Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 4.6)


__ADS_3

Mereka berenam juga melihatnya tapi tidak ada yang berbicara. Namun Ai tentu saja berbeda. Di sepanjang jalan dia beberapa kali mengintip ke arah mereka, melihat mereka berdiri di bawah cahaya lampu dengan suasana yang aneh.


Ai cemburu tapi hanya bisa menyimpannya di dalam hati.


Apalagi ketika dia melihat senyum malu-malu dari gadis itu yang diwarnai oleh wajah merah merona kian membuat Ai kecewa kepada dirinya sendiri.


"Mereka terlihat sangat serasi." Bisik Ai seraya mengalihkan perhatiannya menatap tanah.


Sudahlah, dia tidak berani lagi mengintip mereka. Untuk menenangkan sesak di dalam hatinya dia memilih untuk menundukkan kepalanya menatap jalan setapak. Dia juga menyesalkan dirinya yang lebih memilih berjalan di posisi yang paling pinggir. Karena jika seperti ini Ustad Vano akan melihatnya-ah, lebih tepatnya Ai bisa melihat mereka dengan jelas!


Lain kali aku harus berjalan di tengah-tengah!. Dia memperingatkan dirinya sendiri.


Ai terus saja menundukkan kepalanya tidak berani mengintip sampai akhirnya mereka memberi salam kepada Ustad Vano sebelum melewatinya masuk ke dalam halaman rumah Pak Kyai.


"Semua akan baik-baik saja."


Deg


Jantung Ai langsung berdebar kencang. Ini.. adalah suara Ustad Vano. Sama seperti di masjid tadi siang, suara Ustad Vano malam ini juga bergema di dalam telinganya. Seolah-olah Ustad Vano sengaja mengucapkan tepat di samping telinga Ai.


Telinga Ai saat ini rasanya sangat panas. Panasnya bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuat lutut Ai terasa lemas dan pandangannya menjadi linglung.


"Astagfirullah, Ai hati-hati! Apa kepalamu bermasalah lagi?"

__ADS_1


Dan ya, untuk yang kedua kalinya dia salah mengambil langkah dan hampir terjatuh! Tapi untung saja ada Mega yang langsung menahannya atau jika tidak dia akan sangat malu!


"Tidak, kepalaku baik-baik saja!" Bantahnya dengan wajah yang semakin memerah.


Kedua tangannya yang tertutupi kain jilbab panjang bergerak menyentuh dada datarnya. Dia menundukkan kepalanya semakin dalam, merasakan suara debaran jantung yang menyebarkan rasa manis tidak tertahankan ke seluruh tubuhnya.


Ya Allah, apa tadi aku tidak salah dengar?


Ustad Vano, apakah dia mengatakan itu untuk menghibur ku?


Jika benar, mungkinkah dia sudah mengingat siapa aku?


Astagfirullah, itu tidak mungkin! Ustad Vano dulu berpikir aku adalah laki-laki jadi bagaimana mungkin dia mengingat ku sebagai perempuan. Adapun kata-kata yang ku dengar tadi..aku masih belum bisa menebaknya. Batin Ai segera membantah.


Dia tidak tahu apa alasannya namun yang pasti saat ini hatinya sangat senang.


Tiara lalu tersenyum tipis, dia menahan rindunya dalam diam dan kembali fokus ke depan.


"Assalamualaikum, Umi?" Sasa memberikan salam dengan suara lembut dan sopan.


Di dalam, seorang wanita paruh baya cantik keluar dengan sebuah senyuman hangatnya yang menenangkan. Dia mempersilakan mereka berenam masuk dan menutup pintu rapat untuk menghalangi mereka dari pandangan laki-laki diluar sana.


Kebetulan Pak kiyai ada di rumah sehingga banyak kaum laki-laki yang bersilahturahmi dan berbagi ilmu. Biasanya yang akan memenuhi rumah adalah santriwati yang ingin berbagi ilmu dengan Umi. Hanya saja karena sekarang ada Pak Kyai dengan tamunya mereka tidak diizinkan datang.

__ADS_1


Sebelum pintu tertutup Ai memberanikan diri untuk melihat ke arah gerbang untuk melihat keberadaan Ustad Vano. Tapi Ustad Vano sudah pergi entah kemana menyisakan gadis itu yang kini beralih bercakap-cakap dengan seorang wanita paruh baya.


Ai kecewa tapi pada saat yang bersamaan dia bersyukur Ustad Vano akhirnya menjauh dari gadis itu.


Di dalam kebingungan dia bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan mereka.


"Pak Kyai sudah mengatakannya kepadaku tadi. Dia bilang ada 4 orang santri baru yang bertengkar di dalam asrama. Bolehkah Umi tahu siapa 4 santri itu?" Umi sebenarnya tahu kecuali Sasa dan Tiara, yang lain adalah santri baru. Hanya saja dia sengaja melakukannya agar mereka mengakuinya secara pribadi.


"Maaf Umi, yang bertengkar hanya kami bertiga dan dia tidak ikut." Kata Mega sambil menunjuk Ai.


Asri yang sudah mengabdikan diri sebagai pengikut Mega langsung bersuara juga, menyetujui apa yang dikatakannya karena memang faktanya Ai tidak ikut.


"Dia benar, Umi. Ai tidak ikut dalam pertengkaran dan dia di sana hanya ingin melerai kami." Kata Asri dengan suara sopan dan selembut mungkin.


Suara cemprengnya yang nyaring menguap entah kemana.


Sari hanya mendengus ringan. Dia tidak bisa membantah karena akar masalahnya sendiri dimulai dari dia dan Mega, sedangkan Ai selalu berusaha melerai mereka.


Umi mengangguk ringan,"Maka bisakah kalian menjelaskan kepadaku kenapa kalian bertiga bertengkar?"


Bersambung..


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya. Maaf saya jarang bisa balas komen karena bisa Update aja itu lumayan...yah..menguras wkwkwkw..

__ADS_1


Oh ya, kira-kira ada yang tahu gak siapa nama laki-laki yang ada di samping Ustad Vano?


Kalau ada yang bisa nebak saya kabulin deh up banyak chapter 🍁


__ADS_2