Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 1.3)


__ADS_3

"Aishi Humaira?" Dia akhirnya dipanggil.


Ada panggilan untuknya dari dalam. Awalnya dia terkejut karena sempat berpikir namanya masih jauh apalagi melihat antrian di sini sangat panjang.


Dengan panik dia membawa tas punggungnya masuk ke dalam beserta dokumen masuknya. Dia menundukkan kepalanya malu karena diperhatikan banyak orang.


Di dalam sudah ada beberapa wanita duduk di meja yang sangat panjang. Di depan masing-masing wanita itu ada santri baru yang sedang di proses dokumennya. Kebetulan yang memanggil Ai adalah seorang wanita berkacamata yang duduk tepat menghadap pintu masuk.


"Silakan duduk." Ujar wanita berkacamata itu kepada Ai.


"Terimakasih, Bu." Ucap Ai sopan meskipun agak canggung.


Wanita berkacamata mata itu tersenyum ramah."Panggil saja saya Ustazah Nur. Hidup di pondok pesantren mungkin akan sedikit sulit tapi yakinlah di masa depan nanti kamu bisa merasakan manisnya tinggal di sini. Baiklah Aishi, mulai hari ini kamu harus membiasakan diri memanggil orang yang lebih tua atau guru kamu dengan sebutan Ustadzah atau Ustad." Dia lalu mengambil dokumen masuk Ai dan mencatatnya di sebuah buku tebal.


Ai diam mendengarkan dan mengangguk beberapa kali, sejujurnya dia tidak terlalu memikirkannya karena Ayah dan Bunda sudah mengajarinya di rumah bagaimana pola hidup di pondok pesantren. Dia memang takut tapi diam-diam sudah menyiapkan bekal dari pengalaman Ayah yang pernah sekolah di sini dan dari pengalaman Bunda yang pernah tinggal beberapa bulan di pondok.


"Baiklah, kamu sekarang sudah resmi terdaftar di pondok pesantren. Aishi Humaira, selamat datang di pondok pesantren Abu Hurairah. Saya harap kamu bisa cepat beradaptasi dan belajar dengan nyaman." Ucapnya ramah sembari mengembalikan dokumen masuk Ai.


Ai mengambilnya dengan sopan pula seraya membalas senyuman Ustadzah Nur dengan ramah.


"Terimakasih, Ustazah."


"Ya, sekarang bawa dokumen ini kepada Ustad Vano." Katanya seraya menunjuk punggung lurus dan tegap di ujung lorong.


"Setelah memberikannya dokumen Ustad Vano akan memberikan mu sebuah kartu santri pondok pesantren kita. Jadi setelah mendapatkan kartu itu tolong di simpan baik-baik dan jangan sampai dihilangkan." Katanya memberi arahan.


Ai sekali lagi menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah mengucapkan terimakasih kepada Ustazah Nur, dia lalu membawa tas punggungnya berjalan menuju Ustad Vano yang sudah dipenuhi antrian dari santri baru sama seperti dirinya.


Di samping Ustad Vano ada beberapa laki-laki yang Ai tebak mereka mungkin juga Ustad. Sama seperti Ustad Vano, Ustad-ustad yang lain juga dipenuhi antrian dari santri baru. Hanya saja karena Ustazah Nur memintanya berdiri di antrian Ustad Vano maka Ai akan berdiri di barisan itu.


"Vano.." Mendengar nama ini membuatnya teringat pada sosok anak laki-laki yang telah berjanji akan menemui dan menemaninya bermain. Akan tetapi, sudah 12 tahun berlalu namun Vano tidak pernah datang kembali mencarinya.

__ADS_1


Hah..


Ai tidak tahu mengapa dia sebodoh ini mengharapkan laki-laki yang mungkin sudah lama melupakannya.


"Aishi Humaira?" Ada panggilan dari seseorang. Suaranya berat pasti milik laki-laki, hanya saja..


Deg


Jantungnya mulai berdegup kencang.


Suara ini?


"Aishi Humaira, tolong berikan dokumen masuk kamu." Suara ini meskipun sudah lama tidak dia mendengarnya lagi dan meskipun sudah mengalami banyak perubahan karena usia, tapi dia masih bisa mengenalnya.


