
"Bu, apa boleh saya membawa Norin pulang ke kota hari ini?" tanya Shin di sela sela sarapan pagi.
uhuk uhuk
Bu Aminah terbatuk mendengar permintaan pria bermata sipit yang baru semalam menjadi ke kasih anaknya. Ada rasa ketidak relaan menyelimuti hatinya. Mungkin jika yang meminta itu adalah suami sah anaknya, Bu Aminah tidak akan merasa keberatan karena yang meminta adalah pasangan halal anaknya. Tapi ini, hanya sepasang kekasih yang belum jelas tujuan hubungan yang entah mau di bawa ke mana.
Norin melirik pada ibunya yang terdiam, Norin mengerti kediaman ibunya tentu saja memikirkan masa depannya. Ia memegang punggung ibunya.
"Bu, Norin mengerti apa yang ibu pikirkan. Ibu ngga usah khawatir, Norin bisa jaga diri. Lagi pula beberapa bulan lagi Rizal akan lulus, dan tentu membutuhkan biaya yang banyak. Sementara tabungan Norin udah menipis Bu, Norin harus kerja lagi."
"maafin ibu ya Rin, mestinya kalian tanggung jawab ibu bukan kamu yang menanggung hidup kami sehingga kamu lupa sama kebahagiaan hidup kamu sendiri," ujar Bu Aminah sembari meneteskan air mata.
"maafin Rizal juga ya mba, Rizal selalu menyusahkan mba, selalu minta uang ke mba. Rizal janji setelah lulus nanti Rizal mau cari uang yang banyak buat ibu dan mba."
"hei, kenapa kalian pada bicara begitu? Bu, Norin ikhlas, Norin cuma minta di doakan aja, semoga selalu di beri kesehatan dan umur yang panjang agar tetap bisa terus mengabdi pada ibu. Dan kamu zal, mba ngga butuh balas budi dari kamu, yang mba inginkan adalah kamu belajar yang benar, agar kelak kamu bisa jadi orang yang sukses. Dan kesuksesan kamu itu, untuk diri kamu sendiri, untuk ibu serta untuk istri dan anakmu kelak."
"wanita ku benar benar memiliki hati yang tulus, bagai mana aku tidak bisa mengagumimu sayang." Shin bermonolog.
"ehem, sebenarnya saya juga tidak menginginkan Norin bekerja, biar saya saja yang menanggung hidupnya serta keluarga ini semua apa pun yang kalian mau akan saya penuhi." Shin tiba tiba ikut menyela.
Norin melirik pada pria yang tengah menguyah nasi goreng.
"jangan berlebihan tuan, saya tau uang tuan banyak dan tidak akan habis tujuh turunan. Selagi saya masih mampu bekerja saya tidak akan mau menyusahkan hidup orang lain."
"orang lain?hei, apa kamu lupa tadi malam kita sudah jadian dan sekarang kita adalah sepasang kekasih. Urusan mu serta urusan keluargamu adalah urusan ku juga begitu pula sebaliknya....do you understand?"
"sepasang kekasih yang ngga jelas mau dibawa kemana hubungannya?" Norin bergumam lirih.
"kamu bicara apa?"
"nothing, tuan lanjutkan saja makannya."
Shin menoleh pada Bu Aminah yang bengong melihat dua orang yang sedang berdebat di hadapannya.
"bagai mana Bu? apa boleh saya membawa Norin kembali ke kota? saya janji akan menjaganya dengan baik."
"oh ya....ya....sa..saya percayakan anak saya pada tuan Shin, tolong jaga dia dan.....jangan pernah sakiti anak saya !"
Shin tersenyum." iya Bu, saya janji tidak akan pernah menyakiti Norin."
Setelah itu, Norin berkemas kemas memasuk kan barang barangnya ke koper. Bu Aminah menghampiri anaknya yang sedang sibuk di kamarnya.
"apa ada yang bisa ibu bantu Rin?" tanya sang ibu yang baru saja masuk ke dalam kamar Norin.
"ngga ada Bu, udah selesai kok."
__ADS_1
Bu Aminah ikut duduk di ranjang kecil Norin." ibu kok rasanya berat ya melepas kamu, perasaan ibu ngga enak Rin!"
"ibu berfikir positif aja ya? ngga usah mikir yang macem macem."
"ya mudah mudahan aja cuma perasaan ibu aja ya."
Norin menutup kopernya." Norin mau ganti baju dulu ya Bu!"
"yaudah ibu nunggu di luar." Bu Aminah beranjak keluar kamar.
Norin dan Shin sudah bersiap untuk berangkat. Norin memeluk ibunya dengan erat." Norin pergi dulu ya Bu, ibu jangan nangis."
Bu Aminah menangis tersedu sedu." iya Rin, kamu jaga diri baik baik ya nak?"
"iya Bu, Norin akan jaga diri baik baik," ucap Norin sambil mengusap punggung ibunya.
Bu Aminah dan Rizal menatap kepergian mobil yang di tumpangi oleh Norin dengan berurai air mata.
Dari dalam mobil, Norin menatap ibu serta adiknya dengan air mata yang terus menetes ke pipi. Rasanya berat sekali meninggalkan mereka untuk kali ini.
Shin memegang tangan Norin lalu mengecupinya." jangan menangis, nanti jika libur kembali kamu bisa pulang lagi ke kampung ini."
