Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Pinangan diterima


__ADS_3

Setelah berjalan kaki yang cukup jauh akhirnya Shin dan tiga teman belianya tiba di sebuah kampung.


"Dimana rumahnya Dul?" tanya Shin. Ia sudah tidak sabar ingin cepat sampai. Selain karena lelah ia juga ingin segera membeli kebun itu.


"Sebentar lagi kak, tinggal belok kiri."


Setelah belok kiri akhirnya mereka tiba di sebuah rumah berlantai dua. Rumah paling menonjol di antara rumah sederhana di sekitarnya.


"Itu rumahnya kak,"tunjuk Abdul.


Kemudian mereka menghampiri rumah berlantai dua tersebut.


"Assalamualaikum?" teriak Abdul di depan pintu gerbang sebatas dada Shin.


Tidak selang lama. Seorang wanita muda yang di ketahui sebagai istri ketiga pak Paijo membuka pintu gerbang dan setelah terbuka ia menganga melihat pria asing tinggi tampan sedang berdiri diantara tiga pria belia. Pandanganya tak lepas dari wajah tampan Shin membuat Shin merasa risih lalu memalingkan wajahnya.


"Assalamualaikum Bu Idah," sapa Abdul.


Wanita itu membesarkan matanya di panggil ibu oleh Abdul.


"Saya masih muda lho, masa di panggil ibu," protes nya.


"Oh, maaf mba Idah." ralat Abdul lalu tersenyum nyengir.


Idah memandangi Shin kembali tanpa kedip. Rasanya Shin ingin sekali segera cepat pergi dari rumah itu lalu Shin memalingkan wajahnya kembali.


"Apa pak Paijo nya ada mba Idah?" Abdul yang mengetahui bahwa temannya tidak suka di pandangi seperti itu oleh wanita di hadapannya langsung mengalihkan perhatian.


Idah tersentak kaget Abdul menyebut nama suaminya. Sepertinya ia malu sekali di sebut memiliki suami di depan pria tampan ini.


"Apa suami mba Idah ada?" tanya Abdul lagi karena Idah masih terdiam.


Bertepatan dengan itu, sebuah mobil hitam berhenti tepat di belakang mereka lalu membunyikan klakson berulang kali seperti menyuruh empat pria yang sedang berdiri di depan pintu gerbang menyingkir. Tak lama pria itu menyembulkan kepalanya ke luar.


"Woi, menyingkir," teriak pria tambun berkumis tebal.


Shin dan ke tiga temannya menyingkir ke samping sementara Idah membuka lebar pintu gerbang rumahnya. Mobil itu berjalan perlahan masuk ke dalam rumahnya.


"Siapa mereka?" tanya pria itu sambil ekor matanya melirik ke arah pintu gerbang.


"Katanya mereka mau bertemu dengan Abang," jawab Idah.


"Ada urusan apa mereka mau bertemu denganku?"


Idah mengedik kan bahunya," ngga tau bang, coba aja tanya."


"Hei, kalian mau apa ke rumahku?"


"Kami mau bertemu dengan pak Paijo," jawab Abdul.


"Ada urusan apa kamu mau bertemu denganku?"


Abdul melirik ke arah Shin yang masih terdiam.


"Apa tidak sebaiknya anda menyuruh kami masuk terlebih dahulu tuan Paijo?" ucap Shin sambil bersedekap dada.


Paijo menelisik penampilan Shin dari bawah hingga atas yang hanya menggunakan kolor, baju lusuh dan sendal jepit lalu menyunggingkan senyum miring mengejek.

__ADS_1


"Tampang gembel sepertimu ada urusan apa dengan saya?"


Idah menggoncang kecil lengan Paijo karena suaminya telah mengejek Pria tampan yang di kagumi nya.


"Ck, memang tidak ada urusannya tuan Paijo. Saya hanya ingin berbicara kecil saja dengan anda."


"Ma..masuk mis...mister, silahkan masuk,"titah Idah dengan gugup.


Paijo melirik tidak suka pada Idah menyuruh mereka masuk tanpa seijinnya.


Shin dan ketiga temannya memasuki pintu gerbang lalu berjalan menghampiri Paijo dan Idah yang sedang berdiri di teras rumahnya.


Idah berjalan dan membukakan pintu rumahnya.


"Silahkan masuk,"titah Idah.


"Terima kasih nyonya tapi sepertinya tidak usah kami takut mengotori rumah anda. Lagi pula kami hanya ada perlu sebentar dengan tuan Paijo."


"Ada perlu apa anda sama saya?"


"Begini tuan paijo, saya memiliki keinginan untuk membeli salah satu kebun anda yang terletak berdekatan dengan kebun pondok pesantren. Saya mendengar anda akan menjual kebun tersebut bukan?"


"Ck, punya uang berapa anda berani bicara ingin membeli kebun saya?"


"Ya setidaknya saya mampu membayar dua kali lipat dari harga yang anda tawarkan pada orang lain. Bukan kah anda menawarkan tanah anda itu dengan harga dua ratus lima puluh juta? maka saya akan membayarnya lima ratus juta."


Paijo tersentak. Bagaimana mungkin pria berpenampilan gembel mampu membeli kebunnya dengan harga lima ratus juta, pikirnya.


