
Suasana pondok sekilas memang terlihat damai, namun untuk beberapa orang suasana hari ini amatlah amatlah sangat buruk apalagi salah satu santri perempuan berprestasi masih belum bangun dari pingsannya. Bahkan, sekalipun dokter yang merawat mengatakan jika sang santri baik-baik saja, namun bagi pondok ini tidak baik-baik saja. Mereka berpikir jika masalah ini harus segera diselesaikan dalam waktu dekat agar pondok pesantren kembali berjalan seperti biasanya.
Di sisi lain, tepatnya di dalam ruang medis. Mega, Asri, dan Ratna mendapatkan keringanan dari pihak pondok untuk mengawasi keadaan Ai. Mereka telah diingatkan oleh Ustad Vano untuk menjaga Ai selama ia tidak ada di sini, maka jadilah, mereka bertiga makan dan sholat di sini bersama Ai yang masih betah tertidur.
"Ai lama banget boboknya, bangun yuk Ai, besok pagi kan kita mau pergi ke pasar. Di pasar enak tahu, Ai, ada banyak jajanan yang gak bisa kamu temuin di kota. Nyesel deh kalau kamu gak ikut." Asri berusaha membujuk Ai agar segera bangun karena dia sering melihat adegan ini di sinetron. Biasanya pasien akan bangun setelah diajak bicara panjang lebar bahkan lebih bagus lagi jika mengenang masa lalu.
"Teman kalian ini lagi tidur dan bukan koma, astagfirullah." Dokter yang merawat Ai sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh Asri.
Asri cengengesan, ia menyentuh hidungnya merasa malu dan tidak berani lagi membuat ulah apalagi sampai mengikuti adegan sinetron.
"Kebanyakan nonton drama Korea, sih." Ledek Ratna.
Asri masih sempat mengoreksi.
"Bukan drama tapi sinetron. Aku gak pernah nonton drama Korea di rumah dulu. Tapi kalau ada kesempatan nanti mau coba-"
"Coba aja sana kalau mau mata kamu hisabnya berat." Potong Mega jutek.
Asri tertawa garing,"Bercanda, kok."
Mega memutar bola matanya malas sedangkan Ratna langsung menahan mulutnya ingin tertawa. Hari ini bukan hanya dia saja yang dimarahi oleh Mega tapi Asri juga tidak bisa lolos dari sasarannya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Assalamualaikum?" Ternyata itu datangnya dari Ustad Vano.
Ustad Vano langsung masuk ke dalam dengan kantong plastik putih ditangannya.
"Waalaikumussalam, Ustad." Mereka bertiga dengan kompak menjawab salam dan dengan sadar diri pula mundur ke belakang menyediakan tempat untuk Ustad Vano melihat Ai.
"Apa Ai sudah bangun?" Tanya Ustad Vano kepada mereka.
"Belum Ustad, dia masih pingsan." Jawab Mega sopan.
Ustad Vano tampak kecewa. Bohong jika dia tidak kecewa melihat pujaan hatinya masih belum sadarkan diri.
"Makanlah, kalian pasti bosan menunggu di sini." Katanya tanpa melihat reaksi mereka bertiga.
Ia juga memberikan dokter kantong plastik putih, tapi yang lebih kecil dan sisanya ia taruh di atas nakas samping ranjang Ai. Pertama-tama, ia mengeluarkan sebuah lilin aromaterapi berwarna putih dari dalam. Menempatkannya di atas nakas setelah dinyalakan.
Lalu, ada juga beberapa makanan sehat yang dibuat khusus untuk lidah pasien. Ustad Vano menaruhnya di dalam laci agar tidak terkontaminasi oleh wangi lilin aromaterapi itu.
"Mashaa Allah, ini sangat wangi. Aku pernah mencium wangi ini di suatu tempat atau orang yah...aku lupa." Asri menghirup wangi lilin aromaterapi dengan rakus, memanjakan dirinya dengan suasana nyaman dan perasaan nyaman yang membuat pikirannya menjadi rileks.
__ADS_1
Semua orang yang mencium aroma lembut nan manis ini juga merasakan apa yang Asri rasakan. Aroma ini membuat pikiran mereka menjadi rileks dan lebih nyaman.
Mega juga ingat pernah menciumnya di suatu tempat atau mungkin seseorang, tapi ia lupa dimana atau siapa orang itu.
"Ini adalah wangi Ai." Kata Ratna langsung mengingatkan Asri dan Mega.
"Oh iya, ini adalah pewangi yang Ai gunakan. Bau bunga mawar dan Ai pernah memberikan ku satu botol, tapi karena baunya sangat enak dan harganya pasti mahal, aku jadi takut memakainya sehingga pewangi itu ku simpan di dalam lemari dan masih tetap utuh sampai sekarang!" Asri akhirnya ingat dengan wangi ini.
Ai itu orangnya lembut dan wangi bunga mawar. Siapapun yang dekat dengannya pasti akan langsung menyukai wangi Ai. Apalagi wangi Ai seolah menjadi gambaran betapa lembut hatinya. Membuat orang nyaman sekaligus ingin berteman dengan Ai.
Nah, inilah yang Asri rasakan saat pertama kali bertemu dengan Ai!
"Kok aku gak dikasih sama Ai?" Mega jelas cemburu.
Ratna juga tidak kalah cemburunya,"Wanginya enak banget..."
Asri mengangkat bahunya tidak tahu. Duduk di sofa santai sambil mengeluarkan makanan yang Ustad Vano belikan untuk mereka.
Sementara itu, Ustad Vano masih sibuk memperhatikan wajah damai Ai. Diam, ia lalu mengambil nafas panjang hingga suara merdu nan lembut mengayun lembut di dalam ruang medis. Ustad Vano membaca surat Ar-Rahman, sebuah surat cinta dari Sang Pencipta kepada hamba-hamba-Nya. Ini adalah surat yang menunjukkan betapa Allah sangat bermurah untuk hamba-hamba-Nya, ada sungai, buah-buahan, serta nikmat-nikmat lainnya yang tidak bisa dipungkiri oleh manusia.
Ini adalah sebuah surat cinta yang membuat hati bergetar, mengingatkan jiwa bahwa sesungguhnya Allah itu maha romantis. Dia mencintai hamba-hamba-Nya dengan tulus, tiada cinta yang lebih tulus nan dari milik-Nya.
__ADS_1
"Kak Vano?"