Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.7)


__ADS_3

Frida tidak mau menegurnya atau menyapanya jadi dia ingin langsung pergi. Akan tetapi lagi-lagi langkahnya tertahan ketika mendengar Tiara mengatakan kata-kata yang sejujurnya cukup aneh keluar dari mulut Tiara yang biasanya selalu bersikap lembut.


"Jadi, perempuan itu cacat. Dia lahir tidak normal. Hem..." Tiara tampak memikirkan sesuatu.


"Aku bisa menggunakan masalah ini-"


"Tiara, ayo kembali ke asrama. Ustad Azam meminta kita semua untuk segera pulang." Suara seseorang mengintrupsi ucapan Tiara.


Frida tidak bisa mendengar ucapan Tiara selanjutnya namun ia tahu jika Tiara pasti sedang merencanakan sesuatu. Rencana apa yang Tiara pikirkan ia tidak tahu pastinya namun Frida berjanji tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Untuk semua keburukan yang telah aku lakukan kepadanya..." Bisiknya entah kepada siapa.


Besoknya, Frida diam-diam mengikuti Tiara ke ruang medis setelah sholat subuh. Hari itu ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri jika Tiara masuk ke dalam ruang medis dengan sebuah kunci cadangan yang entah dia dapatkan darimana.


Tiara menggeledah laci dokter, mengambil map biru yang Frida yakini sebagai laporan kesehatan Ai. Karena semalam ia sempat melihat Ustad Vano memegang map biru itu.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Tiara lalu pergi dengan hati-hati. Mengunci pintu ruang medis setelah memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya kemudian pergi dengan santai tanpa menyadari jika Frida masih ada di tempat.

__ADS_1


"Aku akan berbicara dengan dokter."


Flash Back Off


Frida mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu dengan ******* lega dihati, akhirnya hari ini datang juga. Untung saja saat itu dokter mau bekerjasama dengannya, berpura-pura tidak kehilangan hasil laporan kesehatan Ai sehingga Tiara bisa melancarkan aksinya dengan tenang.


"Ini adalah rekaman cctv milik ruang medis. Rekaman ini disimpan sendiri dan langsung oleh dokter pondok pesantren kami. Tante, Om, Pak Kyai,  Umi, dan semua orang bisa melihatnya rekaman ini tanpa perlu mendengar pembelaan siapapun karena jawabannya sudah ada di dalam." Frida kemudian memberikan flashdisk itu kepada Sasa untuk yang entah sejak kapan sudah siap dengan sebuah laptop.


Sebenarnya, saat melihat kedatangan kedua orang tua Ai tadi, Frida bisa menebak jika masalah ini menjadi sangat serius bahkan sampai melibatkan polisi karena pencemaran nama baik. Oleh karena itu, ia sempat berbisik di telinga Sasa, memintanya mengambil laptop atau menyiapkan laptop. Sasa jelas bingung tapi tetap memenuhi keinginannya.


Saat keluar tadi ia meminta staf pondok pesantren membawa laptop ke ruang tamu untuk memenuhi keinginan Frida.


Dia melupakan hal yang sangat penting! Ia pikir ruang medis tidak memiliki cctv karena tempat itu menurutnya cukup privasi.


"Apa kamu baik-baik saja?" Almaira melihat keadaan Tiara tidak baik-baik saja.


Tangannya bergetar dan bahkan wajahnya menjadi pucat pasi.

__ADS_1


"Aku agak pusing. Aku ingin beristirahat sebentar saja di asrama." Katanya memang merasa linglung tapi dia tetap tidak bisa melepaskan sandiwaranya.


"Aku akan mengantarmu." Almaira berinisiatif membawa Tiara kembali tapi segera dihentikan oleh suara dingin Safira.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini sebelum masalah selesai." Ucap Safira dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.


Almaira terkejut. Dia segera mengurungkan niatnya membawa Tiara pergi.


Tapi Tiara masih memerankan perannya di depan Safira.


"Tante, aku... sangat-"


"Kamu hanya ketakutan saja dan bukan sakit, bukankah aku benar?" Potong Safira kembali menarik perhatian orang-orang.


Mereka memperhatikan Tiara, menilai apakah yang dikatakan Safira tadi benar atau tidak.


"Bagaimana mungkin?" Tiara jelas terkejut.

__ADS_1


Safira tersenyum,"Ketika seseorang sedang takut atau gelisah, bola mata mereka cenderung menatap tidak fokus ke sembarang arah. Selain itu, mereka berkedip lebih sering daripada saat sedang normal, dan terakhir, jari-jari mereka akan terasa dingin saling meremat untuk menahan gugup. Kamu menunjukkan semua ciri-ciri yang aku sebutkan tadi, wajahmu menjadi pucat pasi karena kamu tahu jika kesalahan mu akan terbongkar. Bola matamu bergerak tidak fokus dan banyak berkedip karena kepalamu mengirimkan sinyal jika saat ini kamu berada di jalan buntu, kamu tidak bisa keluar dari masalah yang kamu ciptakan sendiri. Lalu yang terakhir, kedua tangan mu saat ini sedang saling meremat karena kamu ingin segera keluar dari tempat ini. Artinya, kamu tahu sudah tidak punya jalan lagi dan satu-satunya jalan yang bisa kepalamu berikan saat ini adalah segera melarikan diri dari tempat ini, bukankah semua yang ku katakan ini benar dan sedang kamu rasakan sekarang?"


Tiara tertegun. Dia tiba-tiba merasa sangat ketakutan menghadapi Safira. Wanita ini... wanita ini seolah bisa membaca pikirannya. Mengintip rahasia tergelap yang coba ia sembunyikan dari siapapun. Wanita ini terlalu mengerikan!


__ADS_2