Samar.


Perlahan dia memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap langsung pada pemilik kaki jenjang nan tegap yang ada di depannya kini.


"Kak Vano?"


Wajah muda dan kekanak-kanakan itu kini telah berubah menjadi dewasa dan tampan tanpa ada garis-garis kekanak-kanakan lagi.


12 tahun,


Sudah 12 tahun mereka tidak pernah bertemu tapi Ai tidak pernah sekalipun merupakan wajah dan warna suaranya dari dalam ingatan.


"Tolong jaga pandangan kamu. Ini pondok pesantren bukan dunia bebas di luar sana. Di sini kita punya peraturan sendiri dan harus kamu taati begitu resmi menjadi santri di sini. Terakhir, bersikaplah sopan kepada orang yang lebih tua dari kamu. Panggil mereka Ustad atau Ustazah untuk menghormati mereka. Selain daripada itu, kamu akan dianggap tidak menghormati mereka." Suaranya dingin, bahkan sorot mata tajamnya tampak terganggu saat melihat Ai.


Suara dingin Ustad Vano lantas menarik perhatian Ustad-ustad yang lain. Bahkan para santri yang sedang registrasi pun tidak bisa tidak menatap ke arah Ai.


Semuanya menjadi tegang sekaligus canggung. Tidak ada yang berbicara atau memberikan komentar apapun tapi dari sorot mata mereka, Ai tahu dia sedang di cemooh, mungkin.

__ADS_1


"Maaf..maaf, Ustad. Aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan." Ai lantas menundukkan kepalanya.


Dia menatap kedua tangannya yang sudah merah karena saling meremat. Kedua matanya menjadi sendu, menyembunyikan rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Dia.. tidak mengenalku. Dia sudah lama melupakan ku, atau mungkin dia..dia dulu tidak pernah mengenali ku sebagai perempuan. Batinnya sedih.


Ustad Vano tidak mengatakan apa-apa lagi namun sorot matanya jauh lebih dingin dari sebelumnya. Membuat para santri baru berteriak-teriak di dalam hati mereka karena semakin terpesona dengan aura tampan nan dingin Ustad Vano.


"Tolong berikan dokumen masuk mu." Pintanya lagi.


Ai segera memberikan map biru yang ada di dalam pelukannya kepada Ustad Vano tanpa berani melihat wajahnya lagi. Dia sangat takut dan hatinya pun sesak.


Ustad Vano mengambil dokumen masuk Ai. Mengecap kan stempel pondok pesantren di atas kertas putih identitas Ai yang ada di dalam map biru dan menaruhnya di atas tumpukan dokumen masuk santri baru di atas meja.


"Ini adalah kartu tanda pengenal dari pondok pesantren. Harap di simpan baik-baik karena jika dihilangkan pondok pesantren akan memberikan sebuah hukuman."


"Terimakasih, Ustad." Ai menerimanya dengan sopan.


"Baiklah, santri selanjutnya." Panggil Ustad Vano kepada santri di belakang Ai.


Ai menggigit bibirnya malu. Dengan susah payah dia membawa tas punggungnya berjalan ke depan. Jujur, Ai tidak punya fisik yang kuat dan dia mudah jatuh sakit. Sekalipun Bunda dan Ayah sering berkonsultasi ke dokter tentang kekuatan fisiknya yang lemah, rumah sakit tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.


Mereka bilang ini adalah struktur tubuh Ai sejak dalam kandungan, dengan kata lain Allah menciptakannya dalam keadaan begini maka mereka manusia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya.


Rutin makan vitamin dan makanan sehat serta olahraga teratur adalah satu-satunya solusi untuk Ai. Agar ketahanan tubuhnya tetap terjaga.


"Tunggu," Panggil Ustad Vano menghentikan langkah ringan Ai.


Bersambung..


Hem..

__ADS_1



Yang mau baca silakan baca di Go*dN*vel, tapi masih belum masuk app karena belum kontrak. Untuk sementara baca di google dulu🤭


__ADS_2