Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 24.7


__ADS_3

Wakil kepala sekolah tentu saja tidak akan menolak kebaikan Ali. Dia malah dengan antusias menganggukkan kepalanya karena selain mengungkap kasus ini juga bisa memperbaiki kembali cctv sekolah mereka.


"Terimakasih, Pak Ali. Kami akan sangat berterimakasih bila Pak Ali bersedia melakukannya."


Ali dan Safira puas. Mereka memutuskan untuk memanggil staf tersebut sampai akhirnya rekan laki-laki itu menghentikan Ali.


"Pak, biar aku saja yang mencobanya dulu. Bila aku juga tidak bisa maka kita tidak punya cara selain meminta bantuan staf Anda." Katanya sopan dan agak kaku.


Dia sudah melihat tingkah laku rekannya dan tahu bila laki-laki berkulit coklat ini sedang berbohong. Alasan apa laki-laki berkulit coklat itu membohongi mereka, dia tidak tahu. Yang penting lebih baik dia mengambil langkah penyelamatan sebelum mereka menemukan ada sesuatu yang salah di sini.


Hitung-hitung dia menyelamatkan pekerjaannya ini karena dia masih punya keluarga di rumah yang harus dihidupi.

__ADS_1


Ali menatap laki-laki itu sejenak, mengangguk ringan, dia mempersilakan laki-laki itu melakukan apapun yang dia bisa.


Sejujurnya, dia sangat menghargai orang yang jujur lebih dari apapun. Untuk laki-laki ini Ali diam-diam memikirkan sesuatu untuk membalas kejujurannya. Memang tidak sebaik dan sesempurna balasan dari Allah, namun setidaknya lebih baik memberikan daripada tidak sama sekali.


10 menit kemudian, laki-laki itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Rekaman cctv telah kembali seperti semula seolah tidak pernah rusak.


Laki-laki berkulit coklat itu jelas tampak lebih buruk lagi wajahnya. Orang mungkin tidak tahu apa yang dia pikirkan namun dari ekspresinya mereka tahu bahwa laki-laki sangat marah bercampur gelisah.


Pada awalnya tidak ada yang aneh dari rekaman itu sampai akhirnya Ali pergi meninggalkan kelas.


Anak-anak yang tadinya berkumpul di satu meja mendekati meja Ai. Mereka menari-nari di depan Ai, meneriakkan sesuatu di telinga Ai dan membuat ekspresi mengejek di depan meja Ai.

__ADS_1


Semua yang mereka lakukan tidak pernah direspon oleh Ai. Anak polos itu hanya duduk diam di bangkunya, menunduk untuk membaca majalah sekolahnya.


Untuk sementara waktu, Mega hanya diam di bangkunya tapi dari ekspresi wajah yang dia tampilkan mereka tahu bila Mega juga ikut mengipasi pembulian yang Ali dapatkan saat itu.


Melihat ini, Safira tidak bisa menahan amarahnya. Dia menatap tajam kedua orang tua Mega seolah-olah mengatakan, 'Apa-dia-anak-yang-kalian-sebut-polos?'


Kedua orang tua Mega tersenyum kaku. Diam-diam mereka menyumpahi anak mereka yang telah membuat masalah. Mereka pikir setelah kejadian ini Mega tidak akan mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan mudah lagi.


Lalu, guru akhirnya masuk untuk memulai pelajaran yang harusnya sangat menyenangkan untuk anak-anak karena kegiatan mereka adalah bernyanyi.


Tapi Ai terlihat tidak bahagia di sana, membuat Ali dan Safira kian tidak nyaman. Mereka tanpa sadar memeluk Ai untuk memberikan kehangatan, terkejut dengan pergerakan spontan masing-masing, ada suka dan duka yang terpancar di mata masing-masing.

__ADS_1


Kemudian waktu memasuki istirahat. Sebagian siswa keluar dan sebagian lagi diam di kelas untuk memakan bekal masing-masing, termasuk Ai.


__ADS_2