
"Lalu kenapa kamu tidak mau menerimanya?"
Ai gugup, kepalanya kian tertunduk tak berani melihat Ustad Vano. Kedua tangannya yang sedang memegang erat paper bag mulai berkeringat, dia sungguh sangat gugup tak mampu berbicara. Ditanya kenapa?
Jawabannya sudah pasti karena ia tidak ingin selalu terjebak dengan Ustad Vano, karena dengan begitu dia akan terus berpikir jika Ustad Vano menaruh rasa kepadanya. Ai, tidak bisa melambungkan mimpi ini lagi karena ia tahu dengan pasti bahwa dirinya sungguh tidak pantas bersanding dengannya.
"Kamu belum membuka paper bag dan belum melihat hadiahnya, maka apa alasan kamu menolak pemberian ku?" Ustad Vano bertanya lagi, nadanya kali ini lebih menuntut daripada sebelumnya.
Dia ingin tahu apa alasan Ai menolak pemberiannya. Jujur, dia marah dan kesal. Suasana hatinya sedang sangat buruk karena beberapa hal. Namun ketika mengingat Ai hatinya merasa jauh lebih baik karena itulah ia datang ke sini agar bisa meredupkan kegelisahan di hatinya. Akan tetapi siapa yang akan mengira jika kedatangannya justru akan berbuah masam?
Ai menolak hadiah darinya dan terlihat enggan pula berbicara dengannya. Ustad Vano jelas orang yang penyabar- tidak, lebih tepatnya dia adalah orang yang sangat penyabar. Tetapi semua orang punya batas kesabaran dan ini juga berlaku untuk Ustad Vano. Dia adalah orang posesif dan egois bila menyangkut Ai, dia tidak ingin dirugikan bila menyangkut Ai, dan dia tidak suka dikacaukan bila menyangkut Ai.
Baginya Ai sudah menjadi dunianya, dunia yang ia bangun sendiri sejak pertama kali bertemu dengan Ai, gadis manis dan lembut dengan segala kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT. Sebelum bertemu Ai, dia adalah anak laki-laki datar dengan banyak rangkaian mimpi dunia tanpa mengenal akhirat. Namun, setelah bertemu Ai, dia adalah anak laki-laki dengan berbagai macam warna menghiasi hari-harinya. Bertemu Ai membimbingnya mengenal akhirat dan jatuh cinta kepada Allah. Dia menjadi orang yang mencintai ilmu, mengejar keridhoan Allah, dan terus memantaskan diri agar bisa bersanding dengan Ai, mahluk ciptaan Allah yang sangat spesial.
Setelah semua yang ia lakukan agar sampai di hari ini bagaimana mungkin, bagaimana mungkin ia mau melepaskan Ai begitu saja?
Jangan bercanda, bukankah Ustad Vano pernah mengatakan jika ia adalah orang yang egois dan posesif bila menyangkut Ai?
Benar, Ustad Vano ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa berdiri untuk Ai, menjadi dunia untuk Ai, menjadi sumber kebahagiaan untuk Ai, dan menjadi tempat ternyaman untuk Ai bisa bersandar.
Ia ingin memenuhi semuanya untuk Ai.
__ADS_1
"Apa karena kamu kini telah berpaling menyukai orang yang lebih baik dariku?" Kata-kata ini tanpa sadar Ustad Vano ucapkan, dia kelepasan dan membuat Ai sangat terkejut.
"Ustad..." Ai sejenak kesulitan mengucapkan kata-katanya.
Bagaimana mungkin dia bisa berpaling semudah itu?
Hanya Allah yang tahu betapa besar perasaannya kepada Ustad Vano dan hanya Allah pula yang tahu seberapa panjang kesabarannya menantikan kedatangan Ustad Vano, Allah tahu semuanya jadi bagaimana mungkin ia begitu mudah berpaling di saat dunia dan hatinya sudah menjadi milik Ustad Vano?
"Apa yang Ustad katakan? Aku.. aku tidak pernah menyukai siapapun."
Ustad Vano lalu menuntut,"Jika benar, maka kenapa kamu menolak hadiah dariku tanpa sempat membuka dan melihat isinya, Aishi?"
Kenapa?
"Ustad," Ai mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
Rasanya begitu berat.
"Tolong jangan memberikan perhatian apapun lagi kepadaku." Kata Ai berusaha membuat suaranya setegar mungkin.
Ustad Vano tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
"Kenapa? Jawab aku dengan jujur. Jika tidak, aku akan benar-benar marah, Ai."
Ai memejamkan matanya takut.
"Ini adalah keputusan yang terbaik untuk Ustad Vano. Dengan menjaga jarak dariku, citra Ustad Vano di sini tidak akan tercemar. Ustad Vano tidak akan mendapatkan rumor buruk-"
"Aishi Humaira!" Potong Ustad Vano benar-benar marah.
"Apakah kamu yakin ini adalah keputusan terbaik? Apakah kamu yakin dengan menjaga jarak darimu semuanya akan baik-baik saja? Apakah kamu yakin?" Ustad Vano kian menuntut.
Ai kewalahan menghadapi sikap tajam Ustad Vano malam ini. Dia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan semuanya. Dia sungguh tidak bisa- kecuali, kecuali ia mengakui perasaannya!
Dengan begini Ustad Vano sepenuhnya akan menjauh darinya dan mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing dengan tenang.
"Rumor buruk hari ini, aku tahu Ustad Vano telah mendengar semuanya." Kata Ai tiba-tiba membicarakan topik lain.
Ustad Vano terdiam. Dia menatap Ai dengan ekspresi yang lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku belum mendengarnya." Jawab Ustad Vano membantah.
Ia telah mencari-cari Kevin untuk membicarakan masalah rumor ini namun orang yang ia cari tidak ada di sini dan izin pergi keluar pondok. Kemudian ia mencari Hana untuk membicarakan rumor ini, ia yakin Hana pasti juga tahu mengenai rumor ini. Namun bukannya menjawab keingintahuannya, Hana justru memintanya untuk datang kepada Ai langsung. Ia tidak mau mengatakannya kecuali Ustad Vano bertanya langsung kepada Ai.
__ADS_1
Alhasil, di samping untuk menenangkan hatinya yang sedang gelisah, tujuan Ustad Vano datang ke sini adalah membicarakan mengenai rumor yang belum sempat Kevin katakan. Entah Ai enggan menyebutkan masalah ini atau tidak, ia akan memaksa Ai membicarakan semuanya tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi.