Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.4)


__ADS_3

"Ini tentang hati, tidakkah kalian ingin membicarakan tentang duo kulkas itu? Aku dengar mereka berdua besok akan kembali ke pondok pesantren. Lebih cepat 1 bulan dariĀ  jadwal." Ujar Asri dengan ekspresi menggoda.


Ai dan Mega saling pandang, ada rona merah di kulit lembut mereka.


"Apa duo kulkas yang kamu maksud adalah Ustad Vano dan Ustad Azam?" Mega baru hari ini mendengar julukan duo idola pondok pesantren yang dikagumi oleh banyak santri.


Jika julukan ini sampai menyebar maka nasib Asri di tempat ini tidak ada bedanya dengan hidup di neraka. Dia akan bermasalah dengan orang-orang tidak suka terhadap julukan itu tapi hei, ini hanya terjadi di dalam khayalan Mega karena sekali lagi ini adalah pondok pesantren.


Dimana adab dan ilmu di dahulukan.


"Siapa lagi kalau bukan mereka. Coba pikirkan apakah ada Ustad di pondok pesantren ini yang begitu dingin dan pelit senyum selain mereka berdua?" Asri menantang.


Ai merenung, duduk bersandar di tiang masjid seraya memilah-milah ingatannya.


"Sejauh yang aku temui tidak ada. Selain Ustad Vano dan Ustad Azam, aku tidak pernah menemukan selain mereka berdua." Ai memeluk lututnya, memiringkan kepalanya untuk menikmati suasana malam yang sangat damai.

__ADS_1


Suara lembut orang yang sedang mengaji sayup-sayup terdengar dari lantai bawah. Membuat hatinya tenang dan tanpa sadar melupakan 'skandal' yang dia lakukan malam ini bersama kedua temannya.


"Dengar, Ai saja mengakui jika tidak ada Ustad selain mereka berdua yang berwajah dingin dan pelit senyum. Padahal banyak tersenyum itu ibadah dan mudah dilakukan tapi kenapa mereka berdua sangat enggan melakukannya?" Asri ikut duduk di samping Ai.


Dia meluruskan kedua kakinya dengan kedua matanya kembali menatap hamparan langit malam.


"Hati seseorang tidak mudah ditebak. Bisa jadi itu adalah kepribadian mereka dari sejak kecil sehingga tidak mudah dirubah ketika sudah besar. Dengan kata lain yah..mereka bukannya pelit tersenyum tapi lebih tepat tidak bisa tersenyum." Mega menyusul Ai dan Asri duduk di lantai.


Bedanya Mega duduk bersandar di dinding kaca membelakangi pemandangan langit sedangkan Ai dan Asri duduk menghadap hamparan langit malam.


"Jadi, kalian merindukannya setelah berbulan-bulan tidak bertemu?" Pertanyaan ini tiba-tiba jatuh dan membuat Ai maupun Mega terdiam.


Asri melihat kebekuan diantara mereka berdua. Dia tidak bisa tidak tertawa tapi segera menutup mulutnya takut di dengar oleh orang-orang di bawah.


"Apa kalian berdua pikir aku selama ini tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian dan duo kulkas itu? Hei, aku tidak sepolos itu. Aku memperhatikan apa yang terjadi dengan kalian berdua dan diam-diam aku memahami bahwa hubungan kalian dengan mereka tidak sedangkal yang orang-orang pikirkan. Ai," Asri menyentuh pundak Ai.

__ADS_1


Dia menatapnya dengan penuh kasih sayang, hanya Allah yang tahu betapa dia sangat menyayangi Ai sudah seperti saudaranya sendiri. Asri selalu melihat Ai seperti adiknya, adik yang harus dia lindungi. Karena itulah terkadang ketika mereka bersama seringkali Asri bersikap selayaknya seorang Kakak yang melindungi adiknya.


"Apa kamu tidak pernah menebak apa yang aku pikirkan setiap kali kita membicarakan tentang Ustad Vano?" Asri mengusap bahunya.


Ai mengerjap ringan, beberapa detik kemudian dia mengangguk. Seringkali Ai berpikir jika Asri mengetahui tentang perasaannya kepada Ustad Vano tapi dia berusaha menepisnya lantaran Asri tidak pernah bertanya langsung.


Dia pikir Asri hanya mengucapkan kata-kata penghiburan seperti tadi siang ketika dia selesai berbicara dengan Almaira.


"Dan Mega," Kini Asri beralih menatap Mega, orang yang sudah dia anggap sebagai Kakak sendiri. Bersama Mega, dia akan merasa terlindungi dan dia menjadi lebih bebas mengekspresikan dirinya tanpa takut tidak disukai orang lain.


Ai dan Mega, sahabat-sahabatnya ini Asri sangat berharap bisa menggenggam tangan mereka berdua sampai di Jannah kelak. Asri sungguh tidak mau berpisah, kehilangan orang-orang yang bermandikan ilmu dan rendah hati, Asri sungguh tidak mau berpisah.


"Maaf, tapi selama ini aku berpura-pura tidak tahu dengan hubungan mu dan Ustad Azam namun percayalah, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Entah itu Ai dan Ustad Vano atau kamu dan Ustad Azam, aku selalu berharap kebahagiaan Allah limpahkan untuk kalian berdua." Asri tersenyum, senyumnya begitu lembut dan tulus, tidak ada perasaan yang dibuat-buat atau dipalsukan karena sungguh dia selalu mendoakan yang terbaik untuk sahabat-sahabatnya ini.


"Pernah suatu hari aku membicarakan mengenai nikah muda kepada kalian, sejujurnya aku sengaja melakukan itu agar duo kulkas mendengarkan pembicaraan kita. Aku secara tidak langsung ingin mengatakan kepada mereka bahwa wanita butuh kepastian dan bukan sekedar angan-angan saja. Dan hasilnya? Mereka menghukum kita berkali-kali hari itu sehingga rumor tentang kalian beredar dimana-mana-"

__ADS_1


__ADS_2