
"uncle....uncle geli...geli...ha ha ha."
Suara ricuh Al terdengar di luar kamar mandi. Kebetulan kamar mandi tidak jauh dari dapur. Anisa yang sedang memasak tersenyum mendengar kericuhan di kamar mandi. Ia tidak menyangka ternyata Youn seorang pria penyayang anak kecil.
Youn selesai memandikan Al. Lalu, menggendong balita itu keluar kamar mandi. Ia menoleh pada wanita yang sedang berdiri di wastafel.
"mama Anisa, dimana baju ganti Al?
Anisa melirik ke arah Youn dan tersenyum. Lalu, ia berjalan menghampirinya.
"Al sudah selesai mandi? heemm wangi sekali anak mama. Sini mama gendong," ucap Anisa dan hendak mengambil alih Al dari gendongan Youn.
"biar aku saja yang menggendongnya. Al berat dan tubuh mu kecil mana sanggup kamu menggendongnya," ledek Youn.
Anisa membulatkan matanya, ia kesal telah di ledek oleh Youn." biar kecil begini tapi aku memiliki tenaga yang kuat. Jangan meremehkan aku."
"benar kah? bagus itu, berarti kamu sudah siap jika suatu hari nanti harus memegang dan mengangkat tubuh yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuh Al," ucap Youn dengan senyuman penuh arti.
Anisa mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti maksud dari kalimat ambigu yang di lontarkan oleh pria bertumbuh tinggi besar dan tegap di hadapannya.
"sudah lah jangan becanda, kasihan Al kedinginan belum pakai baju,"ucap Anisa.
Kemudian mereka berjalan memasuki kamar Anisa. Youn meletak kan Al di atas kasur lalu ia ikut duduk di kasur tersebut. Anisa sibuk mencari baju ganti untuk Al di lemari dan setelah dapat ia menghampiri dua pria yang sedang duduk di atas kasur. kemudian, Anisa mulai memakaikan baju Al dengan teliti. Youn memperhatikan Anisa yang sedang fokus memakaikan baju ganti di tubuh Al dari samping. Ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu. Namun, Youn sadar bahwa Anisa merupakan wanita baik baik, tentu saja tidak bisa sembarang pria menyentuhnya kecuali suaminya sendiri, Youn tau itu. Youn hanya pria asing dan bukan siapa siapa Anisa. lagi pula Anisa masih istri sah pria lain.
"Sudah selesai sayang," ucap Anisa pada Al lalu mencium pipi gembul nya.
"anak mama ganteng banget sih," sambungnya lagi lalu menjewel hidung Al.
Youn tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak di hadapannya. Anisa menoleh pada pria yang sedang memperhatikannya.
"kenapa tidak pergi mandi?"
"aku...aku ingin di mandikan sama mama Anisa," ucap Youn sambil tersenyum nyengir.
Anisa membulatkan matanya mendengar jawaban nyeleneh Youn.
"ti tidak aku becanda saja." Youn menggaruk tengkuknya lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.
"Al main sendiri dulu ya nak?"
"Iya mama." Kemudian, Anisa menurunkan Al dari atas kasur lalu balita itu beranjak pergi mencari mainannya. Anisa mengambil handuk baru di dalam lemari dan mengambil sekantong kresek peralatan mandi yang telah ia beli tadi pagi.
Tok tok tok
Youn membuka pintu kamar mandi dan mendapati wanita mungil sedang berdiri menunduk sambil menyodorkan handuk serta sekantong peralatan mandi.
__ADS_1
"Ini handuk dan peralatan mandinya," ucap Anisa dengan pandangan masih ke arah bawah.
Youn tersenyum gemas melihatnya."kenapa menunduk? apa kau takut tertarik melihat tubuhku ini mama Anisa?"goda Youn.
"ish, cepat lah di ambil. Tanganku sudah pegal sekali."
"ha ha....tidak mau sebelum kau melihat ke arahku."
"ya sudah kalau tidak mau, aku simpan lagi saja." Anisa hendak pergi namun handuknya di cekal oleh Youn sontak saja membuat Anisa terperanjat kaget lalu melirik ke arah pria yang masih memakai bajunya dengan lengkap.
Anisa mendengus kesal."kamu mengerjai ku Youn."
Youn tersenyum lebar."Siapa yang mengerjai mu? kamu saja yang langsung berfikir jauh. Mestinya tanya terlebih dahulu apakah aku masih memakai baju atau sudah melepasnya? so.....!"
Anisa langsung meletakkan sekantong peralatan mandi di tangan Youn lalu ngeloyor pergi meninggalkan pria yang belum selesai berbicara dengannya. Youn menatap punggung wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar mama cantik yang aneh," gumam Youn lalu menutup kamar mandi.