Sepanjang jalan Norin terdiam, hanya Shin saja yang berceloteh. Hal hal tak penting pun ia bicarakan agar wanita itu mau tertawa dan menanggapinya. Namun, Norin tetap saja tidak banyak bicara.
Shin terbangun ketika hari sudah terlihat gelap."kita sudah sampai dimana ?"
"oh, bagus !" sepanjang jalan di cuekin Norin membuatnya memilih untuk tidur saja.
Shin menoleh pada wanita yang tengah tertidur melengkung." kasian sekali kamu, sepanjang jalan tidur seperti itu. let's go malam ini kita tidur di ranjang empuk." Shin menggendong Norin seperti koala.
Shin menidurkan tubuh ramping Norin di atas ranjang empuk miliknya. kemudian membuka sepatunya lalu membuka jilbabnya. Apa yang Shin lakukan padanya tetap tidak membuat Norin goyah dari tidurnya seperti tengah pingsan saja.
Shin merebahkan tubuhnya di samping Norin, ia menatap dalam pada wajah polos yang tengah bermimpi."apa kau tau kalau kita sudah berada di kamar kita berdua?kamar ini milikmu juga sayang." Shin mengecupi kepalanya bertubi tubi.
Lalu ia memeluk tubuh ramping itu dari samping." kau tau aku ingin seperti ini terus selamanya bersamamu." kemudian Shin ikut tertidur.
Norin menggeliat lalu mengejapkan matanya. pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan pria yang tengah ia tunggu pinangannya tapi tak kunjung jua pinangannya.
"kenapa menatapku seperti itu hem?" Shin bergumam tapi matanya masih tertutup.
"apa dia sedang ngelindur?"
Norin berusaha mengalihkan tangan yang melingkar di perutnya.
"jangan bergerak nanti adik kecilku bangun, apa kau mau bertanggung jawab jika dia bangun?" ucap Shin dengan mata masih tertutup.
__ADS_1
"sebenarnya tuan ini tidur beneran apa pura pura tidur sih?" Norin kesal.
"hm tidur."
"tidur kok ngomong." Norin kesal ia tarik saja hidungnya agar pria itu mau membuka matanya.
"awww..." pekik shin. Benar saja, ia membuka matanya.
Tapi, bukannya melepas tangannya dari perut Norin justru ia mempererat bahkan mengukungnya. Norin kelabakan, ia takut Shin berbuat berlebihan padanya. Tanpa ragu, Shin me lu mat bibir itu dengan rakus dan lama. Setelah merasa ke habisan nafas, Shin baru melepaskan pagutannya.
Shin menatap dalam mata bulat milik wanita yang tengah ia kungkung.
"mau lagi hem?" goda Shin, Norin diam saja ia merasa lidahnya kelu. Namun, Shin mendaratkan lagi bibirnya di kening lalu menjalar ke hidung pipi telinga membuat Norin merasa geli.
"tu..tuan hentikan please!"
Permintaan Norin tak ia hiraukan, Shin terus saja melakukan aksinya, menyapu telinga itu dengan lidahnya lalu turun ke leher jenjangnya. tak sampai berhenti di situ, Shin memberi ke cu pan ke cu pan lembut dan sesekali menyapu leher putih mulus itu tanpa henti seolah olah memberi kenikmatan pada sang pemilik leher jenjang tersebut. Norin menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara de sa han, ia malu sekali jika itu terjadi.
"tu..tu..ahh..hen..ahh...hentikan please!" ucap Norin lirih.
Shin tersenyum melihat Norin men de sah. Kemudian Shin menghentikan aksinya lalu menatap pada wajah yang tengah merona malu.
"kenapa ? bukan kah enak?"
Kemudian Norin menggigit kecil bahu Shin. "aww!" pekik Shin. dengan kasar Norin mendorong tubuh besar shin membuat pria itu berguling ke samping. Norin segera bangkit lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi Norin mengatur nafasnya."kenapa sekarang kamu jadi wanita murahan seperti ini Rin?" Norin menangis sesunggukan.
Dulu jangankan berciuman, berpegangan tangan pun Norin tidak pernah mau, sehingga mantan kekasih nya berpaling dan mengkhianatinya dengan alasan Norin wanita yang kaku dan sok suci. Padahal saat itu, Norin hanya ingin di halali terlebih dahulu. Janji hanya sekedar janji, bukannya menikahi Norin melainkan pria itu menghamili perempuan lain.
Norin membasuh wajahnya, menghilangkan sisa air mata.
"kamu menangis?" tiba tiba Shin nyelonong masuk ke kamar mandi. Namun, Norin mengabaikannya.
"maaf jika aku berbuat berlebihan padamu aku...!
"tuan, apa setiap pasangan kekasih yang belum terikat tali pernikahan itu berkewajiban untuk saling bersentuhan?" tanya Norin tiba tiba.
Shin terdiam."saya..saya....!"
"apa yang tuan harapkan dari hubungan ini? apa hanya sekedar agar bisa leluasa menyentuh tubuh saya?"
"sayang....saya...!"
"kenapa semua laki laki itu sama saja seperti tuan?"
__ADS_1
"ke..kenapa kamu berbicara seperti itu? jangan samakan saya dengan laki laki lain termasuk mantan kekasih brengsek mu itu. Menghamili wanita lain hanya karena tidak dapat menyentuhmu."
Norin terperangah."dari mana pria ini tau tentang masa laluku?"