
Ali tersenyum simpul, dia menarik tangan Safira dari kepalanya. Mengecup kedua tangan Safira yang sudah mulai ramping kembali.
"Apa kamu lelah mengurus anak-anak kita? Bila kamu lelah bagaimana jika kita menggunakan jasa baby sitter agar kamu bisa beristirahat?" Ali sudah memikirkannya semalam.
Meskipun agak tidak setuju dengan ide ini namun dia harus melakukannya karena anak yang Safira urus bukan hanya satu, namun 3 bayi.
Ali tidak tega melihatnya kewalahan setiap hari.
"Safira pikir ini bukan ide yang bagus, Mas." Kata Safira kurang setuju.
"Memang Safira akui rasanya sangat melelahkan mengurus anak-anak. Di tambah lagi ada Ai yang masih kecil dan butuh perhatian dari Safira, ini lebih sulit dari yang Safira bayangkan. Namun, mereka adalah amanah dari Allah, Mas. Dia sudah memberikan kita kepercayaan membesarkan anak-anak, jadi kenapa kita harus melempar tanggung jawab ke orang lain sekalipun kita membayar jasa mereka. Safira tidak suka, Mas. Safira ingin hubungan kami kuat tanpa ada penengah pihak manapun, di samping itu juga Safira ingin mendidik anak-anak dengan usaha Safira sendiri. Menjadi sekolah dan guru untuk mereka semua sebelum benar-benar melihat dunia. Tapi untungnya Safira tidak pernah sendiri mengurus anak-anak. Ada Mas Ali yang selalu rajin bangun tengah malam menidurkan anak-anak yang terbangun, ada Bunda dan Ayah yang selalu meluangkan waktu untuk anak-anak bila Safira sibuk memasak atau melakukan pekerjaan lainnya, dan juga ada banyak keluarga yang menyempatkan waktu bermain dengan anak-anak. Bahkan, Ai selalu menjaga anak-anak bila dia pulang sekolah atau sedang libur sekolah. Jujur, Mas. Selain memberikan amanah luar biasa Allah juga memudahkan kita mengurus mereka semua."
Tentu saja ada rasa lelah ketika mengurus anak-anak, namun itu wajar saja karena dia kini tidak hanya menjadi seorang istri namun juga seorang Ibu.
__ADS_1
Pernah terbersit dihatinya untuk menggunakan jasa baby sitter, namun pemikiran ini segera ditepis karena ada rasa tidak rela melihat anak-anak dibesarkan oleh wanita lain. Tidak, Safira tidak mau dan dia lebih suka membesarkan anak-anaknya dengan usaha dirinya sendiri.
Ali terkejut mendengarnya, setiap kata yang keluar dari bibir istrinya bagaikan embun pagi yang menetes langsung dari langit. Itu sejuk dan jernih membasahi hatinya dengan rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang.." Ali mengusap wajah istrinya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Iya, Mas? Safira gugup, dia takut bila suaminya tidak setuju.
Namun ketakutannya tidak terjadi, bukannya tidak setuju Ali malah membuat Safira malu.
Bahkan rasanya begitu panas!
"Mas Ali, ih!" Safira malu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan agar Ali tidak bisa melihat betapa merah wajahnya sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong istriku." Kata Ali diselingi tawa ringan.
Safira menggelengkan kepalanya pura-pura tidak percaya, padahal saat ini bibirnya sudah membentuk lengkungan yang indah dari balik tangan.
"Mas Ali lebih baik siap-siap sholat subuh aja biar gak ketinggalan saf sholat di masjid." Ucap Safira tidak tahan lagi.
Dia segera melarikan diri ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Pagi ini dia harus memulai rutinitas yang sama untuk yang kesekian kalinya, kecuali ibadah bersama dengan Ali karena dia sedang halangan.
Benar, setelah anak-anak lahir jadwal datang bulannya kembali rutin meskipun lebih boros dari sebelumnya.
Yah ini wajar saja karena dia baru saja selesai melahirkan beberapa bulan yang lalu.
...🍚🍚🍚...
__ADS_1
Gak ada yang mau nih punya menantu kayak Safira?