
Ai sangat gelisah sekarang. Ada ketakutan di dalam hatinya. Maka tanpa menunggu lama Ai langsung berlari menuju ranjangnya. Mengangkat tas punggung yang sudah tidak asing untuknya ke atas kasur. Sejujurnya, tidak ada yang berubah dengan posisi resletingnya tapi kecemasan di hatinya tidak segera menghilang.
"Ada apa?" Asri dan tiga lainnya mengikuti Ai ke kasurnya. Mereka mengelilingi Ai dengan ekspresi penasaran ingin melihat isi tas anak orang kaya yang ada di depan mereka.
Mereka langsung tahu dalam sekali lihat dari tas dan kopernya jika Ai adalah anak orang kaya. Apalagi jika melihat beberapa kantong plastik putih besar yang berbaris rapi di samping koper Ai, iti adalah kemewahan yang tidak dimiliki anak-anak lain termasuk mereka.
Meskipun yah, mereka bukan orang yang miskin tapi juga bukan orang kaya. Mereka bisa dibilang kaum menengah yang hidup berkecukupan dan tidak kekurangan. Tapi untuk memiliki bekal sebanyak ini, kedua orang tua mereka tidak sampai melakukannya.
Itu karena mereka tahu, ini terlalu banyak dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sekolah di pondok pesantren ini saja sudah menghabiskan banyak biaya jadi mereka tidak terlalu menuntut membawa banyak uang ketika tinggal di sini.
"Tidak, tidak apa-apa." Kata Ai dengan jantung berdebar mulai membuka tas punggungnya. Menarik resleting tasnya sampai menampilkan beberapa barang Ai yang masih tersusun rapi seperti semula dan tidak tersentuh.
"Alhamdulillah.." Bisiknya seraya meraba-raba isi tasnya, semuanya masih sama seperti semula.
Artinya Ustad Vano belum pernah membukanya. Tapi ada sesuatu yang aneh pikir Ai ketika melihat ada beberapa tambahan barang di dalam tasnya.
Dia mengeluarkan kotak-kotak mini dari merek perusahaan kesehatan tertentu. Ada warna putih, hijau, kuning, dan merah. Mereka adalah sekumpulan vitamin yang biasanya Ai minum di rumah. Tapi, Ai ingat sudah memasukkan beberapa kotak vitamin yang Bunda dan Ayah belikan semalam ke dalam koper.
"Apa aku salah menaruhnya?" Bingung Ai sambil menatap 4 kotak minim vitamin yang masih baru dan tersegel rapi tidak pernah dibuka.
"Atau mungkin Bunda yang memindahkannya ke dalam tasku?" Dia menebak asal. Tapi jika Bunda melakukannya maka pasti sebelum berangkat tadi dia sudah memberitahu Ai.
__ADS_1
Bingung, dia lalu berpindah duduk jongkok di lantai. Membuka kopernya untuk memastikan ingatannya semalam. Tapi ketika dia membuka kopernya dia semakin bingung melihat kotak-kotak yang dia taruh semalam masih ada di tempatnya semula. Dan yang lebih mengejutkan adalah Ai baru menyadari jika kotak vitamin yang ada di dalam kopernya lebih kecil daripada yang ada di dalam tasnya. Tidak hanya itu saja, kotak vitamin yang ada di dalam kopernya terdiri dari warna merah, kuning, biru, dan orange. Berbeda dua warna dan ukuran, Ai menjadi lebih heran.
"Masha Allah, sepertinya orang tua kamu sangat memperhatikan kesehatan kamu selama tinggal di sini. Mereka membelikan kamu banyak sekali vitamin, aku jadi iri." Sari ikut berjongkok di samping Ai dan menyentuh dua kotak vitamin yang ada di depannya dengan tatapan kagum sekaligus iri.
Iri tapi bukan berarti ada niat buruk di dalam hatinya.
"Tapi kenapa orang tua kamu membeli vitamin sebanyak ini? Em, tidak. Aku rasa mereka membelinya di dua apotik yang berbeda." Kata Sulastri langsung mengalihkan perhatian Ai.
"Di dua apotik yang berbeda? Kamu tahu darimana?" Tanya Ai penasaran.
Sulastri mengambil salah satu kotak vitamin yang ada di tas dan di koper Ai. Dia menunjukkan dua stempel kecil berbeda di samping kotak masing-masing. Sekilas, orang pikir itu adalah kode produksi dan kadaluarsa tapi jika diperhatikan lebih dekat maka akan tampak nama apotik di sebuah rumah sakit besar kota ini.
"Orang tuamu membeli vitamin ini di apotik rumah sakit H," Katanya seraya menunjuk kotak vitamin yang agak besar.
"Apa kalian tadi menyempatkan diri turun di depan apotik rumah sakit H?" Kata Sulastri bertanya santai.
Orang kaya memang aneh. Pikirnya.
Dia bertanya-tanya apakah di kota Ai sudah kehabisan stok vitamin sampai harus menyempatkan diri membeli di kota ini?
Meskipun yah, ini tidak ada salahnya.
__ADS_1
Sementara itu, Ai masih belum bersuara setelah mendengarkan jawaban Sulastri tadi. Apotik rumah sakit H?
Tidak, mereka tidak hanya tidak melewatinya tapi mereka sepanjang jalan tidak pernah turun atau singgah. Mereka berjalan lurus dan tidak pernah berhenti kecuali terjadi kemacetan di jalan.
"Apotik rumah sakit H?" Dia bangun dari duduknya dan mengambil kotak vitamin di dalam tasnya. Dia melihat tulisan hitam nan samar di samping kotak dan benar-benar menemukan seperti apa yang Sulastri katakan.
Pikirannya segera berselancar, memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dia pikirkan.
"Tidak, tidak mungkin. Dia tidak mungkin melakukan itu.." Bisiknya membantah tapi hatinya diam-diam berharap.
"Apa yang kamu katakan." Tanya Herlina yang sedari tadi diam.
Ai segera menggelengkan kepalanya, untuk sementara pikirannya teralihkan oleh masalah vitamin ini dan dia melupakan tentang foto yang selalu membuat hatinya gelisah.
Dia lupa, tapi tidak benar-benar melupakannya.
"Makanan ini.." Ai juga ingat tidak membawanya ke sini dan dia juga ingat jika kedua orang tuanya tidak pernah membeli makanan sebanyak ini. Karena Bunda dan Ayah bilang pondok pesantren sangat ketat. Di sana tidak ada kekurangan maupun kelebihan makanan.
Jadi Ai pikir makanan-makanan ini sebaiknya dia bagikan kepada teman-teman kamarnya. Urusan siapa yang membeli Ai akan bertanya langsung kepada kedua orang tuanya nanti.
"Makanan ini bagikan saja kepada yang lain. Ini terlalu banyak dan aku juga tidak bisa menghabiskannya." Kata Ai jujur.
__ADS_1
Dia tidak terlalu suka makanan ringan.