Begitu pula dengan Idah, Abdul, Akbar dan Thoriq. Mereka terperangah mendengar teman asingnya akan membeli harga dua kali lipat.


Bukan maksud Shin ingin pamer harta namun ia tidak suka pada sikap Paijo yang menganggap rendah orang lain karena penampilannya yang seperti seorang gembel.


"Si..siapa Anda sebenarnya."


"Tidak perlu tau siapa saya. Anda setuju apa tidak. Kalau tidak ya sudah kami pergi sekarang."


"Ba..baik saya setuju."


"okey, beritahu nomer rekening anda, saya akan transfer sekarang."


Paijo memberikan nomer rekeningnya Shin langsung mentransfer uang lima ratus juta. Paijo menganga melihat ponselnya ada pemberitahuan bahwa uang lima ratus juta sudah masuk ke rekeningnya.


"Ya sudah kalau begitu kami permisi."


Shin dan ketiga temannya bergegas kembali ke pondok.


"Sebenarnya kak shin itu siapa sih? kok uangnya banyak sekali," tanya Thoriq dengan polos.


Shin tidak menjawabnya ia hanya tersenyum saja."Besok kita akan sewa traktor untuk menggali tanah membuat kolam."


"Secepat itu?" tanya Abdul.


"Semakin cepat semakin lebih baik bukan?"


Abdul dan kedua temannya manggut manggut manggut.


Ya, Allah, aku memohon pilihan kepadamu dengan ilmu mu, aku memohon kekuasaan mu dengan kodrat mu dan aku memohon kepadamu sebagian karunia mu yang agung karena engkau maha kuasa.

__ADS_1


Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, agamaku, kehidupanku dan akibatnya bagiku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku serta berkahilah aku dalam urusan ini.


Dan jika engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, agamaku, kehidupanku, dan akibatnya bagiku, maka jauhkanlah urusan ini dariku, jauhkanlah aku dari urusan ini. Hamba mohon takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun dan kapan pun serta jadikan aku sebagai manusia yang selalu ikhlas menerimanya.


Beberapa tetes air mata berjatuhan di atas sajadah yang terbentang. Ia menangis setelah melaksanakan sholat istikharah untuk memohon petunjuk pada sang Rabb mana yang terbaik atas pilihan hidupnya hingga ia tertidur di atas sajadahnya.


Suara adzan subuh berkumandang, Ia terbangun dalam keadaan keringat telah membasahi sekujur tubuhnya.


"Kenapa...kenapa pria itu hadir di mimpiku padahal selama ini aku tidak pernah memimpikannya. Ada apa ini ya Allah...apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa perasaanku gelisah seperti ini?"


Inay termenung di atas sajadah namun tak lama ia tersadar jika dirinya belum melaksanakan sholat subuh. Ia pun bangkit lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat.


Seperti yang di ucapkan pada Abah bahwa ia hanya meminta waktu satu malam untuk memikirkan mau menerima atau tidak pinangan dari dari salah satu santri di pondok tersebut.


Inay berjalan sedikit cepat ke arah rumah Abah Ahmad karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan Inay takut Abah keburu pergi karena ia tau bahwa hari ini Abah ada janji untuk pergi ke suatu tempat.


"Assalamualaikum?"


"Wa'alaikum salam."


Pintu terbuka.


"Ayok Nay masuk. Abah sudah menunggu kamu dari tadi."


Inay mengangguk lalu mengikuti umi Husna masuk ke dalam rumahnya. Terlihat Abah sudah duduk santai di atas sofa. Inay menyalami Abah terlebih dahulu.


"Duduk Nay."


Inay mengangguk.


"Bagaimana Nay, apa sudah membuat keputusan menurut hatimu?"


Inay terdiam dan menunduk. Sebenarnya, ia masih bingung dengan mimpi pria yang sedang ia hindari. Ingin rasanya ia menceritakan tentang mimpi pria itu tapi mengingat Abah serta umi yang hendak pergi Inay pun memilih untuk tidak menceritakan pada mereka.


Inay memejamkan matanya.


"Bismillahirrahmanirrahim, Inay menerima pinangannya Abah, Umi," ucap Inay dengan bibir gemetar.


Abah dan Umi tersenyum lebar.


"kamu serius Inay, kamu sudah mantap menerimanya?"


"Inshaallah Abah, umi. Inay sudah mantap," jawab Inay dengan tegas.


"Alhamdulilah, kalau begitu nanti Abah akan panggilkan calon suamimu untuk bertemu denganmu."


Inay menggeleng.


"Tidak perlu Abah, Inay tidak ingin menemuinya."


"Kenapa? apa kamu tidak ingin tau bagaimana bentuk rupa calon suami mu?"


"Inay percaya sama Abah dan Umi bahwa pilihan Abah dan Umi adalah pria yang tepat untuk Inay."


"Apa kamu tidak takut jika calon suami mu itu buruk rupa Inay?"goda umi Husna.


Inay tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana pun rupanya inshaallah Inay akan menerimanya dengan ikhlas. Karena dia saja mau menerima kekurangan Inay yang tidak sempurna ini umi."


"Mashaallah Inay....!" Umi Husna memeluk Inay dengan mata berkaca kaca.


__ADS_2