
"Aku...aku tidak mempunyai sesuatu yang membuat Ustad Vano nyaman bersamaku suatu hari nanti. Dan aku juga...aku juga sulit, sangat sulit memberikan keturunan-"
"Ai." Potong Ustad Vano pada akhirnya.
Ai terdiam. Dia mengigit bibirnya gugup menunggu respon Ustad Vano. Dia sengaja mengatakan ini agar Ustad Vano memikirkan lagi perasaannya. Jika mau menerimanya maka...Ai akan sangat bahagia. Namun bagaimana bila tidak?
Ai rasa ini adalah hal yang wajar karena semua orang juga mempunyai kebutuhan biologis yang harus terpuaskan.
"Aku mencintaimu adalah bukti terkuat bahwa aku menerima segala kekurangan dan kelebihan mu. Bagiku kamu diciptakan oleh Allah dengan sangat spesial, kamu dicintai oleh Allah wahai Aishi Humaira. Jadi, bagaimana mungkin aku akan mempermasalahkan ketetapan yang sudah Allah berikan kepadamu? Tidak, Ai. Aku dan kamu tidak punya hak atas itu. Kita hanya perlu menjalaninya, melewati setiap cobaan yang Allah berikan kepada kita dengan berserah diri. Lagipula kamu adalah manusia yang Allah cintai Aishi, kamu adalah salah satu manusia terpilih di dunia ini. Jika kamu menerima semuanya dengan lapang dada maka Allah tidak akan ragu menghadiahkan surga kepadamu. Lalu mengenai bisa mempunyai keturunan atau tidak, sekali lagi itu bukan hak kita untuk menghakimi masa depan, Ai. Bila kita sudah berusaha dan menjalani semuanya dengan berserah diri maka cukup biarkan Allah yang memutuskan apakah kita bisa memilikinya atau tidak. Biarkan Allah yang memutuskan apakah kita bisa mengemban amanah itu atau tidak, terlepas apa yang dikatakan oleh dokter atau siapapun itu. Ingat Ai, jika Allah berkehendak maka apapun bisa terjadi. Ia kuasa atas segalanya dan kita hanya perlu menyerahkan semuanya kepada Allah. Apa kamu mengerti?" Ustad Vano dengan suara tegas bernada lembut berusaha meyakinkan Ai.
"Ustad Vano tidak keberatan?" Ai bertanya lagi, menahan isak tangis penuh kebahagiaan yang terus meluap-luap di dalam hatinya.
Betapa bahagianya ia malam ini ya Allah, betapa bahagianya ia. Tak pernah berani ia membayangkan akan datang hari penuh kebahagiaan ini. Bertemu dengan Ustad Vano, membicarakan masalah hati masing-masing di bawah cahaya redup rembulan, ini adalah malam yang sangat penting di dalam hidup Ai juga Ustad Vano.
Karena malam ini mereka bisa mengungkapkan perasaan masing-masing, dan karena malam ini pula semua keraguan Ai bagaikan ombak yang menyapu bersih pantai.
"Aku tidak keberatan Ai, selama itu adalah kamu, aku tidak akan pernah keberatan." Ustad Vano dengan mudah menjawab.
Ai tersenyum malu-malu, ia iseng bertanya,"Jadi, jika itu perempuan lain Ustad Vano akan mempermasalahkannya?"
Ustad Vano gemas dibuatnya, dia juga tidak bisa menahan senyuman ketidakberdayaan di wajahnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mempermasalahkan ketetapan Allah kepada perempuan lainnya yang beruntung mempunyai kelebihan seperti yang kamu punya. Hanya saja dia antara mereka semua, perempuan yang terlahir biasa atau pun berbeda, aku hanya akan memilih kamu, Aishi Humaira. Aku hanya menginginkan kamu."
Ustad Vano tidak pernah mempermasalahkan kelebihan Ai, dia tidak ragu sama sekali untuk mengatakan bahwa ia telah dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya oleh Ai. Jika tidak, lalu kenapa ia terus bertahan menunggu kedatangan Ai di sini?
Jika tidak, lalu kenapa dia sama sekali tidak goyah dengan setiap wanita yang datang menggoyahkan hatinya?
Jika tidak, lalu kenapa hati dan pikirannya hanya bisa digerakkan oleh Ai seorang?
Jawabannya sudah pasti karena ia sangat mencintai Ai. Karena rasa cintanya ini tanpa sadar ia telah menjadikan Ai sebagai dunianya. Dunia tempat rumahnya berada, menjadi satu-satunya tempat ternyaman untuk pulang, yaitu Aishi Humaira.
Ai kian malu, dia semakin menundukkan kepalanya dari pandangan Ustad Vano.
"Apa Ustad Vano tidak tahu?" Ia pikir semua tindakannya selama ini sudah terlalu jelas?
Ustad Vano mengulum senyum, bagaimana mungkin dia tidak tahu?
Hanya saja mendengarnya langsung dari mulut langsung Ai adalah hal yang lain. Memang, sebelumnya ia pernah mendengar pengakuan Ai di dalam masjid, namun bagi Ustad Vano itu juga dalam situasi yang berbeda. Itu adalah pengakuan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan pengakuan yang Ustad Vano inginkan sekarang adalah secara terang-terangan dan langsung.
Ia ingin mendapatkan pengakuan dari Ai, kekasihnya.
"Aku tidak tahu, karena itulah aku bertanya kepadamu." Dia berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Ai sangat malu.
"Itu," Ia sangat gugup!
"Laki-laki itu adalah... Ustad Vano." Pada akhirnya dia mengatakan isi hatinya.
Namun, Ustad Vano masih saja berpura-pura, kali ini ia berpura-pura tidak mendengar!
"Siapa? Bisakah kamu mengulanginya lagi?"
Ai tidak bisa mempercayainya! Dia sangat malu sekarang!
Mengatakan sekali saja sudah memerlukan banyak keberanian apalagi mengatakan untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi ketika mengingat suara lembut Ustad Vano mengungkapkan perasaannya tadi, Ai tiba-tiba berpikir bahwa dia tidak perlu lagi-lagi menutup-nutupi semuanya. Orang yang ia cintai juga mencintainya, dan nyatanya Allah telah mengabulkan doa-doanya.
"Ai, mencintai Ustad Vano." Kata Ai dengan suara yang mengalun lembut.
"Laki-laki yang telah lama Ai sukai adalah Ustad Vano sendiri, laki-laki yang membantu Ai mempercayai dunia kembali. Ustad," Ia mengangkat kepalanya menatap langsung wajah tampan Ustad Vano yang sedang tertegun menatapnya.
Ai tersenyum lembut, wajah cantiknya yang memerah dengan kedua mata persik yang basah, Ai sungguh sangat mempesona. Ustad Vano bahkan dibuat terdiam olehnya.
"Ai sangat mencintai Ustad Vano." Ungkap Ai tulus dari dalam hatinya.
__ADS_1