantren. Dari pintu ruangan-ruangan yang ada di sini Ai menyimpulkan bahwa tempat ini adalah tempat staf-staf pondok pesantren bekerja. Mungkin bisa dibilang ruang TU dalam sekolah umum.
Proses registrasi di sini lebih lama dari di luar. Ai dan santri-santri yang lain harus menunggu dengan sabar sebelum mendapatkan panggilan dari orang di dalam.
"Aishi Humaira." Akhirnya dia dipanggil.
Bersambung..
Chapter selanjutnya pukul 14.00 paling lambat, Inshaa Allah💚
__ADS_1