Anisa menyuapi Al makan sambil bermain puzzle di lantai. Bu Nia menghampirinya.
"Sini mamah aja yang menyuapi Al, kamu siapkan sarapan untuk tuan Youn."
"biarin aja mah, dia cari makan sendiri aja di luar," ucap Anisa cuek.
"kok gitu sih Nis, dia itu tamu, harus di hormati. udah sana."
"Masak apa coba aku kan ngga tau dia biasanya sarapan apa? mana di kulkas ngga ada stok makanan lagi." Anisa bergumam tanpa ia sadari di belakang nya berdiri sosok tinggi besar sedang memperhatikan kebingungan Anisa.
"Aku suka makan nasi goreng mama Anisa," celetuk Youn tiba tiba. Anisa terperanjat kaget lalu melirik pada pria di belakangnya. Anisa yang hanya memiliki tinggi di bawah dada Youn harus mendongak lebih tinggi agar bisa melihat wajah pria tesebut.
"kamu bikin saya kaget saja."
"ha ha, maaf."
"ya...ya...sudah saya mau masak dulu. Kamu tunggu sebentar ya."
Anisa mulai sibuk memasak nasi goreng. Sementara Youn memperhatikannya di balik meja makan. Lima menit kemudian, nasi goreng toping telur mata sapi sudah siap di hidangkan. Kemudian, ia membawa satu piring nasi goreng tersebut ke meja makan dan meletakkan nya tepat di hadapan Youn.
"wow, it's look so delicious. I like it" ucap Youn dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Anisa hanya tersenyum tipis lalu ia berjalan untuk mengambil air minum. Setelah itu, air minum itu ia suguhkan di hadapan Youn.
"Terima masih mama cantik," goda Youn dengan senyum yang tak lepas dari bibir tipisnya.
"Sama sama," jawab Anisa lalu tersenyum tipis. Setelah itu, Anisa akan beranjak pergi namun tangannya di cekal oleh Youn. Anisa menatap pada tangannya yang di cekal, Youn yang menyadari bahwa Anisa tidak menyukainya segera melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Ma maaf saya tidak sengaja," ucap Youn merasa bersalah.
Anisa tidak marah, ia hanya tersenyum tipis.
"Silahkan di makan, mumpung masih hangat. soalnya kalau sudah dingin tidak enak di makan lagi," ucap Anisa tiba tiba.
"Oh, ya terima kasih. Tapi, apa kamu tidak sarapan?"
"Saya sudah sarapan bersama ibu saya tadi."
"Oh, begitu, baiklah."
Anisa beranjak pergi meninggalkan Youn sendiri di meja makan menuju dimana ibunya berada.
"lho Nis, apa kamu sudah membuatkan sarapan untuk tuan Youn?" tanya sang ibu yang sedang menemani Al main puzzle.
"Sudah."
"Terus sekarang dimana tuan Youn nya?"
"Di meja makan lagi makan."
"Kamu tinggalin sendiri?"
Anisa mengangguk lalu ikut duduk di lantai.
"Oala Nis,kenapa kamu di tinggal makan sendiri? ngga sopan kamu Nis sama tamu. Sana temani dia makan sampe selesai."
Anisa bangkit lagi, ia menuruti ibunya untuk menemani Youn makan di dapur.
Youn tersenyum melihat Anisa yang sedang berjalan ke arahnya. Tanpa bicara Anisa langsung duduk di samping Youn. Youn melirik pada wanita yang duduk di sampingnya.
"mau apa?" tanya Youn sengaja memulai pembicaraan.
"mau temani kamu makan," ucap anisa.
Seulas senyum tersungging di bibir Youn.
Anisa melirik pada gelas yang sudah kosong. kemudian ia beranjak mengambil teko kaca lalu menuangkan air di dalam teko tersebut ke dalam gelas Youn yang sudah kosong.
"terima kasih mama,"ucap Youn dan Anisa hanya tersenyum.
"Apa begini rasanya jika aku memiliki seorang istri dan anak nanti? dijahili anak ku ketika aku sedang tidur dan di layani istri ku seperti ini. Bahagia sekali rasanya jika memiliki keluarga kecil."
"kenapa tidak di habiskan, apa nasi gorengnya tidak enak?"tanya Anisa. Ia heran melihat Youn yang hanya mengaduk aduk nasi tanpa memakannya.
__ADS_1
Youn tersadar dari lamunannya." oh, tidak, maaf. ini enak sekali suer. saya habiskan ya."
Youn melanjutkan kembali makanya hingga nasi goreng tersebut habis tanpa sisa sebutir nasi pun di piringnya.