Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 17.12)


__ADS_3

Untuk kali ini Mega tidak yakin akan menyanggupinya karena hatinya menolak membuat kedua orang tuanya ikut merasakan susah. Ia tidak ingin membebani hati kedua orang tuanya dan berpikir bahwa bila suatu hari ia mendapatkan sebuah masalah maka, ia dan suaminya akan melewatinya secara bersama-sama.


Papa kemudian beralih menatap wajah tampan Ustad Azam yang masih setia berdiri menunggu Mega di samping. Senyuman manis nan menenangkannya tidak pernah luntur dari wajah tampannya.


"Tolong jaga putriku." Ini adalah permohonan tulus dari seorang Ayah.


Ustad Azam dengan sigap menganggukkan kepalanya serius,"Istriku adalah hidupku, Pa. Tentu saja aku akan menjaganya sama seperti aku menjadi hidupku sendiri." Ucapnya berjanji.


Setelah itu Mega dan Ustad Azam mengucapkan salam kepada mereka sebelum masuk ke dalam mobil yang telah menunggu di depan.


Rencananya mereka akan tinggal beberapa hari di rumah keluarga Ustad Azam sebelum pindah ke rumah mereka. Soal tempat dimana rumah itu berada, Ustad Azam hanya mengatakan jika pada akhirnya dia juga akan tahu.


Canggung, suasana di dalam mobil terasa sangat canggung. Canggung bukan berarti ini tidak nyaman tapi canggung karena mereka tiba-tiba menjadi bingung harus melakukan apa setelah tinggal berdua saja di dalam mobil- tentunya masih ada supir pribadi Ustad Azam di depan yang memilih menjadi benda tidak terlihat dan bungkam.


Canggung, Ustad Azam diam-diam melirik istrinya yang kini sedang tertunduk malu di sampingnya. Malam ini, istrinya tampak lebih pemalu dari biasanya dan jujur, Ustad Azam tidak bisa berhenti berdecak kagum ketika melihat betapa cantiknya Mega dengan balutan gaun pengantin putih di tubuh rampingnya.


Berulangkali ia ingin mengatakan bahwa ia sangat terpesona dibuatnya akan tetapi berulangkali pula ia gagal mengatakannya. Entah karena terlalu banyak tamu yang datang ingin berbicara atau karena beberapa hal yang tidak bisa dihentikan, Ustad Azam akhirnya memutuskan untuk menyimpan dalam-dalam perasaan kagumnya ini setelah mereka benar-benar bebas berduaan.


"Apa kamu gugup?" Tanya Ustad Azam membuka pembicaraan diantara mereka berdua.


Mega mengerjap ringan, bibir merahnya sekali lagi membentuk garis senyuman di wajah cantiknya.


"Aku sangat gugup, Mas." Dia merubah panggilannya kepada Ustad Azam, terdengar canggung namun pada saat yang bersamaan juga manis.

__ADS_1


Ini menggelikan, tapi Ustad Azam suka dipanggil seintim ini oleh istrinya.


Malu, tangan besar nan kuat Ustad Azam perlahan terangkat ingin menyentuh tangan Mega. Ketika tangannya sudah ada di depan tangan Mega, muncul sebuah keraguan di dalam hatinya jika Mega menolak sentuhannya. Akan tetapi keraguan itu seketika menghilang ketika melihat rona merah di pipi istrinya.


"Mashaa Allah..." Bisiknya sekali lagi dibuat terpesona.


Lantas ia tidak menahan dirinya lagi tapi tidak langsung mengambil tangan Mega, ia khawatir Mega terkejut dengan gerakan tiba-tibanya.


Untuk itu, pertama-tama ia mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh ibu jari tangan Mega. Tertegun, Mega tanpa sadar menoleh ke arah ibu jarinya yang kini sedang disentuh oleh jari telunjuk Ustad Azam.


Malu, Mega tidak menarik ibu jarinya dan memilih untuk menundukkan kepalanya.


"Aku juga..." Karena Mega sudah tidak terkejut lagi, Ustad Azam perlahan meraih jari-jari Mega yang lain sehingga tangan Mega sepenuhnya ada di dalam genggaman tangannya yang besar.


"Sama gugupnya dengan dirimu. Ini adalah pengalaman pertama dan inshaa Allah akan menjadi pengalaman terakhir di dalam hidupku, jadi bagaimana mungkin aku tidak gugup?" Ujar Ustad Azam mengakui.


"Tapi rasanya ini sangat manis." Bisik Ustad Azam lagi-lagi membuat Mega salah tingkah dilanda sebuah perasaan malu.


"Ini... sungguh sangat manis, Mas." Bisik Mega mengakui dengan suara kecil yang sarat akan perasaan malu-malu.


🍃🍃🍃


Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Ustad Azam. Kedatangan mereka berdua langsung disambut hangat oleh keluarga besar Ustad Azam. Bahkan mereka tanpa sungkan-sungkan menculik Mega dari Ustad Azam, membuat Ustad Azam kelimpungan mencari sang istri yang dibawa entah kemana oleh keluarganya.

__ADS_1


Ekspresi panik Ustad Azam sontak mengundang godaan dari anggota keluarga yang lain. Mereka bersiul dan memberikan kata-kata godaan kepada Ustad Azam yang kini telah memerah kedua telinganya menahan malu.


"Mas Azam orangnya gak sabaran, ih! Baru ditinggal sebentar sama Mega aja paniknya udah kayak ditinggal pergi ke Arab Saudi." Salah satu sepupunya iseng menggoda.


Ustad Azam hanya bisa tersenyum, ia tidak membantah apa yang dikatakan oleh sepupunya karena memang benar ia benar-benar tidak tahan ditinggalkan oleh Mega- ekhem, atau lebih tepat panggil saja istrinya.


"Jangan diledekin dong, kasian pengantin baru kita udah kebelet masuk ke dalam kamarnya." Suara-suara dari sepupu yang lain ikut menggoda Ustad Azam yang kian malu saja.


Ustad Azam lagi-lagi hanya tersenyum sabar seraya menatap Papanya,"Jadi, dimana istriku, Pa?" Tanya Ustad Azam sudah merindukannya saja.


"Istri...cie yang udah punya istri aja..." Mereka berteriak heboh, mengundang gelak tawa semua orang di dalam rumah.


Tapi Ustad Azam tidak marah dan memilih mengabaikan semua sepupunya. Wajar saja ia mendapatkan serangan godaan seperti ini karena semua orang di keluarganya pasti ikut merasakan betapa bahagianya ia malam ini


Papa melambaikan tangannya kepada semua orang.


"Sudah... sudah, jangan digoda lagi. Kasian, malam pertamanya nanti tertunda." Bukannya menyelamatkan Ustad Azam dari godaan, tapi Papa malah ikut menggodanya.


Ustad Azam menggelengkan kepalanya malu, senyuman penuh rasa syukur dan kebahagiaan tidak pernah luntur dar wajahnya.


"Naiklah ke lantai dua karena Mama dan Bibi-bibi mu yang lain telah membawa istrimu ke dalam kamar pengantin kalian."


"Kamar pengantin, uhuii..." Lagi-lagi sepupu-sepupunya berteriak heboh.

__ADS_1


Ada tawa dimana-mana, menambah suasana yang awalnya manis menjadi kian manis. Manis untuk pasangan pengantin baru ataupun semua orang yang ada di rumah ini. Mereka turut berbahagia atas pernikahan Ustad Azam dan Mega.


"Aku akan menyusulnya ke atas." Ucap Ustad Azam kembali menarik godaan dari sepupu-sepupunya.


__ADS_2